728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 25 Mei 2017

    Badut-badut Politik Bermunculan, Setelah JK Buka Borok, Hari Ini Zulkifli Hasan Buka Koreng. Agama Jangan Dipolitisasi!

    Pahlawan bertopeng badut itu pada akhirnya satu persatu muncul bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Orang-orang yang dulu diam dan menikmati cara kasar nan jorok menjijikkan dengan melakukan politisasi agama di masjid dan melakukan intimidasi agat memilih pemimpin muslim, pada akhirnya menyerukan agar tidak melakukan politisasi agama.

    Setelah sebelumnya JK selaku wapres dan Ketua DMI mengeluarkan edaran agar masjid (baca di sini)  tidak dipakai untuk kegiatan kampanye, kali ini Ketua MPR sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional menyerukan agar agama tidak dijadikan sebagai alat politisasi.

        “Tidak boleh memakai agama sebagai politisasi menyerang satu sama lain. Pilkada Jakarta kemaren itu kebablasan, karena itu melampaui batas. Untungnya Indonesia punya Pancasila.” Zulkifli Hasan (Sumber)

    Saya sungguh muak membaca pernyataan orang satu ini. Seolah-olah rakyat itu bodoh semua. Seolah-olah kami ini tidak ingat apa yang telah dia perbuat di Pilkada Jakarta lalu! Bapak satu ini bilang pilkada kemarin kebablasan, siapa pihak yang kebablasan yang dimaksud? Bukankah dia selama ini ada di pihak yang menggunakan agama sebagai alat untuk menjatuhkan Ahok?

    Untuk melawan lupa, di putaran pertama Pilkada Zulkifli dengan PAN bersama dengan PPP dan PKB merapat ke Cikeas untuk mendukung Agus-Silvi yang diduga sebagai inisiator awal dari pergerakan dan aksi massa 411 & 212 lewat fatwa pesanan dari SBY.

    Setelah Agus-Silvi tersungkur di putaran kedua ketika PPP serta PKB balik badan mendukung Ahok, PAN ternyata tetap konsisten untuk melawan Ahok dengan bergabung dengan Anies-Sandi. PAN seperti juga JK tetap diam membatu, menikmati politisasi ayat serta mayat untuk menjungkalkan Ahok.

    Zulkifli di acara Sosialisasi 4 Pilar MPR di Aula Gubernuran Sulut, Jalan Sonder Remboken, Manado, Rabu (24/5/2017) yang dihadiri anggota dan alumni resimen mahasiswa itu menyebut nilai Pancasila juga harus dijadikan pandangan hidup. Perbedaan tak boleh dikatakan hal yang melemahkan, tapi harus dijadikan kekuatan dan dijadikan perilaku.

        “Bersedia bersatu untuk kemerdekaan Indonesia. Ini toleransi yang luar biasa, kalau kita masih ribut soal suku, soal agama, mundur saja sebagai bangsa. Jangan lagi suku, agama menjadi masalah,” kata Zulkifli.

        “Perilaku seperti apa? Tidak boleh siapa pun melarang menjalankan agama. Perbedaan bukan sebagai kelemahan tapi satu kekuatan,” ujarnya. nilai toleransi, Zulkifli juga menekankan nilai nasionalisme yang terdapat pada sila ke-3. Nilai tersebut menurutnya masih belum diimplementasikan secara menyeluruh. “Sila ke-3 masih jauh, saya berpendapat kita belum berhasil mengimplementasikan Pancasila ini,” katanya.

    Zulkifli seolah lupa, bagaimana bisa mengimplementasikan Pancasila sehingga sila ke-3 Persatuan Indonesia bisa terwujud jika dia bersama kelompoknya justru merangkul pihak-pihak penentang Pancasila seperti FUI, HTI, FPI untuk bersama-sama melawan Ahok. Bagaimana bisa menyatukan rakyat Indonesia jika ormas-ormas penyebar kebencian terhadap orang kafir dan tidak sealiran dengan mereka serta ormas pembenci demokrasi ini justru malah dirangkul?

    Persatuan Indonesia hanya bisa terwujud jika semua elemen bangsa saling menghargai satu sama lain, satu rasa sebagai orang Indonesia dalam bingkai bhinneka tunggal ika, saling menghormati perbedaan suku, agama, ras dan memiliki hak serta kewajiban yang sama sesuai Pancasila dan UUD 1945. Persatuan Indonesia tidak akan pernah terwujud jika selalu ada jurang pemisah antara mayoritas dan minoritas, antara ras pribumi dan keturunan antara agama mayoritas dengan agam minoritas.

    Lalu kemana saja orang yang dianggap tokoh penting dan punya nama di belantika perpolitikan Indonesia ini kemarin pada waktu Pilkada DKI? Apa yang telah kalian perbuat untuk menjaga persatuan Indonesia dan mencegah politisasi agama? Nothing!! Semuanya diam, tiarap bahkan dalam senyap merekalah yang justru menghancurkan persatuan itu dengan memecah belah sesama anak bangsa hanya karena berbeda dalam memilih calon gubernur.

    Merekalah yang justru punya andil membuat bangsa ini tercerai berai dan terpolariasi hanya karena ada calon dari kalangan minoritas dan beragama non muslim yang maju sebagai calon pempin di DKI Jakarta. Dan calon itu adalah Ahok! Iya,  hanya kepada Ahok mereka melakukan segala cara licik untuk menjungkalkannya, tidak kepada calon lainnya, walaupun di daerah lain juga ada calon pemimpin yang berasal dari kalangan minoritas.

    Mereka seolah-olah hendak menegaskan hanya Ahok seorang yang boleh diperlakukan beda. Ahok boleh dan halal untuk di kasari,  boleh diserang sisi primordialnya, boleh diancam, boleh diapapun juga yang penting Ahok tumbang!

    Pernyataan saya tidak megada-ada! Kalau ada yang bilang Ahok wajar diperlakukan seperti itu karena sikap Ahok yang kasar dan tidak layak sebagai pemimpin dan Ahok telah melukai hati umat muslim karena dianggap menista kitab suci, itu semua bullshit belaka! Hanya akal-akalan politisi busuk dan lawan-lawan Ahok yang terus mengolahnya, menggoreng di sana sini sehingga publik terutama umat muslim yang logikanya terpelintir ikut terpengaruh membenci Ahok.

    Ahok memang kasar tapi kasarnya Ahok ditujukkan kepada oknum maling, begal, garong yang hendak mengakali uang rakyat. Ahok kasar dan keras kepada oknum politisi busuk yang memakai agama dan kitab suci untuk kepntingan politik. Dan ketika Ahok berani menyentil oknum tersebut dan menyinggung kitab suci,  Booom….!! Ahok dibakar dan diledakkan, dihancurkan sampai dengan titik nadirnya, lengser sebagai gubernur dan hidup dibalik jeruji penjara.

    Nah, badut-badut inilah yang akhirnya muncul, menyeru kembali ke Pancasila, menyeru rekonsiliasi, menyeru untuk bersatu dan menyeru berhenti mempolitisasi agama, berhenti melakukan kampanye di Masjid. Karena apa!? Karena Ahok sudah kalah, Ahok sudah tamat, Ahok sudah habis.  Kalau Ahok masih ada, mustahil rasanya seruan-seruan itu akan keluar dari mulut mereka.

        Wahai para badut, STOP dan sudahi semua akrobat busuk kalian. Kami sudah muak!

    Begitulah Badut-badut,





    Penulis :   Aliems Suryanto    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Badut-badut Politik Bermunculan, Setelah JK Buka Borok, Hari Ini Zulkifli Hasan Buka Koreng. Agama Jangan Dipolitisasi! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top