728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 02 April 2017

    Terjangan Badai Hampir Selesai, Aksi 313 Jadi Titik Balik Kemenangan Ahok

    Aksi-aksi dengan tiga angka kembali lagi digulirkan para anti Ahok. Berbagai alasan dan tuntutan dapat mereka hadirkan. Tapi selalu akan menyeret nama Ahok. Tidak peduli berapa banyak aksi-aksi tiga angka ini akan terus dilakukan. Selama masih ada kesempatan sampai tanggal 19 April, aksi serupa akan dihadirkan. Kemungkinan besar puncaknya pada Tamasya Almaidah tanggal 19 April nanti. Karena alasannya memang sangat politik dengan politik gandanya. Dulunya politik ganda terkenal dilakukan Amerika Serikat. Melakukan agenda yang kelihatan membantu, tetapi di saat bersamaan mengambil keuntungan di balik itu. Tetapi itu masalah strategi negara memakmurkan rakyatnya.

    Berbeda dengan aksi-aksi tiga angka yang ramai di Jakarta. Setiap aksi yang dilakukan selalu sasaran tembak yang kelihatan adalah Ahok.  Tetapi di saat bersamaan, sasaran tembak yang tidak kelihatannya mengarah kepada Presiden Jokowi. Hanya saja terbungkus rapi dengan kasus penistaan agama yang dialamtkan pada Ahok saat gelaran Pilkada DKI.  Dan memang Pilkada DKI memiliki irisan yang sangat kuat dengan politik nasional. Sehingga jelas bahwa melawan Ahok adalah jalan meggoyang Jokowi juga.

    Aksi 411 dan aksi 212 memang cukup membuat politik nasional memanas. Bahkan aksi-aksi ini ditengarai akan melakukan agenda makar. Tetapi Jokowi tidak akan dikenal Presiden yang hebat jika tidak bisa melewati dan mengendalikan situasi ini. Justu di akhir aksi, Jokowi keluar sebagai bintang. Lihat saja ketika Jokowi memberikan konferensi pers aksi 411, Jokowi menjadi bintang dan pembicaraan lewat Jacket Bombernya. Ketika aksi 212 juga, Jokowi lagi-lagi menjadi bintang dengan payung birunya.

    Namun sebagai puncak tuntutan aksi massa, Ahok pun harus ditersangkakan untuk meresponi tuntutan para pendemo. Meski merupakan keputusan yang sangat disesalkan oleh banyak publik di tanah air, tetapi kejadian ini tetap memberikan satu arti penting bagi kemajuan beragama dalam pluralisme dan kemajuan berpolitik tanah air.

    Banyak publik yang menangis dan menyayangkan Ahok dijadikan tersangka, tetapi bangsa ini memetik satu pelajaran penting. Rakyat yang mengikuti kronologis kejadian dan sidang Ahok menjadi tahu kondisi yang sebenarnya.

    Persepsi bahwa Ahok penista agama pun mulai berubah. Justru lewat kasus ini, masyarakat jadi tahu betapa Ahok sangat menghargai keberagaman beragama. Masyarakat jadi tahu kebaikan Ahok kepada umat Islam. Selain itu, masyarakat menjadi semakin tahu bahwa agama sering dipolitisasi demi kepentingan politiknya. Ahok pun benar-benar menjadi aktor tontonan dalam transformasi kedewasaan berpolitik di tanah air secara tidak sadar. Utamanya membongkar kejahatan para oknum yang berlindung di balik ayat suci

    Ahok sendiri pun bukan tanpa keuntungan. Meski di satu sisi dia merasa dan tahu bahwa dia adalah korban politisasi agama, tetapi dia pun mendapatkan hikmah dan satu pelajaran penting. Ahok menjadi berubah menjadi lebih soft dan memperhatikan kata yang diucapkan, kondisi saat dia melontarkan perkataan dan masyarakat yang mendengar ucapannya. Singkatnya dia jadi belajar berbicara benar di tempat yang benar dan kepada orang yang mengerti.

    Selain itu Ahok pastinya menjadi tahu lebih banyak proses hukum dan pengadilan. Jika sebelumnya dia handal dalam manejerial, keuangan, masalah sosial dan keunggulan yang lain, lewat badai yang dia hadapai tentunya dia semakin diperlengkapi. Badai kasus penistaan agama yang dialami Ahok pastinya membuat dia tangguh dan diperlengkapi luar biasa dalam mewujudkan Indonesia Baru lewat show case yang dilakukan di Jakarta.

    “Tidak ada pelaut yang hebat tanpa hantaman badai, ombak dan gelombang yang besar”. Begitu juga dengan Ahok. Meski lewat ceritanya kita mengetahui bahwa dia sudah makan asam garam dalam karir politiknya, tetapi sesungguhnya itu belum cukup jika ingin mengubah Indonesia.

    Perjalanan yang sudah dialami Ahok mungkin mengubah stigma akan latar belakangnya yang dulunya tertolak di dalam pemerintahan. Tetapi itu saja belum cukup untuk membawa bangsa ini bergerak maju menuju Indonesia Baru. Dibutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar teruji dalam kondisi hidup paling sulit. Mungkin itu yang sedang terjadi.

    Tidak ada badai yang tidak berlalu. Sekuat apapun itu dan semengerikan apapun terjangannya, pastinya itu akan berlalu. Hal yang sama nampaknya juga sudah mulai terjadi dengan Ahok. Kasus penistaan agama yang dialamatkan kepadanya semakin membuka tabir kebenaran. Saksi ahli yang didatangkan oleh tim kuasa Ahok adalah orang-orang yang berintegritas dan dapat dipertanggungjawabkan keahliannya. Penuturan mereka memperlihatkan betapa Ahok tidak bersalah dan ungkapannya pun bisa dipahami dan ditujukan oknum politisi yang menjual ayat-ayat suci untuk kepentingan politiknya.

    Tepat tanggal 31 Maret 2017, aksi kembali dilakukan agar Ahok diberhentikan dari kursi Gubernur. Namun massa yang datang tidak lagi seperti aksi 411 dan 212. Tanpa ragu Polisi pun menangkap koordinantor aksinya sehari sebelumnya dengan tuduhan makar. Langkah preventif yang sama juga sudah dilakukan ketika aksi 212.

    Langkah ini terbukti jitu untuk menggagalkan aksi makar yang dituduhkan. Lihat saja ketika Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, Ahmad Dhani dan kawan-kawan yang lain setelah ditangkap. Ketika dibebaskan mereka pun seperti kehilangan cara berbicaranya yang dulu. Tidak lagi terlontar kata-kata berbisa.

    Begitu juga dengan Rizieq Sihab. Ketika aksi 411 dan 212 dia tampil garang seperti panglima perang. Namun kasus asusila yang ditersangkakan padanya membuat dia perlahan mundur dan tidak terdengar lagi di aksi 313.

    Apa yang terjadi di aksi 313 telah berubah arah. Ketika aksi ini diharapkan dapat menggembosi suara Ahok, ternyata justru berkata lain. Justru dukungan kepada Ahok semakin mengalir deras. Lihat saja dukungan yang sudah diberikan PKB dan PPP. Bertepatan pula bahwa dukungan lembaga politik Islam dibutuhkan umat secara psikologi untuk pada akhirnya memilih Ahok.

    Sebenarnya apa yang membuat aksi 313 menjadi momentum buat Ahok? Sebab aksi 411 dan 212 sudah pada level tertinggi aksi yang dilakukan untuk menggembosi suara Ahok. Namun pada pemilihan putaran pertama Ahok masih unggul. Sehingga saat aksi 313 hadir lagi, guncangan untuk mempengaruhi opini publik agar tidak memilih Ahok sudah minim karena guncangan paling hebat sudah pernah terjadi. Aksi ini justru jadi oli bagi tim Ahok untuk bekerja lebih keras memenangkan kontestasi.

    Pada  pemikiran liar yang lain, penulis memprediksi bakal ada guncangan hebat yang akan terjadi justru menimpa rival Ahok. Penulis belum tahu guncangannya apa, tetapi kemungkinannya akan terjadi. Utamanya menjelang hari pemilihan seperti guncangan yang terjadi pada keluarga SBY dan AHY ketika menjelang 15 Februari silam. Namun ini adalah prediksi penulis yang suka dengan guncangan karena itu menguji. Sementara Ahok sendiri sudah teruji.


    Penulis :  Junaidi Sinaga  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Terjangan Badai Hampir Selesai, Aksi 313 Jadi Titik Balik Kemenangan Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top