728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 April 2017

    Pilkada DKI Jakarta, Pilih Makanan Beracun Atau Makanan Basi?

    Lebih kurang 7 hari lagi warga Jakarta akan mengadakan pesta demokrasi putaran kedua, memilih Gubernur untuk 5 tahun kedepan. Ada dua pasangan calon yang lolos ke tahap berikutnya. Setelah sebelumnya pasangan Agus-Silvi gagal dalam putaran pertama.

    Tahun lalu sempat ramai dihebohkan oleh seorang Gubernur yang terpleset cangkemnya saat mencoba menukil ayat di surat Al Maidah. Dalam ayat tersebut, arti kata “Awliya” yang ditafsirkan sebagian kelompok dengan makna pemimpin. Menurut mereka, di dalam Al Qur’an tidak boleh memilih pemimpin dari golongan Yahudi dan Nasrani, merujuk pada ayat Al Qur’an yang ada kata “Awliya” tersebut.

    Sebagian warga lainnya menyangkal bahwa makna kata “Awliya” yang ada di ayat tersebut adalah bermakna teman, bukan pemimpin. Memilih Gubernur atau Presiden adalah memilih pembantunya rakyat, bukan memilih pemimpin rakyat. Ya, sejatinya memilih Gubernur atau Presiden adalah memilih babunya rakyat. Memilih orang yang dibayar sebagai pembantu rumah tangga rakyat yang tugasnya ngurusin Negara. Namun, di Indonesia tercinta ini karena tidak adanya pemisahan antara pemerintah dan Negara maka, memilih pembantu rumah tangga juga sekaligus memilih pemimpin rakyat. Sebab, kepada merekalah rakyat mengamanatkan kendali rumah tangga Negara.

    Seperti yang pernah saya tulis dalam “Pasangan Nomor Dua Harus Dimenangkan” tanggal 13 Februari 2017 , Ketika penetapan calon Gubernur Jakarta, Bapak SBY menyuruh anaknya yang bisa dibilang masih “bau kencur” dalam urusan politik praktis daripada memegang senapan untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta, bukan hal yang main-main. Mencalonkan anaknya bisa jadi sebagai pemecah suara rakyat agar tidak terjadi kemenangan dalam sekali putaran. Yang pasti, jangan dipikir sang Mantan tidak berhitung mencalonkan anaknya yang masih ijo itu. Curhatan dan pidatonya jangan dianggap lebay, dan juga orang yang 10 tahun berkuasa di Indonesia itu jangan dianggap remeh strategi politiknya.

    Terbukti setelah hasil hitung cepat diumumkan, pasangan nomor dua unggul tipis dengan pasangan Anies. Pasangan Agus menempati urutan terakhir, menjadi pemecah suara keduanya dan justru pada saat itu masih banyak orang yang tidak sadar kalau ia menjadi penentu di pilkada putaran berikutnya.

    ***

    Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu, di situs-situs yang “seolah” menjadi buzzer tidak langsungnya Pak Ahok membuat artikel atau tulisan yang menyerang habis-habisan anak sang Mantan dan mengabaikan Anis Baswedan. Di sebuah forum sosial media, para penulis berdiskusi apa dan bagaimana yang harus diserang dari seorang Agus. Artikel-artikel atau tulisan-tulisan berkelindan tanpa henti, mem-bully, menelanjangi, sampai pada taraf yang menurut saya sangat menjijikan. Begitu pun dengan kubu sebelah, kata “Penista Agama” dan isu etnis menjadi barang dagangan yang laris untuk meraup pendukung. Tetapi ketika seorang Bos besar media bergabung dengan kubu mereka akhirnya para pendukungnya kecele juga.

    Sehari setelah hasil hitung cepat, situs-situs yang memuat artikel-artikel yang tadinya menelanjangi Agus beralih dengan menyerang Anies sampai taraf yang menjijikan pula. Begitupun dengan kubu sebaliknya, bisa dilihat sampai sekarang.

    Agus seolah dilupakan, tetapi perolehan suaranya menjadi rebutan dari kedua kubu. Beribu kemungkinan yang akan terjadi. Bisa jadi pemilih Agus akan tumpah ke Ahok semua, bisa jadi ke Anies Semua. Berkemungkinan 50-50, bisa juga golput semua, atau Tuhan bikin skenario yang lain semau-mau Dia. Bisa saja.

    Yang pasti, menurut Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) Babu nomor satu yang sekaligus juga sebagai pemimpin tertinggi sedang mengatur strategi untuk bagaimana melindungi seorang bawahannya yang sangat penting. Melindungi dari apa dan siapa?

    Melindungi dari orang-orang dan/atau lawan potiknya yang berusaha menjegal laju anak buahnya tersebut. Melindungi dari pengadilan yang bisa menjebloskannya ke penjara dan wajib memenangkan pemilihan kepala daerah di daerahnya.

    Bawahan yang merupakan kunci atas sukses atau gagalnya pelaksanaan berbagai perjanjian antara pemimpin tertinggi itu dengan para pemodal kapitalis yang sejak dari awal merekayasa untuk jadi pemimpin tertinggi.

    ***

    Bagi calon pemilih, silakan pilih siapapun yang anda sukai, asalkan berdaulat atas diri sendiri dan tidak ikut-ikutan orang lain. Bagi orang-orang yang ‘merdeka’, golput mungkin bisa saja menjadi suatu pilihan. Namun, bagi para warga korban penggusuran memilih calon incumbent —dan kalau sampai si calon jadi– adalah menambah daftar sakit hati selama 5 tahun ke depan, tentunya menjadi golongan putih bukanlah sebuah pilihan. Mau tidak mau harus memilih pasangan yang satunya, walaupun tahu hanya janji-janji basi. Bagi mereka, pemilihan kepala daerah DKI Jakarta bagai memilih makan makanan yang jelas-jelas beracun atau makanan yang belum tentu enak, tetapi basi.

    Siapapun yang akan terpilih nantinya harus tetap dikritisi. Yang menarik di sini adalah pesan Cak Nun kepada Menko Luhut Binsar Panjaitan saat rombongan Kemenko Kemaritiman melakukan lawatan ke Rumah Cak Nun di Kadipiro, Jogja. Beliau berpesan, “Pokoknya kalau sampai terpilih, segera mengundurkan diri”.

    Entah apa yang akan terjadi kalau sampai pasangan incumbent terpilih dan tidak mengundurkan diri seperti yang Cak Nun katakan, entah apa pula yang akan dilakukan oleh Menko Luhut Binsar Panjaitan. Tentunya, siapkan stamina untuk kegaduhan-kegaduhan yang akan terus terjadi untuk beberapa tahun kedepan.



    Penulis : Nurhasan Wirayuda   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pilkada DKI Jakarta, Pilih Makanan Beracun Atau Makanan Basi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top