728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Wejangan Anies Baswedan: Jangan Remehkan Kata-kata

    “Jangan remehkan kata-kata”, kalimat yang selalu diulang oleh Anies Baswedan, calon Gubernur nomer urut 3, dalam berbagai kesempatan terutama saat berjumpa Ahok di acara talk show maupun debat kandidat. Kata-kata mantra yang digunakan untuk menyerang petahana dan menggiring opini masyarakat karena secara tidak langsung menuding Ahok sebagai biang kegaduhan di negeri ini.

    Bila Anies mau sedikit saja menengok kebelakang sebelum muncul kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, isu sara sudah muncul jauh hari sebelumnya. Pernyataan Ahok adalah reaksi spontan terhadap orang-orang yang mempolitisasi agama untuk kepentingan PIlkada. Sejak di Belitung isu sara sudah digunakan menyerang dia sebagai pemeluk agama minoritas.

    Berlanjut saat Ahok akan dilantik menggantikan Jokowi menduduki jabatan Gubernur DKI. Penolakan dilakukan oleh gerombolan titik-titik dengan melakukan demo dan mengusung sara. Menolak Jakarta dipimpin oleh orang yang bukan dari agama mayoritas hingga bahkan sempat mengangkat Gubernur tandingan segala.

    Andaikata Ahok tidak terkena kasus Al Maidah 51, penolakan atau mengkampanyekan Gubernur dengan menggunakan isu sara itu tetap akan ada dan membuat gaduh di Pilkada. Pelakunya tidak  jauh dari kelompok yang sama. Adanya kasus penistaan agama hanya sebagai bumbu penyedap yang digunakan jembatan menghentikan langkah Ahok. Isu yang digoreng berhasil menarik minat warga daerah diluar Jakarta untuk berpartisipasi dalam demo-demo kemarin.

    Menyoal kata-kata, dalam perhelatan politik negeri ini banyak catatan bertebaran terkait omongan Anies. Bagaimana kiprahnya mantan rektor termuda di Paramadina ini menebar kata-kata.

    Di saat mengikuti konvensi yang dilakukan oleh Demokrat untuk menjaring calon Presiden, Anies sempat bermain kata blusukan yang identik dengan nama Jokowi. Blusukan dianggap hanya pencitraan saja.

    “Saya gak mau pencitraan dengan blusukan. Bukan cuma mendengarkan tapi mengajak berubah. Blusukan itu hanya nonton masyarakat. Hanya hadir lalu kesannya sudah melakukan.”

    Setelah gagal di konvensi Demokrat lalu bergabung dalam tim sukses pemenangan Jokowi-JK, kata-kata pujian pun dilontarkan. Jokowi dikatakan merupakan sosok yang berhasil menginspirasi lewat aksi-aksinya dan Indonesia akan lebih banyak membutuhkan orang-orang seperti beliau.

    Selanjutnya Prabowo yang kala itu menjadi kandidat saingan Jokowi di Pilpres 2014 menjadi sasaran kata-kata Anies sebagai timses Jokowi. Gaya kampanye Prabowo yang dilakukan sudah bertahun-tahun dianggap tidak sehat dan boros, hingga sempat juga keluar kata-kata menyakitkan kelompok mafia ada dibelakang kubu Prabowo.

    Sikap ketidak tegasan Prabowo juga disinggung dengan kata-kata. Janji Prabowo yang seakan berpihak kepada heterogenitas dan pluralisme yang ada di Indonesia, tapi dia justru mengakomodasi dan merangkul kelompok ekstremis seperti FPI. Masyarakat harus bertanya, tegasnya Prabowo itu pencitraan atau kenyataan?

    Tidak beda dengan yang terjadi pada Jokowi ketika Anies berpaling menjadi pendukungnya. Sekarang lontaran kata-kata pujian lalu ditujukan pada Prabowo. Disebutnya Prabowo memiliki sifat kenegarawanan karena mengusung dirinya yang tidak berasal dari Partai Gerindra maupun Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai calon gubernur dalam ajang Pilkada DKI Jakarta 2017.

    FPI yang dulu dikatakan sebagai kelompok ekstremis sekarang dirangkulnya dan Habib Rizieq sebagai pentolannya dianggap guru bagi Anies. Terbaca pernyataannya sewaktu berkunjung ke markas FPI dan memberikan sambutan.

    Itulah beberapa catatan perjalanan Anies terkait kata-kata yang sempat keluar dari mulutnya. Jangan diartikan esok dele sore tempe. Tapi ini hanya permainan kata-kata demi mencapai ambisi kekuasaan. Seni dalam berpolitik memang harus pandai bermain dengan kata-kata. Soal dianggap tidak konsisten, bukan masalah asal kita bisa berkelit dengan kata-kata lagi. Kata-kata yang dulu terucap bisa ditutup dengan kata-kata baru.

    Bila dulu pihak-pihak tersebut sempat dikecamnya tapi sekarang dirangkulnya, itu adalah cermin seorang pemimpin yang bisa merangkul semua golongan demi menenun kebangsaan. Andai suatu saat tenun tersebut koyak dan kemudian posisinya berseberangan, mudah saja untuk bikin lagi kata-kata baru. Itulah hebatnya mantra kata-kata.

    Kemungkinan itu ada juga keterkaitannya dengan kata keberpihakan yang selalu didengung-dengungkan oleh Anies selama ini dalam berbagai kesempatan. Di saat kita membutuhkan dukungan mereka, keberpihakan hendaknya kita berikan. Kata-kata yang sempat terucap dulu pada mereka berupa kritikan, tuduhan maupun serangan, anggap saja sebuah kekhilafan.

    Untuk itu jangan remehkan kata-kata…hanya bermodal bermain kata-kata tujuan politik dan ambisi kekuasan bisa digantungkan. Semuanya kembali bagaimana kita mengolah kata-kata…

    Salam Anu


    Penulis :  Elde  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Wejangan Anies Baswedan: Jangan Remehkan Kata-kata Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top