728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 04 April 2017

    Strategi Licik nan Busuk Paslon 3: Boikot Acara Debat! Aktor di Balik itu Hanya Satu

    Anies takut, Sandi pun gemetaran dan apalagi timses beserta relawan yang belum bersedia berpikir waras. Sekali lagi, kata-kata “ajaib” Ahok kembali terbukti disini: “Kalau atasnya lurus, yang bawahnya tak berani tak lurus!”. Kalau pemimpinnya Berani, Trasparan dan Profesional, yang menjadi bawahannya juga otomatis akan ikutan.

    Acara debat kemarin yang seyogianya menuntut kehadiran lengkap kedua paslon yang “bertarung”, kemudian diusulkan menjadi adu gagasan dan program Cawagub saja karena para Cagub telah berdebat seminggu sebelumnya. Pihak Ahok-Djarot selalu siap! Awalnya Sandi menyanggupi tetapi kemudian, menyadari prestasi debat Anies yang sangat memprihatinkan membuat nyali sang wakil menjadi sebesar biji kelereng. Tak sanggup lagi untuk berbicara mengenai rumah murah ala rumah petak atau tapak hasil imajinasi nan edan Anies Baswedan.

    Anies sudah terkeok-keok dan peot dihajar Ahok dalam debat di Mata Najwa. Syukurlah Sandi masih berada dalam lingkaran kewarasan dan kesadaran untuk sekedar berpikir logis. Sebagai hasilnya, ada gejolak batin yang kuat yang diwujudknyatakannya dalam bentuk ketakutan luar biasa dan lebih memilih untuk menghindari debat Cawagub melawan Djarot.

    Strategi licik nan busuk di balik pemboikotan acara debat

    Acara debat yang mestinya berlangsung di Kompas TV atas panduan moderator Rosi sebetulnya menjadi kesempatan emas bagi kedua paslon. Menurut saya, acara itu justru lebih menguntungkan lagi bagi paslon 3 untuk bisa memperjelas posisi tawar programnya yang telah menjadi perhatian publik terutama soal rumah murah dalam bentuk rumah tapak yang memang tak masuk akal orang-orang sehat dan waras. Kalau benar-benar mereka “berambisi” dan sebagai calon berintegritas, harus jantan pula meluruskan yang bengkok dan memperbaiki yang keliru (tetapi bukan membenarkan yang jelas-jelas salah!).

    Berbagai media menjadi ajang “perdebatan” publik atas situasi politik yang semakin memanas. Media sosial pun menjadi tak ketinggalan dan menjadi “ribut” sebagai tumpahan dukungan maupun kekesalan publik. Para kandidat pun berusaha sedapat mungkin untuk menarik simpati publik dan netizen lewat medsos. Dan yang lebih mendapat perhatian publik adalah para calon yang sedang “bermasalah”.

    Anies tak sengaja atau memang memang kepalang basah membuat “ulah”. Niat hati untuk menjegal dan menurunkan citra sang petahana lewat program transportasi, justru dia sendiri yang dicekik netizen dengan berbagai kritikan tajam di akun Twitter-nya. Masyarakat sangat puas dengan layanan tranposrtasi publik saat ini terutama dengan kehadiran TransJakarta yang sangat praktis, murah, ramah dan nyaman untuk semua kalangan. Anies pun bungkam seribu bahasa!

    Tak hanya sampai di situ, di bidang pendidikan pun, Anies telah dicerca para netizen saat dia ingin memberikan dukungan morilnya kepada para siswa/i yang sedang menjalani masa ujian. Apa lagi yang mau dijual? Masa lalu sebagai Mendikbud yang dipaksa turun tahta karena bermasalah dipelototi para netizen. Program mana lagi yang mau dipelintir? Harga diri macam mana lagi yang mau dipertontonkan kepada publik Jakarta dan khayalak masyarakat Indonesia umumnya? Tak ada lagi yang dibanggakan selain harga diri yang tercampak dan tercabik-cabik.

    Siapa yang bertanggungjawab atas mangkirnya paslon 3

    Hanya ada satu nama disana sebagai jawabannya. Dia tak lain adalah Anies Rashid Baswedan, sang Cagub dukungan Gerindra bersama PKS. Ini sangat jelas terbaca dari gaya bicaranya dan indikasi ambisinya yang sangat besar untuk berkuasa dan bila perlu berkuasa mutlak. Apa pun caranya bisa menjadi pilihan. Sang petahana sibuk memperjelas program dan terobosan besutannya, si Anies justru berjoget ria dengan serangan-serangannya sampai ke hal-hal yang pribadi.

    Mangkirnya paslon Anies-Sandi dari debat kemarin bukan tak mungkin memiliki alasan-alasan tertentu (entah masuk akal atau tidak seperti program-program mereka). Ketakutan mereka untuk hadir menjadi lebih menarik karena beberapa hal:

    Pertama, Anies yang sudah kalah telak para debat minggu lalu melawan Ahok sudah tak bisa lagi memperbaiki kesalahan fatal tersebut. Saya lebih menganggapnya sebagai berkah dan campur tangan yang di Atas sana karena sudah mulai terbaca gelagat buruk dan niat terselubung seorang Anies di sana. Pilihan untuk mangkir dari debat di Kompas TV menjadi cara terbaik untuk melupakan sesaat “dosa” besar yang baru saja terkuak lewat program tak masuk akal: rumah tapak di DKI dengan DP nol persen. Tetapi rakyat DKI sudah terlanjur sadar dan bangun dari mati suri yang panjang;

    Kedua, Sandi dihadapkan pada dilema sangat besar dengan tawaran untuk berdebat dengan Djarot. Keberatan Sandi tersebut yang pada akhirnya membuatnya tak berpikir lain kecuali “ikutan” mangkir dari debat bisa disebabkan oleh dua alasan mendasar:

    1) Sandi tak memiliki argumen kuat untuk terus melanjutkan program akal-akalan mereka dengan rumah tapak nan murah bagi masyarakat DKI berpenghasilan rendah. Program “bohongan” ini sudah tak laku dijual, walau dana milyaran rupiah untuk iklan sudah terkuras;

    2) Sebagai jawaban atas keraguan dengan program bodongan ini, Sandi telah menggodok-godok program bayangannya: hunian vertikal. Ssstt… bukan hanya nama huniannya saja yang terkesan “mewah” tetapi juga merupakan “merek impor”. Tak tanggung-tanggung, hunian vertikal ala Singapura! Inilah yang diharapkan Sandi bisa menyedot perhatian calon pemilih para 19 April mendatang.

    Tetapi maysarakat DKI sudah terlanjur disakiti dengan pembohongan demi pembohongan selama ini. Program hunian vertikal pun merupakan penjiplakan dari rumah susun. Sandi hanya cukup menggantikan namanya saja.

    Di sinilah dilemanya yang besar. Sangat jelas terbaca bahwa paslon 3 ini di ambang perceraian. Mereka tak akur lagi soal program. Demi ambisi masing-masing, segala bentuk pembohongan dan pembodohan publik dipraktekkan. Tetapi mereka lupa bahwa tanpa restu dari yang di Atas sana, segala ambisi akan menjadi pahit, niat busuk akan terkurung dan dana besar yang habis terpakai menjadi momen untuk refleksi diri.

    Ketiga, Anies sudah jelas-jelas “tak lurus!” Sudah tak lurus, dia tak lulus pula! Kalau yang kepalanya, sang Cagub sudah tak lurus, yah… yang bawahnya juga ikutan. Kan satu paket saja antara Cagub dan Cawagub. Apalagi Sandi sudah mulai berurusan dengan pihak berwajib atas kasus yang menimpanya di masa lalu. Posisi semakin kritis, aliran dana semakin merana! Ambisi kian terkikis, harapan menang semakin menipis!

    Pelajaran berharga dari Ahok

        “Kalau atasnya lurus, yang bawahnya tak berani tak lurus!”
        Sama halnya juga dengan:
        kalau atasnya tak lurus, yang bawahnya tak berani tak lurus!

    Masyarakat pun sudah bisa menarik kesimpulan bahwa Ahok tak serampangan berbicara lantang dan “suka” menantang. Kata-katanya terkesan pedas menyakitkan karena memang berangkat dari fakta dengan data tak terbantahkan.

    Kalau kamu setia pada perkara-perkara kecil, maka kamu juga akan setia pada perkara-perkara besar.
    Ahok-Djarot telah membuktikannya! Untuk itulah maka “perkara-perkara” besar sedang menanti jamahan tangan, pikiran dan hati mereka.
    Itulah untaian doa dan harapan yang kita sematkan pada pundak mereka.

    Mereka telah selesai dengan diri mereka sendiri dan hanya berpikir untuk kepentingan rakyat DKI demi mewujudkan impian: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! Kalau ada yang datang di luar itu, berarti berasal dari si jahat!

    Teriring salam atasnya lurus, bawahnya juga harus lurus!


    Penulis :  Maks Sarjon  SUmber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Strategi Licik nan Busuk Paslon 3: Boikot Acara Debat! Aktor di Balik itu Hanya Satu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top