728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 03 April 2017

    Yang Mengkhianati Dasar Negara Tidak Pantas Jadi Pemimpin

    Spanduk seperti ini beberapa kali pernah saya lihat selintas di jalan. Lebih sering lagi terlihat diunggah di media sosial oleh banyak orang yang mengambil gambarnya di berbagai tempat. Di spanduk itu jelas ada gambar salah satu pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta sehingga salahkah jika kemudian berkembang spekulasi di masyarakat bahwa Jakarta Bersyariah adalah sesuatu hal yang akan diwujudkan jika pasangan tersebut terpilih?

    Saya sih nggak yakin juga sebetulnya kalau dua orang yang fotonya ada di spanduk tersebut berkeinginan menegakkan Jakarta Bersyariah dari dalam dirinya sendiri. Namun entah kalau itu adalah keinginan organisasi masyarakat atau partai yang menjadi pendukung mereka. Di spanduk itu saja disebutkan beberapa nama ormas yang kita sudah tahu track recordnya seperti apa. Bukan rahasia lagi jika ormas dan partai itu orientasinya ingin menegakkan khilafah di Republik Indonesia.

    Beragam demo berkedok bela agama dan bela ulama digelar. Sementara tindak tanduk mereka sendiri hanya pilih-pilih dalam menghormati ulama. Ulama yang sanad keilmuannya jelas akan dimusuhi jika pendapatnya berlawanan. Beragam teror dilayangkan, bahkan jenazah pun turut diusik. Melupakan kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain. Wifi Al Maidah diangkat jadi masalah sementara sabun dan roti malah diberi merk tersebut. Ayat-ayat ditafsirkan bebas, yang mereka mau itulah yang benar. Tidak ada pendapat lain yang mau didengar. Lucunya meski berlagak agamis, namun seruannya suka terdengar kasar dan jauh dari kesan Islami. Sedihnya pula anak-anak turut menjadi bagian eksploitasi mereka. Anak-anak itu harusnya di sekolah belajar yang benar biar pintar dan tidak termakan hasutan yang merusak dan bermain bersosialisasi bersama teman-temannya bukan ikut aksi ini itu.
    .

    Pasangan calon itu mungkin akan terus berkelit dan mengatakan itu bukan mereka yang memasang ataupun program tersebut tidak ada dalam visi misi mereka. Kalau begitu kenapa tidak berani secara tegas mengatakan hal tersebut di depan? Tentu jika mereka berani lantang mengatakan hal itu maka spanduk-spanduk tersebut akan dibersihkan. Ataukah pasangan calon itu berusaha tutup mata karena, diakui atau tidak, isu agama turut mengatrol perolehan suara mereka. Kalau demikian yang terjadi maka oportunis sekali kelakuan calon ini. Layakkah menjual ideologi bangsa demi sebuah kursi jabatan? Nah di sini kita tentu wajar sekali jika kemudian bertanya balik, apakah kompensasi yang mereka berikan kepada ormas-ormas yang sudah dengan gigih membela?

    Sekarang begini, menjadi Kepala Daerah di Indonesia artinya menjadi bagian dari pemerintahan yang diakui secara konstitusional dan harus taat pada Undang-Undang dan Dasar Negara yang berlaku. Negara kita terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. Sistem khilafah tentu tidak akan pernah sesuai dengan Bangsa ini meskipun Islam adalah agama mayoritas. Secara tidak langsung memaksakan khilafah dan penerapan syariat Islam justru mencederai semangat kebangsaan dan malah menunjukkan keegoisan sekelompok masyarakat. Kalau kamu ingin menjadi Islami, mulailah dari dirimu sendiri bukan dengan memaksakan orang lain harus ikut dengan maumu. Apakah mereka yang memperjuangkan khilafah ini kelakuannya sudah bebas dari khilaf?

    Nah kelompok yang memperjuangkan khilafah ini seringkali menyerukan seruan yang mengancam pecahnya Bhinneka Tunggal Ika. Mereka mau Indonesia ini seragam sesuai idealismenya. Beberapa aksi makar pun dilancarkan, baik yang murni untuk kepentingannya maupun yang ditunggangi oleh pihak yang punya kepentingan lain untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Tidak perlu saya sebutkan panjang lebar, Anda tentu sudah bisa membaca dan tahu sendiri siapa-siapa saja yang ditangkap oleh Kepolisian Republik Indonesia karena dugaan makar. Nah sekarang kalau ada Cagub dan Cawagub yang didukung oleh pihak yang ingin merusak tatanan pemerintahan dan demokrasi di negara ini layakkah mereka dipilih menjadi abdi rakyat? Apalagi di Jakarta yang wilayahnya sangat heterogen. Tidak hanya Warga Negara Indonesia yang tinggal, warga negara asing pun banyak yang menetap. Jakarta ini adalah percobaan, jika mereka sukses menerapkan formulasinya di sini maka dengan cara yang sama akan dilakukan di berbagai wilayah lain hingga tujuannya tercapai.

    Jika negara saja dikhianati, apa kabar dengan rakyat yang jadi tanggungjawabnya?

    Penulis : Rahmatika  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Yang Mengkhianati Dasar Negara Tidak Pantas Jadi Pemimpin Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top