728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 03 April 2017

    Warga DKI Ketahuilah, Anies-Sandi Sungguh “Mengerikan”

    Singkat saja, aku ingin sekali menuliskannya! “Aksi bela Islam ini hanya kedok saja. Demikian juga kasus Ahok, hanya sasaran antara. Karena tujuan yang sesungguhnya membangun kota Jakarta sebagai kota syariah serta mendirikan Negara khilafah. Mereka masuk lewat Anies-Sandi. Karenanya, kalau pemilih Jakarta tidak jeli membaca arah dari aksi ini maka bisa terjebak sendiri natinya,” Prof Dr Arbi Sanit.

    Seperti yang pernah saya tuliskan pasca aksi 411, Isu agama memang isu yang cepat laku sekaligus bisa dikatakan murahan, karena perangkap yang dibuat adalah dogmatis. Dengan demikian tidak sedikit yang masuk dalam perangkap tersebut menjadi apatis, hingga kepentingan publik menjadi tidak penting, kemudian masyarakat kontemporer urban yang mungkin lelah akan dipaksa untuk memilih jalur yang dapat mengamankan mereka, yaitu jalur menuju Syurga.

    Sementara di lapangan realitas, justru agama yang juga merupakan sebagai “moral” dicederai sekaligus dikhianati, dengan dijadikan alat dalam kontes politik.

    Religion dan Negara memang tidak bisa dilepaskan, sejauh ini belum diketemukan sebuah Negara yang tidak menganut agama, hanya perbedaannya ada agama yang lebih mayoritas dalam sebuah Negara dan ada yang justru menjadi minoritas. Namun meski tidak bisa dipisahkan, keduanya bisa dibedakan. Seperti kita ambil contoh di Saudi Arabia (Arab). Arab adalah Islam dan Arab adalah Negara, tidak bisa dipisahkan namun keduanya bisa dibedakan. Hingga urusan politik dan urusan agama dalam hal ini bisa dipetakan.

    Bukankah agama akan membawa kebaikan dan kedamaian dalam bernegara, tapi kenapa bangga jika theis itu sendiri kemudian diingkari dengan dijadikan rudal untuk saling menaklukan. Yang lebih ironis, justru seorang atheis pun bisa lebih berprikemanusiaan.

    Mobilisasi massa dan gerakan-gerakan aksi yang dikomandoi oleh kelompok dengan menyebutkan diri bahwa menegakkan prinsip agama tanpa kompromi adalah sebuah keharusan akhir-akhir ini menjelang Pilkada DKI, jelas fundamental. Yang hendak melakukan penyeragaman dan permunian dengan satu pegangan dikemas dengan kata syariah dan khilafah. Sementara agama sendiri tidak mengindahkannya, kita ambil satu contoh dari agama Islam, bukankah dalam kitab suci tertulis untuk saling kenal mengenal , dengan demikian hidup menjadi bersuku-suku. Lantas kenapa harus takut dengan perbedaan?

    Syariah dan khilafah yang hendak diwujudkan justru bertentangan dengan Ideologi dan falsafah di Nusantara yang mencintai kemajemukan bangsa. Mencintai perbedaan dan kemajemukan bangsa tidak bisa dikatakan lari dari agama, justru kebalikannya dan bahkan kebalikannya tersebut dapat membuat agama itu sendiri menjadi “kotor” atau sederhananya bias dari hakikat ajaran agama itu sendiri. Dan hal ini sudah dipertontonkan lewat perang di Timur Tengah, sementara dibelakangnya adalah kepentingan kekuasaan, politik dan ekonomi, melalui kelpompok-kelompok radikal, fundamental, jaringan dan ajaran mereka disebarluaskan hingga sampai ke NKRI.

    Jika Negara Indonesia dengan tanah yang eksotis ini sudah kacau, maka tidak menutup kemungkinan pentolan-pentolan ekstrimis ISIS dan Kelompok radikal lainnya berbondong-bondong pulang ke Nusantara yang bisa jadi memperluas cakupan kekacauan tersebut. Beberapa tahun lalu mungkin kita masih terniang, bahwa ISIS sudah masuk ke dalam negeri.

    Oke, mari kita lihat aksi 313, dimana Rizieq Shihab seperti sengaja ditenggelamkan, hal ini wajar karena berbagai kasus yang menimpa dirinya yang kemudian membawanya ke dalam proses hukum, akan membawa kelompok ini semakin menyudut jika RS kembali bermain, kerena akan berdampak pada krisis kepercayaan dari peserta demonstrasi 411 dan 212 yang mungkin sudah terlanjur cinta dengan RS, kerena RS membungkus semua aksi dengan agama, dan tidak sedikit peserta yang terbuka pikirannya bahwa itu semua adalah kedok belaka.

    Dengan demikian Aksi 313 dimunculkan nama Katat (maaf tidak bisa nulis Aksara Arab), saya sebut saja “Katat” dan Bachtiar Nasir. Sementara kita tahu Bachtiar Nasir disinyalir bagian penting dari ISIS atau kelompok fundamental di Indonesia. Apalagi diperkuat dengan terbongkarnya bantuan mereka yang ditemukan di markas pemberontak di Suriah. Jadi meski Rizieq tidak dimunculkan namanya dalam aksi 313, juga strategi dari mereka yang mana tujuan dan agenda besar mereka adalah sama.

    Sebenarnya bukan Basuki-Djarot yang mesti dikhawatirkan dalam Pilkada DKI. Karena keduanya jelas menentang Jakarta untuk dijadikan kota syariah yang bertujuan hingga menjadi Negara khilafah. Yang dikhawatirkan adalah warga DKI itu sendiri jika salah memilih. Sebab jika Anies-Sandi yang menang maka jelas cuci otak kelompok radikal terhadap warga DKI berhasil mereka lakukan meski menghabiskan dana yang sangat besar dari berbagai aksi demo sampai kampanye hitam.

    Hal ini tentunya dapat membuat kelompok radikal akan mendompleng agenda terselubungnya lewat pasangan Anies-Sandi. Kenapa hal ini menjadi beralasan? Kerena mereka mempunyai kemampuan untuk mengontrol kepemimpinan Anies-Sandi, yang mana dalam hal ini Anies-Sandi tentunya berterimakasih karena jika mereka menang tidak lepas dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh kelompok radikal. Kalau dalam istilah sains “simbiosis mutualisme”.

    Waktu pencoblosan sebentar lagi akan segera dimulai, warga DKI mari buka hati dan buka pikiran, lalu benturkan dengan realita di lapangan, pahami semua aksi yang terjadi “murni agama atau tidak”, kemudian lihat pembangunan yang sudah terjadi di kota anda, jangan sungkan untuk membaca sejarah, agar tahu betapa kejamnya politik identitas itu.

    Kemudian rangkulah keluarga, kerabat, teman, agar tidak salah memilih dengan janji-janji syurga. Tidak ada satu pun yang tahu soal masuknya seseorang ke syurga atau ke Neraka kecuali Tuhan. Maka pilihlah yang realistis, rasional, gak muluk-muluk, dan sudah terbukti kerjanya.

    Ini Jakarta dan ini Indonesia, bukan Timur Tengah.  Bayangkan saja Anies-Sandi pernah mengeluarkan statment dan menjanjikan akan ada dana untuk semua ormas oleh pemprov DKI. Dengan demikian pintu untuk berkembang biaknya ormas radikal akan semakin terbuka, bisa jadi akan melakukan ekspansi di kota-kota lain. Lihat saja Jawa  Barat, aksi Sara pun mulai dihembuskan juga. Ini jelas mengerikan dan bakal kembali ke zaman barbar yang setiap hari saling serang.

    Kenapa Rizieq tak masuk dlm 313? adalah skenario. Kenapa Anies menjanjikan Dana buat semua ormas? adalah taktik taktis. Kenapa 313 mengerikan? Bachtiar Nasir disinyalir bagian dari ISIS Indonesia, kenapa Anies-Sandi makin mengerikan? karena pintu khilafah dapat terbuka melalui mereka.

    Basuki-Djarot tidak terlalu mesti kita khawatirkan, tapi khawatirlah jika Warga DKI salah pilih. Yang paling penting semoga warga jeli dan dapat memahami semua peristiwa yang penuh skenario.

    Disisi lain Negara diharapkan tegas dengan ormas fundamental dan radikal, karena salah satu fungsi negara memberikan rasa aman. Penangkapan para makar perlu kita apresiasi.

    Calon pemimpin harus menunjukan empati dan keberpihakan kepada rakyat serta kepentingan publik, bukan hanya mempertontonkan syahwat ambisi untuk berkuasa.

    Penulis :  Losa Terjal   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Warga DKI Ketahuilah, Anies-Sandi Sungguh “Mengerikan” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top