728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 10 April 2017

    Video #BeragamItuBasukiDJarot, Kesalahan yang Tak Perlu

    Tuhan mengingatkan kita untuk tidak berlebih-lebihan​. Bahkan, orang-orang mubazir digolongkan berkawan dengan syaitan. Jadi, bahkan yang baik sekalipun, kalau berlebihan akibatnya bisa berbahaya.

    Kubu Ahok-Djarot mungkin tak pernah memikirkan reaksi yang bakal dituai selepas launching lagu kampanye bertagar #BeragamItuBasukiDJarot. Mereka terlena dengan tren positif dan grafik yang menanjak sudah jelas berada di kubu Paslon yang fenomenal ini.

    Sekuel debat yang sudah dilewati, menunjukkan keunggulan program sekaligus rasionalitas​ visi, jelas menempatkan Ahok-Djarot lebih unggul dibanding Anies-Sandi, yang dianggap terlalu retoris, normatif sehingga abai terhadap fakta dan lemah dalam penajaman visi.

    Ketika Ahok fokus memaparkan program, kubu Anies-Sandi fokus membedah dan menyerang kekurangan dan kelemahan Ahok. Padahal dalam etika, menyerang pribadi lawan, adalah satu-satunya cara yang tak pantas dilakukan oleh calon.

    Grafik menanjak juga diperoleh dari respon yang menyambut baik program yang berkelanjutan, yang dinilai visioner dan memang menyentuh persoalan, misalnya bersih-berih kali, pasukan berseragam, Rusun, KJP, dan banyak lagi lainnya. Bahkan, tanpa program baru pun, Ahok-Djarot ​tetap berada di depan mengungguli lawannya. Ahok tak terbendung lagi.

    Apakah Ahok-Djarot tak perlu kampanye lagi?

    Sebenarnya ini soal kreativitas. Kampanye adalah momentum mengenalkan diri, tim, relawan dan simpatisan untuk diamati oleh publik. Dan pada poin tersebut, kampanye berada pada titik krusial untuk membentuk dan menguatkan citra.

    Jika selama ini Ahok bisa masih menjalani proses sebagai pesakitan terdakwa penista agama, memang peluang untuk membalikkan keadaan sehingga membentuk citra lain sebagai pihak yang teraniaya oleh politisasi ayat, sangat terbuka lebar. Bahkan, tak perlu dirancang khusus oleh tim kampanye, apa yang tersaji di media itu sudah cukup membalikkan citra positif untuknya: Ahok nyata tidak bermaksud menista agama.

    Soal video kampanye, saya tidak ingin menyebut kalau ini kesalahan biasa, meski memang tidak fatal. Menceritakan fakta lewat video atau opini terlebih dahulu harus bebas nilai. Biarlah keburukan dilakukan oleh pihak lain, dan kita sibuk mengerjakan yang baik-baik.

    Andai video tersebut dibuat oleh pihak lain, tentu tak akan disoal. Apa lacur, video telah resmi dirilis, dan ini seperti menyambut kesalahan yang juga dibuat oleh tim Anies-Sandy, video yang diduga plagiat dari Hashem Melech.

    Semua pihak bisa saja saling menyerang dengan argumentasi masing-masing, sebagaimana setiap pihak pun punya mekanisme pembelaan yang patut dihormati.

    Catatan ini, adalah sedikit koreksi saja, agar setiap perjuangan tidak diliputi euforia. Fokus pada program sendiri jauh lebih baik dan menguntungkan, ketimbang mencari celah pada lawan lalu menyerangnya, yang justru membuka titik lemah bagi pihak sendiri.

    Jangan melawan api dengan api

    Saya mengikuti perkembangan Pilgub DKI, sebagai ajang pertarungan ide dan ujian kedewasaan berpolitik. Kubu yang pragmatis dan berkoalisi dengan kubu radikal memang harus dilawan. Tapi, melawannya tidak dengan agitasi yang justru merugikan tatanan hidup masyarakat yang rukun dalam semangat egaliterian.

    Tapi, begitulah manusia. Ketika merasa menang dan kuat, kadang rasionalitas tidak berfungsi optimal. Apalagi, dukungan dana talangan kampanye yang mencapai 27 M. Duit sebanyak itu, sumbangan pula, bisa buat banyak model kampanye.

    Saya kuatir, pihak Ahok yang dikenal ‘baju kotak-kotak’, didukung lintas etnis, dicitrakan tegas dan jujur, akan terjebak dalam Kuda Troya yang justru merugikan pihaknya. Melawan api dengan api sama saja dengan membakar, dan apapun yang terbakar hanya akan menyisakan arang dan abu.

    Abaikan saja

    Pesan video itu sebenarnya positif, tapi nilai yang ingin ditonjolkan adalah citra negatif dari kelompok kecil yang seharusnya diabaikan saja. Mengangkatnya​ ke dalam materi kampanye sama halnya mengakui dan menaikkan nama mereka. Mengabaikannya justru akan menjaga citra positif, bahwa kubu Ahok tak perlu berhadapan dengan mereka yang radikal dan menghalalkan segala cara demi kuasa dan uang.

    Video yang baik dan populer tak harus dikemas dalam adegan dramatik. Ahok bersalaman dengan orang-orang dari latarbelakang banyak etnis itu sudah menunjukkan citra pluralis. Atau membuat catatan rekaman dari testimoni para tokoh yang suka dengan Ahok. Ingat, banyak yang suka Ahok bukan karena Ahok-nya, tapi bisa jadi karena orang yang diidolakannya pun memilih Ahok.

    Penulis :  Subarman Salim   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Video #BeragamItuBasukiDJarot, Kesalahan yang Tak Perlu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top