728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 24 Mei 2017

    Ahok Memilih Bersabar dan Menjalani, Rizieq Bersembunyi dalam Pelarian

    Pejuang sejati tidak semata dilahirkan namun melewati proses yang terjal dan curam, banyak orang pintar di negeri ini yang bermental rusak oleh kerakusan korupsi, hanya segelintir berjuang dengan tulus dan  ikhlas untuk diwariskan nilai-nilai kebaikan bagi generasi penerus kelak. Yang menyangkal bahwa kebesaran hati seorang Ahok sebagai seorang pejabat pelayan publik, adalah lawan politik yang jelas bermental korup yang hanya bermodalkan agama untuk dipermainkan dalam politik meraih kekuasaan semata.

    Pilkada DKI yang diwarnai permainan SARA dan berhasilnya teror agama dimainkan dan berakhirnya kekalahan di para pemilih waras yang ada di kubu Ahok, adalah sangat efektifnya  intimidasi politik SARA bukan dikarenakan penduduk DKI yang bodoh namun karena terlalu busuknya para politisi yang memainkan isu tersebut. Melanggar etika dan segala kepatutan yang ada di masyarakat, membongkar semua akidah-akidah ke Islaman untuk memenangkan kontestasi, sementara penduduk DKI dengan kewarasannya hanya mengelus dada dan sambil berharap bahwa gelombang kafir mengkafirkan dan nista menistakan tersebut segera berakhir.

    Kebaikan penduduk DKI semakin hari semakin dimanfaatkan oleh mereka yang tidak hanya rusak akal sehatnya oleh korupsi dan kekuasaan semata, namun permainan isu agama semakin diteruskan dengan maraknya demo-demo dan takbir disana sini seakan krisis otak sehatnya untuk beragumentasi yang waras sehingga diperlukan lontaran seruan agama agar pendengar dan audiens segera “miring” otaknya  dan mengiyakan setiap apa yang dilontarkan oleh para orator atau penyaji tersebut.

    Ahok yang berproses dengan memilih garis perjuangan yang terjal yang semata untuk kebaikan bukan hanya untuk generasi sekarang namun untuk mewariskan nilai-nilai kepada generasi penerus seakan mendapat terjangan badai isu SARA. Ahok harus mendekam didalam penjara atas sesuatu tindakan yang dinyatakan bersalah  dan diputuskan oleh pengadilan yang dilanda oleh aksi ancaman pecahnya keutuhan NKRI dengan hantaman isu menggeser ideology Pancasila yang digaungkan oleh aksi masa tersebut. Kini Ahok mendekam didalam sempitnya ruangan penjara dengan segala kebesaran hatinya menerima proses peradilan tersebut dengan satu tujuan agar masyarakat dapat mengambil pelajaran yang berharga dan menjaga keutuhan NKRI.

    Disaat yang bersamaan berbeda dengan tokoh yang dianggap ulama oleh sebagian pengikutnya dengan mengatas namakan pemimpin umat seluruh Indonesia yang kini terjerat beberapa kasus dan melarikan diri dengan segala macam alasan yang terus menerus digaungkan dari kriminalisasi, penembakan dan kini adanya ancaman dari “pasukan” mereka yang akan mengeksekusi siapapun yang turut sepaham dalam “memerangi” pemimpin mereka tersebut. Ah teror lagi teror lagi…., penduduk DKI yang dahulu hanya mengelus dada dan berharap ini semua agar cepat berlalu kini sudah memasuki fase pendewasaan dimana ternyata gelombang tersebut tidak akan surut dan perlu peran aktif penolakan terhadap setiap gerakan intoleran, anarkisme dan radikalisme.

    Ternyata pemimpin mereka sang tokoh berjubah dan berkedok ulama tersebut kini melarikan diri bersembunyi entah dimana dan mengambil sikap untuk mengalah dengan prasangka dan rasa takut dan mengasingkan diri memutuskan meninggalkan para pendukungnya dengan alibi untuk keselamatannya, bersembunyi dalam pelariannya.

    Melalui proses diwaktu yang sama boleh saja, namun keputusan untuk mengambil sikap yang tepat akan melahirkan seseorang menjadi pemimpin yang sejati. Ahok dan HRS boleh saja mengalami masa yang sama namun sikap yang diambil jelaslah berbeda, Ahok dengan besar hati menerima dan menjalani proses untuk kebaikan umat dan keutuhan NKRI sementara Rizieq memilih untuk untuk bersembunyi dalam pelariannya dan meninggalkan para pendukungnya semata berdalih keselamatan dirinya.

    Besarnya ambisi memenangkan kontestasi politik untuk meraih kekuasaan, entah apakah itu dari golongan onta, bumi datar ataukah dari dinasti Cendana/Orba yang semakin hari semakin menggila mengusung permusuhan dan teror untuk memenangkan kendali atas rasa takut tersebut sehingga masyarakat dapat ditundukkan dan mengalah sehingga kembali menyerahkan kekuasaan tersebut kepada golongan “perampok” kekayaan sumber daya alam di Indonesia. Silent majority kini tengah menggeliat dan terusik dengan segala ulah ketidakwarasan para pemain politik kotor tersebut. Ahok tampil bukan sekedar menjadi icon anti korupsi namun kini Ahok adalah symbol perlawanan damai terhadap segala golongan tidak waras yang kerap mengusung teror dan isu SARA.

    Kebhinekaan, NKRI dan Pancasila harga mati !

    Penulis :  dudi akbar.   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Memilih Bersabar dan Menjalani, Rizieq Bersembunyi dalam Pelarian Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top