728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 28 April 2017

    Pilkada DKI dan Kekalahan Orang “Saleh”

    Kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI memperlihatkan bahwa ada yang salah dalam memhami politik kesalehan sebagai salah satu wacana dalam setiap Pilkada. Kesalehan yang sebenarnya merupakan esensi dari setiap agama dijadikan komoditas politik yang cukup menggiurkan dalam rangka memenangkan salah satu calon dalam kontestasi politik tanah air.

    Jika kita melihat lebih jauh, kesalehan dalam setiap agama memiliki dua model yang berbeda, Kesalehan dalam Ibadah dan Kesalehan Sosial. Kesalehan dalam beribadah merupakan eksistensi umat beragama dalam menjalankan perintah-Nya dan ini cenderung bersifat pribadi atau privat. Sedangkan kesalehan sosial merupakan bentuk hubungan kemanusiaan sebagai representasi dari makna kesalehan ibadah itu sendiri. sebagai contoh menjalankan sholat dalam Islam. kesalehan ibadah ini ditunjukkan dengan menjalankan sholat sesuai dengan aturan dan tuntunan yang diberikan oleh Islam. sedangkan kesalehan dalam arti sosial adalah bagaimana kita memaknai ibadah sholat dengan memperbaiki sikap dan perilaku kita dalam berkehidupan sosial di masyarakat dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada di dalamnya.

    Dalam konteks Pilkada DKI, kedua model kesalehan ini diperlihatkan oleh dua kubu yang bertarung memenangkan kursi kekuasaan di Provinsi DKI Jakarta. kalau boleh menilai, saya bisa melihat bahwasanya politik kesalehan dalam Ibadah cenderung diperlihatkan oleh pasangan nomor urut 3, sedangkan kubu sebelah memilih menjalankan politik kesalehan yang cenderung bersifat sosial.

    Bagi kubu nomor 3, esensi dari politik kesalehan adalah bagaimana kita bisa menunjukkan kepada khalayak luas, utamanya rakyat DKI Jakarta sebagai pemilih, bahwa kita mempunyai kapasitas dalam hal menjalankan Ibadah sesuai syariat Islam. Hal ini bisa dilihat dari berbagai aktivitas dari pasangan calon ini dan para pendukungnya.

    Bahkan, para pendukung pasangan ini memperlihatkan politik kesalehan ini yang menurut saya cenderung kebablasan dan lebih menekankan kepada cara bagaimana bisa meyakinkan orang lain untuk ikut dalam kelompoknya. Sebagai salah satu contoh adalah aksi 212 dimana para pendukung kubu ini melaksanakan ibadah Sholat Jumat di Monas dengan jumlah yang ‘katanya’ sampai pada angka 7 juta manusia. Dikatakan kebablasan karena sebenarnya ibadah ini bisa dilakukan cukup di masjid-masjid sekitaran Jakarta, toh di Jakarta jumlah masjid yang ada saya rasa cukup kalau hanya untuk menampung jamah yang sejumlah orang di Monas. Dengan demikian, adanya kegiatan sholat berjamaah di jalan raya dan memblokir jalan untuk ibadah malah bisa mencederai atau menghalangi kepentingan orang lain yang tidak seagama untuk tetap beraktivitas dan melakukan kegiatan lainnya. Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dari kesalehan sosial itu sendiri.

    Hal berbeda cenderung diperlihatkan oleh pasangan nomor urut 2. Model kesalehan yang ditunjukkan cenderung mengarah kepada kesalehan sosial. Jarang kita lihat kubu nomor 2 ini dan para pendukungnya menunjukkan kepiawaiannya dalam menjalankan ibadah agamanya dan dipertontonkan kepada khalayak luas. Mereka cenderung menyembunyikan atau tidak menunjukkan kesalehan ibadahnya kepada orang lain karena sadar bahwa kesalehan ibadah sebaiknya hanya dilakukan dalam ranah privat. Mereka cenderung memperlihatkan kepedulian nyata kepada sesama manusia melalui kegiatan-kegatan sosial yang sebenarnya merepresentasikan atau sebagai perwujudan kesalehan ibadah itu sendiri.

    Sebagai contoh adalah bagamana Ahok menjenguk warga yang sakit dalam masa kampanye maupun dalam kesehariannya. Hal ini jelas merupakan kesalehan sosial yang lebih nyata terlihat dan bermanfaat bagi sesama serta merupakan wujud dari ajaran agama yang dianutnya tanpa harus menunjukkan ketaatan dia dalam ibadah. Ahok lebih melihat bahwa ketaatan sebagai umat beragama adalah bagaimana kita bisa bernafaat bagi lingkungan sekitar tanpa harus memperlihatkan kesalehan ibadah kita. Bagi Ahok, biarlah kesalehan ibadah menjadi urusan dia dengan Tuhan tanpa harus ditunjukkan kepada orang lain.

    Berdasarkan fenomena tersebut dan hasil Pilkada yang dimenangkan oleh kubu nomor 3, Nampak bahwa masyarakat Jakarta masih memandang politik kesalehan sebagai kesalehan yang bersivat normatif. Mereka cenderung memilih calon pemimpin yang rajin beribadah dan taat beragama tanpa memandang perilaku sosial dari calon dan pendukungnya tersebut. Mereka cenderung memilih yang seagama dan mengabaikan program kerja yang ditawarkan yang sebenarnya lebih bermanfaat bagi khalayak luas. Mereka cenderung memilih pemimpin karena takut ketika nanti jenazahnya tidak disholatkan saat wafat daripada memilih pemimpin yang jelas-jelas bebas dari kasus korupsi dan sudah terbukti kinerjanya.

    Semoga fenomena ini tidak terjadi lag di Indonesia dimana agama, dalam hal ini kesalehan Ibadah, dijadikan komoditas politik untuk menggaet suara pemimpin. Jika hal ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin mereka yang sebelumnya adalah koruptor dan politikus busuk secara tiba-tiba akan berganti baju menjelang Pilkada menjadi orang-orang yang alim dan taat beribadah tanpa dibarengi dengan program kerja yang bermanfaat karena hal ini sudah seperti jurus jitu dalam memenangkan kontestasi pada setiap Pilkada.


    Penulis : Abu Mumtaz   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pilkada DKI dan Kekalahan Orang “Saleh” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top