728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 02 April 2017

    Saat Ahok Yang Nyumbang Banyak Untuk DKI Mempermalukan Fahri Yang Cuma Nyumbang Nyinyir

    Beberapa waktu lalu Fahri Hamzah (sudah tahu yah apa yang biasa orang ini lakukan) memberikan kritikannya terkait pembangunan simpang susun Semanggi. Intinya adalah dana nonbudgeter. Saat tampil dalam acara Mata Najwa pada Senin lalu, Ahok mengatakan, “Di dalam pemerintahan wajar saja, swasta membangun kemudian dihibahkan ke negara. Yang salah itu kalau saya minta duit untuk pribadi. Kalau dia bangun dulu kemudian dinilai dan dimasukkan ke dalam catatan aset, saya nggak ngerti disebut pelanggaran.”

    Tapi si Fahri memiliki pandangan yang berbeda. Dia mengkritik Ahok mengenai pembiayaan proyek infrastruktur yang bersumber di luar APBD. Dana kontribusi tersebut, menurutnya, adalah dana nonbudgeter. Menurutnya, Ahok tidak paham bahwa pembiayaan atau anggaran belanja untuk publik tidak mengenal sumber pembiayaan non-APBD atau APBN. “Bui dan pasal berlapis menanti jika secara sepihak Anda bangun infrastruktur publik gunakan dana korporasi (perusahaan), tanpa pembahasan di DPRD,” kata Fahri.

    “Anda bisa saja katakan sukses membuat perusahaan swasta bangun daerah, tapi tanpa pembahasan di DPRD, Anda mungkin terima lebih,” sambung Fahri.

    Di sisi lain, Ahok bilang pembiayaan proyek infrastruktur menggunakan dana kontribusi ada peraturan menteri dalam negeri sebagai payung hukumnya. Dikatakan bahwa pemerintah daerah boleh mengenakan kontribusi kepada pengusaha, tapi tidak boleh dalam bentuk uang.

    Coba cerna kembali kata-kata Fahri yang saya cetak tebal (bold). Bui dan pasal berlapis jika secara sepihak bangun infrastruktur dengan dana kontribusi TANPA PEMBAHASAN DI DPRD? Luar biasaaaaahhhh pembaca sekalian. Kenapa tidak katakan saja dikenakan hukuman mati sekalian biar lebih sregggg? Apa maksudnya pembahasan di DPRD? Fahri bilang cara berpikir Ahok ini bahaya. Justru saya bilang membahas dana ini di DPRD jauh lebih bahaya sih. Tahu sendiri lah apa yang biasa terjadi jika sudah menyangkut pembahasan dana, apalagi kalau orangnya bukan Ahok yang terkenal tukang ribut dengan DPRD. Bukan menuduh, tapi sudah bukan rahasia umum kalau nanti terungkap adanya tilep-menilep dana. Sudah biasa berita seperti itu.

    Lagian kalau Ahok bahas ini di DPRD, dan dengan mempertimbangkan sejarah hubungan antara Ahok-DPRD yang tidak begitu akur, bisa-bisa habis waktu dan tidak jadi membangun. Daripada repot-repot berurusan dengan mereka, lebih baik Ahok lanjut saja. Toh, tadi sudah dikatakan ada Permendagri yang menjadi payung hukumnya. Justru setahu saya, Ahok berusaha mencari dana di luar APBD karena tahu sulit berurusan dengan DPRD karena karakter yang bertolak belakang. Ahok transparan, lurus-lurus saja. Tapi toko sebelah? Saya kurang tahu sih, mungkin saya persilakan pembaca komentari di kolom komentar.

    Fahri juga mengatakan tanpa pembahasan di DPRD, Ahok mungkin terima lebih (dana kontribusi). Justru saya sangat penasaran, sebelum Ahok ada, dulu-dulunya bagaimana? Di mana dana-dana CSR dulu dan dikemanakan? Kalau Ahok bisa mengumpulkan nilai setara triliunan dari dana CSR untuk pembangunan, bagaimana dengan pemerintahan yang dulu? Pembangunan lambat, dananya dibuat apa? Dan lucunya Fahri baru meributkan sekarang ketika Ahok membuka ini lebar-lebar agar masyarakat awam bisa tahu. Dulu, sepertinya tidak pernah diungkap ke publik (ralat kalau saya salah) dan tidak ada yang mempertanyakan. Tanya kenapa?

    Ahok pun sepertinya gatal ingin menyentil Fahri. Dia menantang Fahri berkontribusi ke pembangunan Jakarta. “Kalo Pak Fahri Hamzah mau sumbang seperti Kalijodo, seribu biji RPTRA juga aku terima. Kapan dia mau nyumbang? Aku jamin nggak langgar aturan,” kata Ahok.

    Hahahahah, bisa aja Pak Ahok nih. Fahri diminta menyumbang RPTRA? Meski ingin optimis, tapi hati 100 persen pesimis. Ini juga bukan tanpa alasan. Lihat saja apa yang dilakukan Fahri selama ini selain hanya nyinyir, cuitan kontroversial dan kritik tidak jelas? Saya saja kesulitan cari di internet mengenai prestasinya yang signifikan. Lebih banyak berita mengenai dirinya yang bikin kontroversi. Kalau Ahok mah prestasi dan kinerja bejibun dan terlihat jelas.

    Djarot pun tak tinggal diam, ingin ikut meramaikan suasana. “Oh gitu, oh iya, semua dikritik ya? Nggak apa-apa orang cuma mengkritik aja, yang susah itu mengerjakannya kalau mengkritik gampang, semuanya dikritik nggak apa-apa,” kata Djarot.

    Beda jauh dan beda kelas antara orang yang bekerja tanpa banyak pikir dengan orang yang banyak pikir (hingga jadi nyinyir) tanpa bekerja. Yang satu membangun, yang satu mengkritik.  Bedakan dengan cerdas antara orang yang kerja nyata dengan mereka yang hanya kerja kata (cuma pandai bersilat, berkungfu, berkarate dan bertaekwondo lidah). Begitu ditanya apa kontribusinya? Nol persen. Nyinyirnya? Sempurna 100 persen tanpa cela, tanpa cacat, mulus bening tanpa noda.

    Bagaimana menurut Anda?


    Penulis :   XHardy  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Saat Ahok Yang Nyumbang Banyak Untuk DKI Mempermalukan Fahri Yang Cuma Nyumbang Nyinyir Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top