728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 05 April 2017

    Zakir Naik Pesawat, MUI Naik Agama, Jokowi Naik Politik, Wartawan Naik Judul

    Objektif itu penting. Sekarang terlalu banyak tanggapan media yang sangat subjektif. Terhadap Agamawan Zakir Naik, Tafsir MUI dan pernyataan Presiden Jokowi.

    Dengan mengesampingkan Judul-judul media, saya terpaksa meneliti apa sebenarnya kalimat yang diucapkan mereka semua itu.

    Dalam kunjungannya ke Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/03) lalu, Presiden berpendapat terjadi benturan dalam pemilihan kepala daerah yang seharusnya dihindarkan dengan tidak mencampur-adukkan politik dan agama.

        “Saya hanya ingin titip ini mumpung pas di Sumatera Utara, ingin mengingatkan semuanya bahwa bangsa kita terdiri dari macam-macam suku dan agama, bermacam-macam ras,”

    Presiden menyebutkan bahwa Indonesia terdiri atas 714 suku dan 1.100 bahasa daerah. Itu menjadi ke-aneka-ragaman bangsa yang harus terus ditanamkan kepada masyarakat.

        “Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik,” kata Jokowi.

    Kata-kata Presiden itu menjadi hangat dan dibenturkan dengan pandangan para tokoh, tidak terkecuali Zakir Naik yang diberitakan telah ikut serta menanggapi; “Apakah Islam terpisahkan dengan pemerintahan? Kata yang tepat adalah gaya hidup yang lengkap. Islam tidak hanya mengajarkan cara salat dan puasa, itu juga membahas seluruh aspek pendidikan termasuk memerintah sebuah negara,” kata Zakir Naik saat bertemu Ketua MPR, Zulkifli Hasan, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (31/3/2017).

    Banyak juga yang kemudian menganalisa-perkataan-jokowi-dan-zakir-naik-terkait-agama-dan-politik

    Kemudian sebagian media juga membenturkan pernyataan Jokowi itu dengan Ketua MUI- KH Maruf Amin, yang mengatakan bahwa ‘agama dan politik saling mempengaruhi’ dan menambahkan bahwa, “Politik kebangsaan itu juga harus mendapat pembenaran dari agama. Kalau tidak, bagaimana? Mungkin yang dimaksud presiden itu paham-paham yang bertabrakan, sehingga menimbulkan masalah.”

    Mahya Lengka menghangatkan tanggapan itu dengan judul jokowi-pisahkan-agama-dari-politik-maruf-amin-jangan-pisahkan.

    Pernyataan Ma’ruf Amin itu nyatanya bukanlah membantah, tetapi menafsirkan apa yang dimaksudkan Presiden. Dan tafsirannya itu bisa diterima dan tidak berseberangan dengan makna ucapan Jokowi di Tapanuli.

    Buktinya Ma’ruf Amin juga menambahkan, “Menurut pemahaman saya, beliau (Presiden) mengatakan ada pemahaman agama yang radikal dan destruktif sehingga dapat terjadi hal-hal yang bertentangan dan keresahan di masyarakat,”  Nah itu kan jelas.

    Lain halnya dengan Igor Dirgantara yang mengaku tidak sepakat dengan pendapat Presiden Jokowi. Katanya “Semua agama pada dasarnya baik, oknumnya yang mungkin bermasalah,”

    Oleh karena itu, kata Igor, nilai-nilai agama harus menyinari kehidupan berbangsa dan bernegara kita. “Itu sebabnya sila 1 ideologi Pancasila menyebut Ketuhanan Yang Maha Esa, yang juga disebut dalam pembukaan UUD 45.” paparnya kepada SindoNews Selasa (28/3/2017).‎

    Dari sekian banyak tanggapan di media, hanya segelintir saja yang jeli seperti Rey Nald dalam mendeteksi salah tafsir maksud Presiden dan menyikapi-secara-bijak-pernyataan-presiden-jokowi-pisahkan-agama-dan-politik.

    Ketua MPR Zulkifli Hasan menafsirkan hampir senada dengan Ma’ruf Amin juga; “Saya kira bapak Presiden itu bicara soal politik dan agama dalam konteks apakah itu Pilkada DKI ya,”

    Sampai disini suatu pertanyaan masih menanti jawaban: Apakah Politik harus dipisahkan dari Agama?

    Saya jadi terlintas pada suatu hubungan sepasang suami istri. Si suami itu sibuk di luar mencari nafkah. Pikirannya terkuras soal strategi kerja dan bagaimana untung dalam dagang atau berkarya yang menghasilkan. Sementara si istri sibuk membenahi rumah, menyediakan makan, dan mengasuh anak. Energi dan pikirannya terkuras untuk membina rumah tangga dan mensejahterakan keluarga. Suami senang kala pulang ke rumah melihat keluarganya utuh bersatu dan bahagia dengan menemukan kedamaian dan ketentraman dalam rumah bersama istri dan anak-anak tercinta.

    Adakala keduanya sama-sama bekerja keras di luar untuk mensupport pendidikan anak-anaknya nanti. Kadang terjadi efek samping negatif kalau anak-anaknya tidak mendapat perhatian yang cukup. Tetapi semua bisa saja berjalan mulus. Namun adakala hubungan antara suami istri itu tidak harmonis. Baik itu karena kedua karakter yang tidak cocok atau mendapat kecocokan hanya saat saling menunggangi satu sama lain saja. Tiada kedamaian dalam keluarga. Berpisah susah bersatu malah pecah. Maka rakyatlah (eh anak-anaklah) yang kasihan.

    Sebelum memutuskan dipisah atau tidak, mungkin ada baiknya kita pelajari dan tanyakan dahulu: Bisakah agama dan politik dipisahkan? Jika tidak, maka bisakah kedua bersatu secara harmonis?

    Mungkin Para Raja di Arab, Para Pendeta di Vatikan, Para Biksu di Tibet dan Para Mullah di Iran mempunyai jawaban.



    Penulis :   SHAH  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Zakir Naik Pesawat, MUI Naik Agama, Jokowi Naik Politik, Wartawan Naik Judul Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top