728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 April 2017

    Pilih NU atau Pilih FPI?


    Menjelang pemilihan Ketua RW 09 Kampung Apus, Posko Cang Kosim semakin ramai. Pendukungnya selalu saja memenuhi ruang tamu posko berukuran 4 meter x 5 meter tersebut. Duduk lesehan beralaskan karpet, serta tersedianya kopi dan teh manis, semakin membuat suasana di posko ramai saja. Apalagi, belakangan Cang Kosim juga menyediakan sebuah televisi berukuran 32 inci yang diletakkan di salah satu sudut ruangan tersebut.

    Malam itu ada sekitar 20 warga berkumpul. Madi, yang didaulat menjadi tuan rumah posko nampak sibuk mempersiapkan kopi dan teh manis untuk dihidangkan. Setelah minuman hangat yang disajikan ke dalam gelas-gelas kecil itu siap dihidangkan, Madi membawanya dengan nampan ukuran sedang ke ruang tamu.

    “Dibagi nih minuman hangatnya. Yang suka kopi, ambil deh kopinya. Yang suka teh, ada juga tuh teh manisnya,” ujar Madi sambil meletakan nampan yang berisi kopi.

    Dalam hitungan tak lama, kopi di nampan pun sudah berpindah lokasi. Bahkan, beberapa orang diantara sudah langsung menyeruputnya.

    “Enak juga kopi bikinan elu, Di. Cocok buka warung kopi,” ujar Rahmat, salah seorang warga yang sering datang ke posko.

    “Iya, entar habis pemilihan RW kita buka lapak di pojokan kantor RW ya,” Madi menimpali.

    “Liat tuh di berita, Paslon kotak-kotak ketemuan sama Ketua Umum PBNU,” ujar Doni sambil menunjuk ke arah televisi yang menyiarkan pertemuan antara salah satu pasangan calon gubernur yang bertarung di putaran kedua dengan KH Said Aqil Siradj di Kantor PBNU.

    “Tambah mantep aja tuh si kotak-kotak. Kemaren GP Ansor resmi mendukung. Kayanya nih dapet dukungan lagi dia,” ujar Madi.

    “Asslammualaikum,” ujar Cang Kosim yang sudah terlihat berdiri di depan pintu masuk ruang tamu posko.

    “Waalaikum salam,” ujar warga yang ada di dalam ruangan.

    “Itu paslon kotak-kotak ketemuan sama Kiyai Said Aqil?” tanya Cang Kosim sambil melangkah ke dalam ruangan dan duduk berbaur dengan warga lainnya yang sedang asyik menyaksikan siaran salah satu chanel televisi swasta.

    “Iya, Cang. Dapat dukungan dari NU kayanya sih,” ujar Tony, salah seorang warga yang paling muda umurnya diantara warga yang hadir di posko.

    “Kopi siapa nih? Ada yang minum gak?” tanya Cang Kosim melihat ada sisa satu gelas kopi.

    “Minum aja, Cang. Gak ada yang punya,” ujar Madi.

    “Yaaahhh, kok gak dukung sih? Cuma mendo’akan saja?” ujar Doni, sedikit kecewa, setelah mendengar pernyataan Kiyai Said Aqil di televisi.

    “Ya, jelaslah NU gak bakalan dukung. NU kan bukan partai politik. Dan warga NU itu ada di mana-mana. Kalau mendukung, bisa pecah NU,” tutur Rahmat, mencoba menjelaskan.

    “Rahmat bener. NU gak bakalan beri dukungan. Tapi, kalau tadi denger pernyataannya Kiyai Said Aqil, sebenernya gak perlu ragu untuk milih kotak-kotak tanggal 19 April nanti,” tutur Cang Kosim.

    “Harusnya sih seperti itu. Paslon kotak-kotak garis perjuangannya sama dengan NU, yaitu sesuai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45,” ujar Doni.

    “Bener, Don. NU sendiri kan kuat dengan mengedepankan Islam Nusantara. Konsep itu, bisa menyatukan elemen bangsa di Indonesia. Islam ini menjaga kebangsaan. Bukan Islam radikal. Jadi lebih jelasnya, NU itu gak mendukung Islam radikal. Nah, konsep Islam nusantara itu sama dengan konsep yang diusung si kotak-kotak. Sementara itu kan ada paslon yang katanya didukung Islam garis keras,” tutur Cang Kosim.

    “GP Ansor lebih tegas lagi. Dukungan mereka dilakukan karena merasa pasangan yang lain katanya sangat dekat dengan kelompok Islam radikal,” ujar Madi.

    “Kalau dilihat, kenyataannya di lapangan memang begitu. Ansor sendiri kan bilang bahwa dukungannya itu jangan dianggap semata-mata mendukung si kotak-kotak. Tapi karena mendukung NKRI. Dan itu yang diperjuangkan oleh kubu kotak-kotak,” tutur Doni.

    “Jadi begini. Perkembangan sekarang ini sangat bagus. Gua yakin warga semakin cerdas dan dewasa dalam memimilih. Kalau waktu putaran pertama kan ada tiga calon. Jadi suaranya bisa terpecah. Dan dukungan yang ada masih terpecah-pecah. Sekarang kan makin jelas. Cuma dua paslon. Sekarang ini, yang ada di hadapan kita hanya dua. Pilih NU atau pilih FPI?” ujar Cang Kosim.

    “Kok bisa gitu, Cang?” tanya Mamat.

    “Gini, Mat. NU walau pun tidak mendukung secara formal si kotak-kotak, tapi dari dukungan Ansor, juga pernyataan-pernyataannya Kiyai-kiyainya udah jelas arahnya ke mana. Nah…..perjuangannya jelas tuh. Menjaga kebhinekaan, Islam Nusantara, toleransi dengan keberagaman. Kagak pakai demo-demoan. Lebih santun. Kagak pakai kata-kata kasar dalam ceramah. Gak ada kata bunuh……tangkap. Juga, menghargai agama lain. Gak pakai mengolok-olok agama lain. Intinya adem deh. NKRI harga mati,” tutur Cang Kosim.

    “Tapi kan yang satunya juga NKRI, Cang?” tanya Mamat lebih lanjut.

    “Itu benar, Mat. Gua gak ragu kalau paslon yang satunya NKRI juga. Tapi, pendukung di belakangnya yang bikin ragu. Sama-sama Islam sih. Tapi kan lu bisa liat sendiri. Dikit-dikit demo. Habis sholat jum’at, mestinya lebih bijak, malah teriak-teriak bunuh. Mungkin masih inget waktu sholat Jum’at di Monas di aksi 212, habis ceramah jadi khatib, langsung teriak tangkap. Nah, kalau kita dianggap gak sama dengan mereka kita langsung dituduh kafir, dituduh munafik. Itu bahaya, Mat,” jelas Cang Kosim.

    “Coba deh lu bayangkan, kalau sampai kelompok itu bisa berkuasa, waduh…..gua rasa akan semakin berkurang umat Islam di Indonesia ini. Pasti banyak umat Islam yang dikafir-kafirin karena berbeda pendapat dengan mereka. Nanti tuduhannya ke pemerintah. Padahal, mereka sendiri punya peranan untuk semakin mengurangi jumlah muslim di Indonesia,” ujar Cang Kosim lebih lanjut.

    “Tapi kan gak masalah siapapun yang jadi gubernur nanti?” tanya Madi.

    “Memang gak masalah. Cuma menurut gua, lebih baik kita jangan salah memilih. Kita lihat semua perjalanan proses ini. Ini udah final. Gak akan ada pemilihan ulang lagi. Kalau pun ada, mungkin hanya di beberapa TPS aja yang diduga ada masalah. Tapi mengulang semuanya sepertinya mustahil. Salah satu paslon pasti jadi,” jawab Cang Kosim.

    “Kalau menurut Cang Kosim, enaknya pilih yang mana?” tanya Mamat.

    “Gua gak bisa mempengaruhi pilihan orang. Itu hak masing-masing. Lu semua udah bisa menilai dari perjalanan para calon selama ini. Yang baik buat gua, belum tentu baik buat lu semua. Jadi terserah deh. Tapi, jangan sampai salah pilih. Bisa nyesel kalau salah pilih,” ujar Cang Kosim.

    “Mungkin setiap calon ada baik dan buruknya. Tapi, yang mana yang sangat minim resikonya untuk dipilih?” tanya Madi.

    “Kalau buat gua, pilih yang cinta NKRI, menjaga kebhinekaan, yang mau kerja, dan sudah teruji. Tapi kan lu semua punya kriteria juga. Jadi silahkan pilih yang tepat ya,” tutur Cang Kosim.

    “Ayo deh diminum lagi kopinya. Yang kurang bilang aja, masih banyak tuh air panas di belakang,” tutur Madi.





    Penulis : Adithia Renata Rakasiwi   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pilih NU atau Pilih FPI? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top