728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 18 April 2017

    Rakyat Jakarta Suka Pekerja, Ahok Bisa Menang 53% Seperti Jokowi 2014 Lalu

    Besok akan menjadi hari yang dapat menentukan masa depan Jakarta, apakah masih akan dipimpin oleh orang profesional dan berpengalaman, atau diganti dengan pemimpin baru yang bahkan cara menyusun anggaran pun tidak tahu sama sekali.

    Melihat begitu maraknya propaganda di media, melalui dari lembaga survey sampai sosial media akun robot yang menyatakan bahwa Anies akan menang mutlak, didukung klaim sepihak dari Anies dan Rizieq bahwa hanya kecurangan yang dapat mengalahkan dirinya sendiri, membuat saya tertarik untuk memberikan prediksi hasil Pilgub DKI. Prediksi ini dibuat untuk menanggapi propaanda mereka, serta untuk memberikan suatu jawaban bahwa kalau besok Ahok Djarot menang, hal itu biasa saja dan memang sudah sewajarnya.

    Melihat pertarungan Ahok dan Anies, suka tidak suka kita harus akui jadi mirip seperti Jokowi dan Prabowo pada 2014 lalu. Secara keseluruhan semuanya mirip. Mulai dari politik SARA seperti China, kafir sampai partai pendukungnya. Hanya saja, pada Pilgub DKI ini Ahok tidak perlu difitnah China dan kafir seperti yang diterima Jokowi, sebab Ahok memang China dan nonmuslim.

    Karakter

    Secara karakter, keduanya benar-benar serupa. Kita ingat dulunya Prabowo mampu mendulang suara, salah satunya karena faktor dicitrakan tegas dan gagah. Sebaliknya, Jokowi disebut loyo, klemer-klemer dan seterusya.

    Hal ini sama seperti Anies yang dicitrakan santun dan bisa merangkul. Sementara Ahok sebaliknya, arogan dan kasar. Terlepas pada kenyataanya tidak bisa disederhanakan seperti itu, pada dasarnya ada sekelompok orang yang berpikir begitu.

    Orang tidak peduli pada sikap dan ketegasan seorang Jokowi, sebab sudah terlanjur menilai dari tampilan fisik seorang Jokowi yang kurus krempeng dan bukan jenderal. Orang juga tidak peduli dengan sikap keras dan marah-marah Ahok sebenarnya ditujukan pada koruptor dan orang-orang yang ngeyel, karena yang dilihat hanya kalimat dan initonasi tingginya.

    Sampai di sini, Ahok sebenarnya berada di posisi yang sama seperti Jokowi, dicitrakan negatif dalam karakter dan bawaannya. Sebaliknya Anies dicitrakan positif; santun dan merangkul, sama seperti halnya Prabowo yang katanya tegas dan gagah berani.

    Politik SARA

    Jokowi yang sudah lengkap rukun islamnya dengan menunaikan ibadah haji, pada 2014 lalu difitnah tidak bisa shalat, tidak bisa wudu dan bahkan dituduh keturunan China. Dalam hal ini, lagi-lagi Ahok Djarot berada di posisi yang sama, berada di pihak yang dimusuhi oleh sekelompok ormas radikal yang ingin menguasai dan mengubah Indonesia menjadi negara khilafah.

    Hanya saja tensi politiknya jauh lebih tinggi Ahok. Sebab Ahok ini memang China dan nonmuslim. Jadi tidak berada pada wilayah abu-abu dan bisa diperdebatkan seperti yang terjadi pada Jokowi. Politik jenazah serta khutbah jumat politik yang diserukan secara terstruktur, sistematis dan massif, baru ada di Pilgub DKI dan belum ada di Pilpres 2014.

    Sementara soal fatwa bahwa Ahok menistakan agama, saya melihatnya biasa saja. Sebab berpikir fatwa tersebut sama maboknya seperti fatwa bahwa memiilh Jokowi pada Pilpres 2014 lalu adalah HARAM. Saya ingat betul bahwa fatwa tersebut dikeluarkan oleh sekelompok orang yang mengaku ulama dan sekarang berada di kubu Anies.

    Kinerja dan pengalaman

    Ahok dan Jokowi maju sebagai Calon Gubenur dan Calon Presiden sama-sama bermodalkan hasil kerja dan pengalaman menata kota. 2014 lalu, Jokowi maju sebagai Capres dengan segudang prestasi dan perubahan yang sudah diberikannya di Jakarta dan Solo. Begitu juga dengan Ahok, selama dua tahun ini Ahok menunjukkan peforma luar biasa. Penyerapan anggaran yang rendah, ternyata menghasilkan begitu banyak pelayanan serta bangunan infrastruktur terbesar dan terbanyak sepanjang sejarah.

    Sementara Anies dan Prabowo maju sebagai calon pemimpin dengan status mantan atau pecatan. Anies dipecat dari Menteri Pendidikan, sementara Prabowo dipecat dari TNI. Status buruk tidaknya, mungkin masih bisa diperdebatkan, tapi kenyataan bahwa keduanya merupakan pecatan sama sekali tidak bisa disanggah.

    Mayoritas rakyat melihat kinerja dan pengalamannya

    Pada 2014 lalu, kita sama-sama tahu bahwa Jokowi menang dari Prabowo. Satu kesimpulan saya mengapa Jokowi akhirnya menang, sekalipun dituduh China, komunis, nonmuslim, dimusuhi ormas Islam (radikal) serta dinilai tidak tegas, tidak gagah dan klemer-klemer, adalah karena mayoritas rakyat Indonesia tidak silau dengan penampilan. Mayoritas rakyat menginginkan perubahan, pemimpin yang bisa bekerja, bukan sekedar tampil gagah tapi tidak bisa apa-apa.

    Secara keseluruhan, Jokowi JK mendapat 53,15 persen suara. Sementara Prabowo Hatta hanya 46.85 persen suara. Di Jakarta, Jokowi juga menang 53,1 persen.

    Lalu apakah dengan begitu banyaknya kesamaan antara Jokowi dan Ahok, berarti Ahok juga akan menang? Jawabannya iya, karena selera rakyat Jakarta masih sama seperti 2014 lalu, yang jengah dengan ormas radkal serta polititsasi agama dan lebih mengedepankan pemimpin yang bisa bekerja dan memberikan perubahan. Mari kita lihat bukti dan faktanya.

    Pada Pilpres 2014, Jokowi hanya kalah di Jakarta Timur (46.4%) dan Jakarta Selatan (48.1%). Hal ini sama persis dengan Ahok di putaran pertama, sama-sama hanya kalah di Jakarta Timur (38.7%) dan Jakarta Selatan (38.7%). Perolehan suara Ahok lebih kecil dari Jokowi karena memang pada putaran pertama ada tiga calon, sementara Pilpres 2014 lalu hanya dua calon. Tapi saat besok hanya menyisakan Ahok atau Anies, maka perolehan suaranya pasti tak akan beda jauh.

    Di wilayah lain seperti Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Barat, Jokowi dan Ahok sama-sama menang mutlak.

    Untuk itu saya memprediksi bahwa Ahok besok akan menang di kisaran 53%, sama seperti Jokowi. Karena secara psikologis dan selera pemilih, hanya masyarakat Jakarta Timur dan Jakarta Selatan yang masih bisa dipengaruhi atau dikalahkan oleh politik SARA dan lebih mengedepankan sikap atau sifat dibanding pengalaman serta hasil kerja.

    Kesimpulan karakter dan pola ini pasti sesuai dengan seluruh lembaga survey yang sudah merilis hasil elektabilitas para pasang calon, bahkan sekalipun ada lembaga survey yang memenangkan Anies, pasti lumbung suara terbesarnya ada di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

    Terakhir, meskipun ini hanya prediksi, namun semuanya saya tulis dengan landasan teori yang jelas, statistik dan faktor-faktor pendukung lainnya. Tidak asal njeplak seperti Rizieq atau Anies yang mengatakan hanya kecurangan yang bisa mengalahkan Anies Sandi.

    Tapi, meskipun semua faktor mengarah pada kemenangan Ahok, namun Ahok Djarot tetap butuh dukungan suara. Relawan tetap harus waspada dan memastikan semua rakyat Jakarta bisa menggunakan hak pilihnya dan masuk dalam hitungan.

    Sementara untuk Rizieq, Anies dan para pendukungnya, semoga kemenangan Ahok nantinya akan diterima dan dianggap biasa saja karena memang sudah sewajarnya Ahok menang.

    Begitulah kura-kura.


    Penulis : Alifurrahman   Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Rakyat Jakarta Suka Pekerja, Ahok Bisa Menang 53% Seperti Jokowi 2014 Lalu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top