728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 April 2017

    Terbongkar, Ada Komite Sensor Pemikiran Cak Nur Di Universitas Paramadina

    Astaghfirullah. Sungguh luar biasa durhakanya Anies Baswedan kepada 3 guru bangsa: Gus Dur, Buya Syafii, khususnya Cak Nur, pendiri Yayasan Wakaf Paramadina.

    Ceritanya, mencermati kondisi politik kebangsaan yang menguatirkan, murid-murid tiga guru bangsa merencanakan Diskusi Publik: Merawat Pemikiran Guru-Guru Bangsa.Coba teman-teman lihat di flyer dibawah ini. Lokasi acara disepakati di Auditorium Nurcholish Madjid di Universitas Paramadina. Pelaksana kegiatan Fakultas  Falsafah-Agama dan Yayasan Nurcholish Madjid Society, didukung oleh Wahid Institute, ICRP, ANBTI, HRWG, AMAN, ICIP.

    Tapi, apa yang terjadi?Sehari menjelang acara, rencananya Rabu besok siang, panitia dikontak oleh pihak kampus untuk membatalkan atau mengundur acara.

    Sebagai info, sejak wafatnya Cak Nur, Yayasan berada di tangan orang-orang pro-Anies. Mereka menekan rektor dan komite kegiatan untuk membatalkan atau mengundur diskusi.   Akhirnya, acara disensor oleh komite kegiatan yg pernah disebut Anies di Markas FPI sebagai warisannya. Menariknya, kabarnya akan ada pengerahan massa utk buat rusuh bila acara diteruskan menggunakan kampus Paramadina.

    Yang menarik, Prof.Firmansyah, Rektor Paramadina menyambut baik, siap memberikan pidato sambutan. Akibat tekanan pihak Yayasan, rektor ini menarik dukungan.

    Kembali ke komite di atas, rupanya, Anies sempat menggagas semacam lembaga sensor. Berfungsi filter dan penyeleksi kegiatan mahasiswa dan fakultas yang boleh dan terlarang. Duh, menyedihkan. Serupa era Orde Baru. Menteri Pendidikan, atas nama otoritas dan demi stabilitas politik-keamanan menekan civitas akademika dan mahasiswa untuk sejalan dengan rezim.

    Sedari dulu, warga kampus Paramadina tak aneh dengan larangan-larangan bila beraroma gagasan keislaman progresif. Padahal itu karena mereka ahistoris dan ada gap intelektual dengan visi-misi pendirian Paramadina.Tak aneh bila kita banyak mendengar saat Anies jadi rektor, kegiatan akademis di Fakultas Falsafah & Agama bila terkait wacana inklusifisme, pluralisme dan keislaman yang progresif dihalangi oleh pihak-pihak tertentu di rektorat. Kini kabar-kabar buruk itu nyata dan  terbukti.

    Benar-benar, Anies  tak berbudi, tak tau terima kasih dan durhaka. Dia jauh dari bencmark dan marketing diri yang dia bualkan di ruang publik, khususnya pidato kebangsaan kemaren. Berkuah-kuah bicara moral, akhlak luhur, persatuan dan nilai-nilai kebangsaan, tapi semua itu hanya retorika dan kuah-kuah kata dan kalimat. Bahasa al-Qur’an: kabura maqtan, kebohongan dan kemunafikan yang super bila kita sekadar bicara tanpa implementasi.

    Sebetulnya dalam seminggu ini ada 2 kegiatan akademis yang dimentahkan oleh Komite Sensor warisan buruk Anies itu. Minggu berlalu, Lead Institute Universitas Paramadina rencananya mau gelar diskusi publik juga bertajuk:Tarik Ulur Islam & Politik Dalam Pilkada DKI 2017. Dr. Phil. Suratno, Ketua lembaga ini berang karena Komite itu melarang pelaksanaan acara.

    Ayo, resapi dari sisi moral dan nurani, pantaskah seorang pendatang, dapat kursi terhormat tanpa keringat, tapi pelan2 alergi,  membuat lembaga sensor, berkoar sukses memadamkan gagasan, dan mengusir diskusi pemikiran pendiri universitas. Tentu, tidak langsung. Tetapi oleh Komite Kegiatan yang dibuatnya. Kalau LSF wajar menyensor film yang tidak edukatif dan merusak moral publik dan kaum muda. Lha, ini gagasan pemikiran para guru bangsa. Diakui otoritas moral, ilmu, cinta bangsa dan kemanusiaan kok disensor. Anies betul kelewatan.

    Apa yang “Komite Sensor” ini takutkan dari gagasan para guru bangsa ini?Apa mereka dikuasai ideologi puritan, konservatif dan radikal-teroristik itu hingga tega menyensor diskusi penting itu ke Hotel Atlet Senayan?Apa teologi Wahabi yang puritan-purikatif ala PKS, partai pengusung masih menguasai pengurus Yayasan & birokrat di Universitas Paramadina?

    Saya yakin dari alam ruh Cak Nur dan Gus Dur berduka menyaksikan pengusiran gagasan-gagasan kebangsaan yang digalinya dari Islam dari universitas yang dibelanya sampai akhir hayatnya. Itu jelas mengusir Cak Nur dari rumahnya. Saya tak tau manusia jenis apa yang duduk di “Komite Sensor” itu hingga kurang ajar mengusir “Cak Nur” demi membela ambisi politik Anies Baswedan. Dengar-dengar komite ini diketuai oleh purek bawaan mantan rektor yang awal kedatangannya janji menegakkan good governance & anti KKN itu di Paramadina itu.

    Duhai Cak Nur, kami bertekad meneruskan gagasan kemodernan,  kerakyatan, keislaman, dan keindonesiaan yang Engkau pancangkan demi masa depan Indonesia. Sepotong surga yang kini terancam pecah & terbelah ini.

    Mohammad Monib



    Penulis : Dj_donny   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Terbongkar, Ada Komite Sensor Pemikiran Cak Nur Di Universitas Paramadina Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top