728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 08 April 2017

    “Perselingkuhan” Anies-Sandy dengan Sumarno Berakhir di Penetapan DPT Putaran Kedua

    Demontrasi 212 yang dilakukan oleh FPI dan ormas Islam garis keras lainnya masih segar dalam ingatan kita semua. Siapa pun pasti ingat kalau demonstrasi yang ‘katanya’ dihadiri tujuh juta massa ini bertujuan memenjarakan penista agama Islam yakni Basuki Tjahaja Purnama.  Pokoknya Ahok dipenjara!! Tuntutan ini sudah pasti menjadi seruan pada demonstrasi selanjutnya. Maka muncullah demonstrasi yang berjilid-jilid baik menjelang putaran pertama Pilkada DKI Jakarta maupun demonstrasi menjelang putaran kedua. Namun sebenarnya bukan ini yang menjadi konsentrasi dalam coretan sederhana ini. Ada yang menarik setelah demonstrasi 212 yang telah lewat. Gara-gara foto profil di dunia maya, terkuaklah indikasi ketidaknetralan Sumarno, Ketua KPUD DKI Jakarta. Kesan Sumarno setuju dengan demonstrasi menuntut Ahok dipenjara terafirmasi dalam foto yang dipajang pada akun twiter atau whatsapp miliknya.

    Foto tujuh juta umat yang dipasang Sumarno pada akun media sosial, Whatsapp atau Twitter yang dimilikinya menjadi kunci pembuka tabir hubungan erat Sumarno dengan paslon Gubernur DKI Jakarta selain Ahok. Publik Jakarta tidak harus menunggu lama siapa paslon yang memiliki hubungan istimewah dengan Sumarno. Siapa ya? Hubungan istimewah ini pelan-pelan mulai diperlihatkan oleh Sumarno sendiri. Sumarno yang seharusnya netral mulai menunjukkan ketidaksetiaannya pada tugas KPUD.  Justru Sumarno  mulai menunjukan “perselingkuhan tipis-tipisnya” dengan paslon lain.  Siapa lagi kalau bukan pemilik program OK OCe, Anies-Sandy. Mari kita mengupasnya dari fakta tentang jalinan persahabatan antara Sumarno dengan Anies-Sandy.

    “Perselingkuhan” Pertama di TPS 29 Kalibata: Pertemuan yang  Manies, kesan pertama yang begitu menggoda.

    Entah sengaja atau memang telah diskenariokan Ketua KPUD DKI Jakarta berjumpa denga Anies yang terkenal santun dan maniesnya. Oleh beberapa pihak, Sumarno dituding telah melanggar kenetralan KPUD DKI sebagai penyelenggara pesta demokrasi. Apa pun motifnya pertemuan Sumarno dan Anies, publik Jakarta punya kebebasan berpendapat dan menghubung-hubungkan arti pertemuan antara keduanya.  Di pihak lain kehadiran Sumarno dalam pemilihan ulang di TPS 29 Kalibata itu merupakan bagian dari tugas esensialnya sebagai  Ketua KPUD DKI Jakarta. Namun di pihak lain, ada sesuatu yang bisa dihubungkan antara keduanya. Pertemuan pertama ini begitu manies tatkala warga DKI sedang melaksanakan pesta demokrasinya. Sungguh kesan pertama yang menggoda Sumarno. Senyum dan tampannya Anies membuat Sumarno tanpa pikir panjang mengekspresikan ketertarikannya kepada Anies. Warga DKI dan pengamat Pilkada DKI bisa saja menilai ada sesuatu di balik semuanya ini. Meskipun telah dibantah oleh Sumarno bahwa dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Anies, warga Jakarta tetap menaruh curiga dengan pertemuan pertama ini. Posisi Ketua KPUD DKI seharusnya memikirkan sedini mungkin segala bentuk resiko, segala bentuk pemikiran lain yang mengarah pada dugaan ketidaknetralan KPUD DKI dalam penyelengaraan Pilkada yang sedang berlangsung.

    Makan Bersama Jelang Penetapan Hasil Pilkada DKI Putaran Pertama: Ahok Tak Dihiraukan.

    Profesionalisme Ketua KPUD DKI Jakarta, Sumarno memang mulai dipertanyakan. Belum selesai warga Jakarta menilai dirinya dan menjadikannya bahan gosip. Kisruh seputar penyelenggaraan Pilkada putaran pertama membuat Sumarno dianggap gagal dalam menyelesaikan tugas maha penting dalam bagi warga Jakarta. Mulai dari kehabisan kertas suara, banyak warga yang dihalang-halangi untuk mencoblos merupakan cerita hitam yang menggambarkan Sumarno gagal dalam menjalankan tugas negara ini. Kegagalan masih berlanjut ketika KPUD DKI Jakarta mengumumkan hasil perhitungan suara putaran pertama. Perbedaan waktu undangan yang dikeluarkan oleh KPUD baik untuk pasangan Anies- Sandy maupun Ahok-Djarot membuat kegiatan ini diwarnai aksi walk out pasangan Ahok-Djarot. Di mana Ketua KPUD DKI sewaktu Ahok-Djarot menunggu? Ternyata Sumarno sedang asyik menjamu Anies-Sandy. Kesan pertama di TPS 29 ternyata belum memuaskan sang ketua dan makan bersama Anies-Sandy bisa jadi menjadi momen pelampiasan. Inkonsistensi dan tidak tepat waktu dalam penetapan hasil pemilihan suara inilah yang semakin membuat Sumarno terpojok. Ahok-Djarot pun membuat Sumarno panas dingin. Sumarno dibuat malu menjelang pembacaan hasil perhitungan suara. Sunguh disayangkan kegiatan yang sangat penting ini harus dicederai oleh keinginan pribadi. Lagi-lagi publik bisa melihat kualitas seorang Sumarno dalam perhelatan Pilkada DKI. Warga Jakarta bisa berpendapat terkait kinerja Sumarno.

    “Perselingkuhan” yang berakhir cerai  gara-gara Penetapan DPT Putaran Kedua

    Hancurlah sudah jalinan persahabatan dan keakraban yang dibangun selama ini. Tidak ada lagi kesan manis atau kesan pertama yang begitu menggoda pasca penetapan DPT putaran kedua Pilkada DKI.  Rasa curiga mulai ada dalam diri Anies-Sandy, pasca Sumarno menetapkan DPT putaran kedua. Rasa curiga memang membuat jalinan pertemana bahkan kehidupan rumah tangga bisa berakhir pada perceraian.  Jumlah DPT yang semakin besar tidak bisa diterima oleh kubu Anies-Sandy. Terjadi penambahan sebesar 109 ribu pemilih dan 11 TPS pada Pilkada putaran kedua ini.

    “Anies menyebut, jumlah suket yang diterbitkan sangat banyak sehingga rawan kecurigaan. Sementara, Calon Wakil Gubernur Nomor Urut Tiga, Sandiaga Uno curiga, ada penggelembungan dan mobilisasi dari penambahan DPT”

    Penyebab retaknya relasi antara Anies-Sandy dengan Sumarno adalah penetapan DPT yang begitu besar. Padahal pada tempat lain harus diakui penambahan DPT ini disebabkan adanya pemilih pemula yang sudah berumur 17 tahun dalam putaran kedua nanti, kemudian ditambahkan dari  anggota TNI/POLRI yang sudah pensiun dan lain-lain. Penambahan jumlah DPT inilah yang menjadi akhir dari kemesraan yang dibangun selama ini. Tim Anies-Sandy diberitakan tidak mau menandatangani penetapan DPT yang dibuat KPUD. Alasan yang dibangun persis apa yang dikatakan oleh Anies dan Sandy pada kutipan di atas.

    Oh Sumarno…tugas dan pekerjaanmu semakin berat dan mendapat banyak tantangan.  Kembali pada jalan yang benar, kembalikan kepercayaan warga Jakarta bahwa dirimu sudah professional dan tidak lagi menjalin hubungan khusus dalam putaran kedua ini. Ingatlah bahwa apapun bentuk perselingkuhan di dunia ini selalu membawa sengsara dan penderitaan. Apalagi ”perselingkuhan” di dunia politik. Penggalan lagu dari Merpati Band di bawah ini mungkin sangat cocok untuk direnungkan.

    Betapa ku mengerti sebagai selingkuhanmu

    Kuharus menjalani ikatan yang tersembunyi

    Ku mencoba bertahan meskipun menyakitkan

    Tak menyisakan sebuah sesal di hatiku

    Selama aku bisa membuatmu bahagia

    Berpaling ku tak mungkin singgahi hati yang lain

    Sebatas harapanku mohon pengertianmu

    Bahwa ku ingin memilikimu seutuhnya

    Seiring berlalu bergulirnya waktu

    Membuka rahasia di antara kita

    Pastinya kan ada hati yang terluka

    Tak menerima semua kenyataan yang ada

    Namun tak selayaknya perselingkuhan ini

    Yang lama kulalui menjadi tiada berarti

    Semenjak ku merasa harapmu sia-sia

    Hingga terluka hati kan membuatmu tak berdaya

    Mungkin kurelakan untuk kau tinggalkan

    Diriku disini harus mengakhiri

    Aku yang merasa lelah dan menyerah

    KARENA TAK SELAMANYA SELINGKUH ITU INDAH….

    dan seterusnya…

    Salam “jangan selingkuh”!!!


    Penulis :  Frumensius Hemat   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: “Perselingkuhan” Anies-Sandy dengan Sumarno Berakhir di Penetapan DPT Putaran Kedua Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top