728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 15 Mei 2017

    Ahok Kandidat Kuat Penerima Penghargaan Nobel 2017 Bidang Perdamaian

    Tak bisa dibantah dan disangkal, Ahok adalah tokoh paling mendunia saat ini. Saat masih menjabat Gubernur Jakarta, ia tak pernah sepi dari pemberitaan. Kata dan kalimat yang terucap dari mulutnya ditunggu dan diburu jadi berita.

    Namanya kian semerbak harum dan mendunia ketika ia diperlakukan tidak adil. Vonis 2 tahun terhadap dirinya sangat kental politisasi agama, tekanan massa dan sarat dendam politik. Inilah yang membuat dunia internasional turut bereaksi dan memberi komentar.

    Perserikatan Bangsa Bangsa, Badan-Badan di Eropa dan beberapa negara sahabat, baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah mengkritisi dan meminta agar Ahok di bebaskan.

    Tuntutan JPU 1 tahun dan vonis Majelis Hakim 2  tahun yang berbeda terhadap Ahok membuat masyarakat Indonesia bahkan dunia marah, akibat Majelis Hakim mengeluarkan keputusan yang tidak sesuai permintaan JPU, tapi hakim mengabulkan keinginan Rizieq Cs dan tekanan kaum intoleran.

    “Putusan hakim atas Ahok bisa membuat posisi Indonesia sebagai pemimpin di kawasan berada dalam bahaya dan meningkatkan keprihatinan tentang masa depan Indonesia sebagai masyarakat yang terbuka, toleran dan beragam, “ kata ASEAN Parliamentarians for Human Rights (APHR).

    Charles Santiago, ketua APHR, menyatakan bahwa putusan hakim bisa semakin memberanikan kelompok-kelompok garis keras, dan membuat pasal-pasal penistaan agama dalam undang-undang hukum pidana Indonesia semakin dipertanyakan.

    Usman Hamid, Direktur Amnesty Internasional Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia memiliki konsep demokrasi yang dipandang baik di Asia Tenggara kini telah tercoreng dengan kasus Ahok.

    Menyikapi putusan hakim terhadap Ahok, Dubes Amerika Serikat Joseph Donovan mengatakan,” Kami tidak mendukung kekerasan pada kelompok agama apapun tapi kami tidak percaya bahwa akan menjadi ilegal jika mengutarakan pendapat atau opini mengenai agama tertentu.”

    Hendardi, ketua SETARA Institute mengatakan bahwa vonis 2 tahun penjara kepada Ahok merupakan kasus penodaan agama ke-97 yang terjadi sepanjang tahun 1965-2017.

    Ironisnya 89 kasus justru terjadi pasca reformasi 1998, sebagai akibat bahaya pasal karet 156a KUHP yang bias dan multi tafsir.

    Pasal karet 156a KUHP tampaknya cukup mudah disematkan kepada seseorang yang tidak disenangi untuk menghadapi resiko dituduh dan mendapatkan vonis hukuman sesuai pesanan.

    Putusan hakim terhadap kasus Ahok yang “masuk angin” membuat toleransi beragama dipertaruhkan, dan ke depan bisa mempersulit kelompok minoritas mencalonkan diri.  Dalam kasus Ahok misalnya, hakim dalam putusannya mempermasalahkan judul pledoi kuasa hukum Ahok, yang berjudul, “Bhinneka Tunggal Ika.” Mungkin Ahok akan divonis  bebas oleh hakim jika pledoinya diberi judul Khilafah.

    Ketegasan, keberanian, kejujuran dan ketulusan Ahok melayani masyarakat, itu yang mendatangkan simpati dan empati kepadanya. Saat divonis 2 tahun yang kental dengan politisasi membuat masyarakat terkejut, heran dan tak percaya.  Vonis yang tidak memenuhi rasa keadilan tersebut mengindikasikan bahawa independensi hakim goyah oleh tekanan mafia.

    Aksi solidaritas dari berbagai kota di Indonesia bahkan dunia Internasional berdatangan tanpa diundang. Kasus yang dialami Ahok adalah tumor dalam politik Indonesia. Politik identitas (agama) yang tertutup dan sudah almarhum pada abad  XX mau dihidupkan kembali pada abad XXI  di era yang terbuka dan modern ini.

    Sehubungan dengan kasus yang dialami Ahok, jangan menciptakan hal yang salah dalam sejarah. Pelanggaran HAM warga sipil di Timor Timur (kini Timor Leste) adalah salah satu contohnya. Pelanggaran HAM berat itu mendapat sorotan dunia internasional. Carlos Filipe Ximenes Belo dan Jose Ramos-Horta pada tahun 1996 tanpa diduga mendapat penghargaan Nobel di bidang Perdamaian.


    Tekanan demi tekanan terhadap Ahok, mulai dari Pilkada hingga vonisnya yang tidak adil  jangan menjadi hal yang salah dalam sejarah, yang terus  dikenang  dan tak bisa dihapus. Maraknya sorotan dunia internasional terhadap kasus Ahok bisa menjadi signal bahwa Ahok layak mendapat hadiah Nobel perdamaian sebagaimana Carlos Filipe Ximenes Belo dan Jose Ramos-Horta.

    Ahok adalah simbol Bhinneka Tunggal Ika, dari banyak menjadi satu. Sebagai pemimpin non-Muslim, ia menjadi target kelompok intoleran, yang terus mengancam dan berusaha menjatuhkannya. Mereka tidak hanya masyarakat awam yang berteriak-teriak di jalanan, tapi juga ada di eksekutif, legislatif dan yudikatif.  Namun Ahok tetap berjuang melawan ketidakadilan dan korupsi, dan membangun Jakarta sebagai ibukota NKRI menjadi kota yang maju dan lebih baik bagi warganya.

    Stasiun TV Al-Jazeera, 31 Januari 2017, mewawancai Ahok mengenai rencana pencalonannya sebagai salah satu nominator penerima hadiah Nobel bidang Perdamaian tahun 2017.  Ahok menanggapinya bahwa dirinya masih junior. Menurutnya masih  banyak yang lebih layak menerima Nobel bidang Perdamaian dibanding dirinya. Ia menyebut nama Safii Maarif, Gus Dur, dan Megawati Soekarno Putri, namun ia menghargai kalau ada yang menominasikan dirinya. Ia bangga kalau dari Indonesia ada nominasi penerima penghargaan Nobel.

    Ahok memang tidak menginginkan dan memimpikan mendapatkan penghargaan Nobel. Karena itu bukan tujuannya.  Tujuannya adalah agar Jakarta menjadi sejajar dengan kota-kota di dunia. Namun jika penghargaan Nobel datang, itu adalah penghargaan bagi bangsa Indonesia.

    Benar Ahok masih junior, tapi nama dan keberaniannya yang mendunia melawan korupsi , taat hukum,  dan menenangkan pendukungnya dari balik jeruji ruang tahanan, bisa saja Ahok dianggap layak menerima hadiah Nobel. Malala Yousafzai, asal Pakistan, pada tahun 2014 usianya baru 17 tahun saat ia menerima penghargaan Nobel bidang Perdamaian. Malala, adalah seorang siswa dan aktivis pendidikan, merupakan penerima Nobel termuda.


    Penulis : Solemanmontori Soleman   Sumber : Seword. com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Kandidat Kuat Penerima Penghargaan Nobel 2017 Bidang Perdamaian Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top