728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Program Hunian Ahok – Djarot, Keren dan Realistis ! Anies Masih Tipu-Tipu

    Memiliki hunian adalah impian setiap orang, bagi yang tinggal dan bekerja atau yang ber KTP DKI Jakarta bukanlah perkara mudah. Permasalahannya hanya satu yaitu harga tanahnya sudah sangat mahal, mungkin saja harga terendah sudah mencapai Rp 5 juta per meter. Apabila harga tanah sudah segitu mahalnya maka bila dijadikan hunian akan menjadi berapa ratus juta.

    Mari berhitungan sederhana saja, untuk membangun rumah dengan tipe 45/60 dianggap harga bangunan sekitar Rp 2 juta/m maka harga rumah tersebut sekitar Rp 390 juta ( tanah Rp 300 juta plus bangunan Rp 90 juta) belum termasuk pajak. Pertanyaannya tanahnya dimana ? Apakah harga membangun rumah bisa segitu ?

    Apabila sukses mendapatkan hunian murah, bisa dipastikan lokasinya akan “jauh” atau jauh dari akses transportasi publik yang murah macam Transjakarta atau Commuter line. Jadi permasalahan budget rumah berganti menjadi budget transportasi dan lama waktu perjalanan, artinya jadi sama saja memiliki cicilan hunian miring tapi bulanan buat transportasi bisa-bisa sama seperti cicilan hunian.

    Anies yang sampai saat ini masih kekeuh dengan program rumah dengan DP Rp 0, sepertinya masih belum sadar bahwa sasaran mereka yang ditarget adalah rakyat biasa (take home pay UMK) tetapi dipaksa untuk bisa menyisihkan hingga 66% dari pendapatnya untuk cicilan program tersebut. Apa ini namanya bukan program gendeng, dimanakah letak realistisnya ?

    Satu-satunya ide mereka adalah hunian yang akan dibangun memakai tanah negara (milik DKI atau aset negara), konsep ini juga masih kabur karena lokasi tanahnya juga masih tanda tanya besar atau malah bisa-bisa “tipu-tipu”. Mungkin saja malah membuat program Jakarta untuk memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) hingga 30% supaya layak dan nyaman untuk ditinggali akan semakin tidak mungkin dipenuhi.

    Ahok – Djarot sekali lagi membuktikan bahwa mereka memang tipe pemimpin yang paham akan persoalan ini serta mampu memberikan solusinya menjadi realistis untuk dilaksanakan.

    Dalam akun twitter @basuki_btp, Selasa (4/4), Ahok menjelaskan beberapa skema hunian yang digagas bagi warga DKI yang ingin memperoleh hunian yang nyaman, aman, dan sehat tanpa dipusingkan cicilan. Apabila melihat postingannya wujud huniannya lebih berwujud hunian vertikal dan lokasinya dekat dengan sarana transportasi masal.

    “Masyarakat kecil sampai pasangan muda Jakarta bisa tempati 4 skema hunian yang nyaman, aman, dan sehat. Tidak pusing cicilan. #JakartaPunyaSemua,” tulis Ahok pada akun @basuki_btp.

    Skema #1 ; Pasangan dengan penghasilan dibawah Rp 3 juta per bulan
    Pada skema ini ditujukan untuk  warga dengan penghasilan di bawah Rp 3 juta per bulan akan diberi subsidi sewa sebesar 80 %, dengan rincian Rp 300 ribu/bulan (tanpa lift) dan Rp 450 ribu/bulan (dengan lift). Pertanyaannya sederhana, dimanakah kita bisa mendapatkan biaya sewa seharga itu di Jakarta ? Bilapun ada mungkin lokasi atau kualitas hunian dan lingkungannya jangan ditanyakan.
    Skema #2 ; Kelas menengah, penghasilan diantara Rp 3 juta/bulan sampai Rp 10 juta/bulan
    Pada skema kedua ini memang tidak dijelaskan definisinya tetapi dapat ditarik kesimpulan antara skema #1 dan skema #3 maka diperuntukkan bagi warga yang memiliki pendapatan bulanan antara Rp 3 juta – Rp 10 juta. Adapun pasangan muda ini sudah memiliki kemampuan bayar yang lebih, tetap disubsidi yang lebih sedikit dibanding golongan pertama.

    Disinilah Ahok menerapkan konsep subsidi yang berkeadilan sosial dimana kelompok yang daya belinya lebih sedikit akan mendapatkan jumlah subsidi lebih besar supaya dapat memiliki akses yang lebih manusiawi dan naik kelas.

    Kata kuncinya adalah hunian yang akan dibangun dekat dengan sarana transportasi publik sehingga akan murah dibiaya transportasi yang ikut membantu program pengendalian kemacetan karena mereka memiliki pilihan untuk menggunakan moda transportasi masal.

    Skema #3 ; Pasangan dengan penghasilan di atas Rp 10 juta/bulan
    Skema ini sudah beralih menjadi program kepemilikan hunian dengan subsidi bagi mereka yang memiliki penghasilan diatas Rp 10 juta/bulan. Sesuai dengan banyak arahan dari para konsultan atau penasehat keuangan yang menyarankan supaya kondisi keuangan mereka sehat maka budget untuk cicilan hutang (salah satun komponennya cicilan rumah) adalah maksimal 30% dari total penghasilan bulanan.

    Ahok memang cerdas karena selalu berpikir dalam dimensi yang lebih luas dan lebih realistis dibandingkan harus memaksa mereka yang memiliki penghasilan Rp 3,3 juta harus mencicil sebesar Rp 2,3 juta, apa ya tidak mencekik leher mereka. Lebih baik jujur saja kalau program ini diperuntukkan untuk mereka yang memiliki penghasilan diatas itu supaya dapat memiliki hunian bukan lagi sebagai berstatus penyewa.

    Skema #4 ; Warga pemilik tahan yang digunakan untuk membangun hunian

    Ahok melihat bahwa menyediakan lahan untuk dijadikan hunian yang letaknya strategis atau murah bukanlah persoalan mudah. Oleh karenanya digagas sistem kerjasama bagi warga yang memiliki tanah untuk mau didirikan hunian vertikal. Nantinya para pemilik tanah ini akan mendapat unit hunian (apartemen) seluas 2 sampai dengan 2,5 kali luas tanah.

    Bayangkan saja apabila kita memiliki lahan seluas 1.000 meter persegi maka minimal akan memiliki hunian seluas maksimal 2.500 meter persegi. Tentunya kita masih bisa menyewakan hunian milik kita dengan harga pasar, apakah ini bukan sebuah peluang untuk memaksimalkan aset pribadi kita. Tentu saja hal ini legal dan tidak bisa dianggap rakus karena memang lokasi tanah yang strategis tidak mudah didapatkan.

    Pasangan Ahok – Djorat terlihat matang dalam menelurkan sebuah program kerja, bayangkan saja kita yang masih muda dan mulai meniti karir di Jakarta sudah diberi pilihan dan jawaban atas persoalan rumit. Kita selalu dipusingkan oleh tempat tinggal, cara mencapai tempat kerja, sekolah anak, pasar, rekreasi, tempat ibadah karena macet sehingga kita akan memiliki waktu efisien dan sesuai dengan kantong kita.
    Akhirnya kualitas hidup keluarga kita akan lebih meningkat dan dikategorikan “sehat”.

    Pertanyaan yang masuk akal adalah apakah kita rela dengan para “Pelayan” ini akan kalah hanya gara-gara isu jualan agama. Memang mereka tidak bisa menjamin kita akan masuk surga tetapi dengan memberikan banyak kemudahan dalam hidup ini, harapannya kita menjadi pribadi atau warga Jakarta yang menjadi bagian dari solusi atas persoalan Jakarta. Akhirnya tidak mudah lagi dihasut oleh isu SARA yang menyesatkan.

    Adalah pilihan kita ingin mendapatkan pemimpin atau CEO yang mampu memberikan jawaban realistis ataukah pemimpin yang memberikan mimpi dan bantuan tunai yang akan menjebak kita menjadi warga yang malas. Ahok atau Anies, kitalah yang menentukan dan kewarasan Anda yang dituntut untuk menjawabnya ?
    https://news.detik.com/berita/3466805/ahok-dan-djarot-luncurkan-beli-rumah–di-dki-tanpa-pusing-cicilan?_ga=1.87649054.706468008.1490014100

    Bagaimana menurutmu ?


    Penulis : Solemanmontori Soleman    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Program Hunian Ahok – Djarot, Keren dan Realistis ! Anies Masih Tipu-Tipu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top