728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 30 April 2017

    Sandi Bangga Perolehan Suara Anies Sandi di Pilkada 2017 “Ngangkangi” Jokowi Ahok di 2012, Cara Beda Bung!

    Berdasarkan hasil rekapitulasi KPU DKI Jakarta di dalam penghitungan suara putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017, Anies-Sandi memperoleh 3.240.987 suara. Sementara, pada saat pilkada 2012, Jokowi-Basuki memenangkan Pilkada dengan perolehan 2.472.130. Inilah yang membuat Sandiaga Uno bangga karena hal ini.

    Lagi-lagi satu ketidaksadaran dan kebutaan akan masa kampanye membuat mereka takabur, merasa bahwa dirinya menang. Memang secara angka dan perolehan suara, Anies Sandi mengungguli kira-kira 800ribu perolehan suara, dibandingkan pada tahun 2012 dalam kemenangan Jokowi-Basuki. Ini menjadi sebuah hal yang Sandiaga rasakan.

    Kejadian ini tentu tidak mengherankan, karena cara-cara yang dilakukan oleh para pendukung Anies Sandi di dalam masa kampanye maupun masa tenang, membuat was-was seluruh warga Jakarta. Warga Jakarta, khususnya beragama Islam yang mendukung Basuki Djarot, diberikan tekanan baik secara mental dan psikis.Bahkan di dalam khotbah-khotbah Jumatan, para pendakwah menggunakan mimbar suci yang seharusnya mewartakan suara Tuhan, menjadi tempat beradu politik. Ini fakta, bukan hoax.

    Bahkan respon “terlambat” dari Lukman Hakim Saiffudin yang menjabat sebagai menteri agama saat ini, menjadi sebuah respon yang dipertanyakan. Mengapa aturan pelarangan dakwah yang mengandung isu-isu SARA, kebencian, dan inhumanistik baru digalakkan hari ini? Selama ini kemana saja, Bung?

        “Kemarin KPUD mengetuk 3.240.000 warga Jakarta memilih Anies-Sandi, ada 2.350.000 yang memilih Pak Basuki dan Pak Djarot. Ini jumlah yang sangat tinggi untuk Anies-Sandi dan berhasil memecahkan rekor Jokowi-Basuki pas tahun 2012 kemarin,” – Sandiaga Uno

    Melihat dari respon Sandiaga Uno yang merasa memecahkan rekor Jokowi-Basuki, sebenarnya wajar saja. Ia merasa bahwa Jokowi Basuki tidak sehebat Anies Sandi. Tentu saja, karena cara Jokowi Basuki pada tahun 2012 yang lalu, tidak secanggih hari ini. Siapa yang pada saat 2012 aktif menggunakan Twitter, Facebook, dan berbagai media online lainnya, untuk berkampanye? Saya rasa dulu banyak orang yang belum melek teknologi.

    Selain melihat dari sisi perkembangan teknologi, metode-metode kampanye yang dilakukan oleh pasangan Anies Sandi juga menjadi metode yang cukup riskan. Bayangkan saja bagaimana para pendukungnya berani mengusir Haji Djarot keluar dari Masjid, padahal Haji Djarot itu sama-sama beragama Islam. Ini sebenarnya ulah para setan yang tidak suka kehadiran seorang Muslim untuk beribadah.

        “Kita bisa menatap lima tahun ke depan dengan penuh kebanggaan, kejayaan bahwa kita adalah bagian dari 19 April. Kita adalah bagian dari Jakarta yang Insya Allah maju kotanya dan bahagia warganya,” – Sandiaga Uno

    Sandi juga merasa bangga dengan menatap lima tahun ke depan masa pemerintahan mereka. Tentu mereka bangga, namun mereka sebenarnya sedang lupa dan sedang tertidur dan tidak sadar akan satu hal. Kontrak politik yang begitu banyak dibuat, tentu harus ditunaikan. Inilah yang menjadi bom waktu bagi pasangan Anies Sandi, yang juga akan menjadi bom waktu bagi Jakarta kelak.

    Anies pernah menjanjikan bantuan dana untuk ormas-ormas yang ada di Jakarta. Anies juga menjanjikan kegiatan keagamaan bisa dilakukan di daerah Monas, padahal masih banyak tempat-tempat ibadah yang bisa menampung orang-orang yang ingin melakukan ibadah. Anies juga menjanjikan rumah dengan DP nol persen, yang sebenarnya menurut saya rumah DP nol Besar. Begitu banyak kalimat-kalimat yang dianggap sebagai program kerjanya, yang begitu mustahil dilakukan.

    Meskipun Anies-Sandi secara sah telah memenangkan Pilkada DKI Jakarta berdasarkan hasil rekapitulasi resmi KPU DKI Jakarta, Sandi meminta semua pendukungnya tidak bertopang dada dan membanggakan diri. Lagi-lagi lip service dilakukan. Kemenangan Anies Sandi juga merupakan kemenangan Prabowo atas Jakarta, dan pada akhirnya, mungkin menjadi kemenangan Prabowo atas Jokowi pada pertarungan pilpres 2019.

    Mereka tentu sudah berhasil di dalam memenangkan Anies Sandi, juga mengetahui cara jitu untuk memenangkan Pilkada. Gunakan isu SARA, maka semua akan dijamin efektif. Menebarkan isu-isu yang buruk kepada Pak Jokowi, tentu akan membuat hasil kerja yang dilakukan oleh Pak Jokowi ini dilupakan. Mengingat rakyat Indonesia, yang kebanyakan masih hidup di dalam era primordial, mudah sekali dibohongi oleh isu-isu yang ada.

    Tentu kita sebagai warga Indonesia harus waras dan tidak termakan oleh hasutan-hasutan yang akan membuat kita terpaksa memilih Prabowo kelak di Pilpres 2019. Jangan sampai kejadian yang terjadi di Jakarta, kemenangan pasangan calon yang menjual kecap, terulang dalam skala besar, yakni Indonesia.

    Para relawan Pak Joko Widodo harus berhati-hati dan bersiap-siap untuk menepis segala isu yang disebarkan oleh para pendukung Prabowo. Hati-hati dengan Prabowo, karena ia bergerak di dalam keheningan, bergerak di dalam kegelapan, setiap cara-caranya diatur sedemikian rupa profesional. Terstruktur, sistematis, dan massif.

    Betul kan yang saya ktakan?

    Penulis : Hysebastian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sandi Bangga Perolehan Suara Anies Sandi di Pilkada 2017 “Ngangkangi” Jokowi Ahok di 2012, Cara Beda Bung! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top