728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 19 Mei 2017

    Aaaaaaah Sayaaaaang Pengeeeeeen, Sebuah Telaah Multitafsir

    Apa yang pertama kali kita pikirkan ketika kita membaca judul artikel ini? Mungkin “maaf” beberapa pembaca akan menyimpulkan bahwa tulisan ini nantinya akan berhubungan erat dengan pornografi, atau bisa juga berpikir bahwa tulisan ini nanti setidaknya tidak akan jauh dengan pornoaksi

    Sebagian pembaca juga akan berpikir dengan melihat gambar utama artikel ini akan menyimpulkan bahwa tulisan ini sedikit banyak akan menguak peristiwa chat seks Rizieq Shibab dan Firza Husein yang sudah mulai mendapatkan titik terang. Kenapa? Karena pihak Firza Husein sudah ditetapkan sebagai tersangka, baca berita lengkapnya di sini. Ditambah lagi kesaksian oleh sosok Kak Ema yang semakin membuat masalah ini semakin terbuka dan menemui titik terang.

    Tapi mohon maaf, artikel ini sedikitpun tidak ada hubungannya dengan Rizieq Shihab maupun Firza Husein. Artikel ini justru berhubungan erat dengan surat Al-Maidah, kasus 212-414-55, bertebaran bunga untuk Ahok di balai kota, begitu banyak orang menyalakan lilin untuk Ahok dari berbagai pelosok negeri hingga yang berada dari luar negeri. Kasus ini begitu besar hingga menjadi perhatian dunia international, bahkan ada kesan bahwa international memberikan sedikit ‘intervensi’ pada kasus ini karena Ahok dianggap sebagai pejuang keadilan dan pejuang kemanusiaan yang tidak layak untuk dipenjarakan. Kasus ini semakin gaduh ketika pemerintah mengeluarkan statement melalui konferensi pers tentang pembubaran salah satu ormas islam di Indonesia yang sangat berkaitan dengan aksi 212 dan 414 yakni HTI. Ormas yang dikenal menolak pemimpin non muslim, menolak sistem demokrasi.

    Semua kegaduhan yang terjadi ini hanya berawal dari 2 kata yakni “Surat Al-Maidah”
    Sebelumnya saya ingin memberikan gambaran kepada para pembaca tentang penjelasan judul di atas, jadi begini: judul di atas terjadi 2 hari yang lalu tepatnya di kolam lele saya. Begini ceritanya:

    Iwan    : Sayang, aku lagi dikolam lele punya Dani nih. Seru banget ternyata ngasih makan ikan lele. Ikannya kalau dikasih makan langsung berkerumun mengabiskan makanannya, berlomba-lomba mendapatkan makanan.
    Peni     : Ahhhhhh Sayaaaaaaaaang, pengeeeeeeeeeeeeen.

    Iwan ini adalah salah satu kawan baik saya, kebetulan kemarin main ke rumah dan melihat saya memberi makan ikan lele. Dia memberitahu Peni “istrinya” dan ternyata itu responnya.

    Apa pelajaran yang kita dapatkan dari peristiwa ini?
    1. Semua ucapan seseorang itu selalu berbentuk teks, dan teks ini bisa dibaca oleh kemampuan pikiran dan bibir.
    2. Semua ucapan manusia merupakan sumber informasi yang selalu terikat dengan konteks yang terkait.
    3. Orang yang menerima informasi juga terikat dengan konteks kediriannya, karena semua manusia memiliki peluang untuk multitafsir dalam menafsirkan sebuah informasi.
    4. Orang yang mendapatkan informasi terikat kontekstual yang berpotensi bagi dia untuk menafsirkan informasi yang dia dapatkan secara umum ataupun secara khusus.

    Tentunya hal ini menjadi pembelajaran yang sangat penting bagi kita semua. Karena kita tahu bahwa:
    1. Surat Al-Maidah secara umum diucapkan pada kurang lebih 1400 yang lalu, pasti memiliki keterikatan konteks peristiwanya
    2. Seorang Ahok sebagai pengucap surat itu juga memiliki keterikatan terhadap dirinya, masa lalunya, pengalamannya, track recordnya pada surat Al-Maidah
    3. Seorang Ahok ketika mengucap surat itu di kepulauan seribu tentunya terikat juga bahwa dia menyampaikan program, tujuannya agar masyarakat menerima program tanpa ada rasa takut ketika Ahok tidak terpilih kemudian program tersebut berhenti,

    Saya bukanlah ahli tafsir, bukan juga ulama yang sangat hebat dalam menafsirkan ayat suci. Saya hanya petani desa biasa. Namun sebagai muslim (maaf tidak bermaksud SARA) tentunya kita harus berpikir, memahami apa maksud Allah menurunkan Al-Maidah, ada peristiwa apa saat itu,. Kemudian kita harus berpikir kenapa Ahok sampai mengucap kata itu di Kepulauan Seribu? Karena tidak mungkin Ahok asal menyingung kata Al-Maidah tanpa peristiwa yang menyertainya? Apa benar Ahok menista Al-Maidah? Apa benar Ahok menista ulama?
    Kenapa Buni Yani menambahi satu provokasi salam tulisannya? Kenapa MUI begitu cepat dan gegabah mengeluarkan fatwa? Apa motiv MUI gegabah mengeluarkan statement itu? Apa motiv Buni Yani memberikan kata provokasi dalam tulisannya? Kenapa proses tersangka Ahok begitu cepat? Kenapa aksi yang dilakukan begitu masiff? Yakin ini tidak berhubungan dengan Pilkada DKI dan makar kepada Presiden terpilih Jokowi? Dan tentunya masih banyak pertanyaan lain yang harus kita bedah untuk kita pahami satu-persatu.

    Jika semua umat muslim mampu berpikir seperti itu, berpikir obyektif, tidak tekstual, sabar dalam mencari inti masalah  tentunya tidak perlu terjadi aksi besar-besaran kepada Ahok, tentunya tidak akan terjadi kegaduhan di negeri ini yang membahayakan stabilitas nasional.
    Sama seperti judul di atas, kalau kita mencari tahu sumber informasinya, memahami teks-konteks peritiwanya, menganalisa kata-perkata tentunya kita akan memahami bahwa kata “ Ahhhhh Sayaaaaaaag Pengeeeeeeeeen” tidak selalu berkaitan erat dengan seks atau pornografi, karena ternyata Peni cuma ‘pengen’ memberi makan lele yang katanya seru. Dan judul yang berhubungan dengan gambar utama (Rizieq-Firza) juga tidak selalu membahas tentang chat seks yang begitu mengguncang akhir-akhir ini.

    Muslim harus cerdas, manusia modern harus cerdas, bangsa yang cerdas akan selalu melahirkan generasi yang cerdas.

    Salam, Ayo Cerdas.



    Penulis : Mukhlas Prima Wardani   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Aaaaaaah Sayaaaaang Pengeeeeeen, Sebuah Telaah Multitafsir Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top