728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 05 April 2017

    Paradoks Ala Anies, Bicara Kemiskinan Warga Jakarta Di Hotel Super Mewah Dan Dipuja-puja

    Paradoks-paradoks lagi heboh di kubu pasangan calon Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Ini dikarenakan sebagai bahan promosi untuk buku yang ditulis oleh Prabowo Subianto yakni “Paradoks Indonesia”, Pandangan strategis Prabowo Subianto, Negara kaya tetapi masih banyak rakyat hidup miskin. Eits, ini juga bukan promosi bukunya juga ya.

    Ngomong-ngomong soal rakyat miskin, Buku itu memang menggambarkan paradoks mengenai rakyat miskin yang digambarkan dengan penambang belerang di kawah gunung Ijen, beban berat belerang yang dipikul tidak setara dengan beban hidup yang harus dipikulnya. Saya hanya baca kovernya saja, soalnya bukunya masih belum ada di tangan, jadi belum tahu isinya.

    Terus apa hubungannya gan? Kok senggol-senggol Anies Baswedan segala?

    Anies Rasyid Baswedan Ph.D (Harus lengkap ya sekarang penulisannya), mengawali minggu ini dengan mengadakan acara pidato kebangsaan untuk merajut tenun kebangsaan itu (mohon maaf lebay) bertajuk “Persatuan Indonesia”, bertempat di Hotel Dharmawangsa. Hotel bintang lima yang mungkin sewanya cukup atau sangat mahal, demi gengsi mengapa tidak?

    Tetapi dengan segala kemewahan yang ada saat itu yang dibicarakan adalah kemiskinan yang sangat ekstrem yang terjadi di Jakarta, lebih tepatnya di Kampung Krukut, apakah ini gambaran dari buku tersebut? Ya begitulah contohnya seperti yang ada sebagai keadaan konkrit yang harus dihadapi.

        Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengaku prihatin atas kemiskinan di Jakarta. Anies mengatakan ada perbedaan ekstrem kemiskinan di Jakarta dan daerah lainnya.

        “Saya pribadi merasakan ada fenomena ada yang harus diikhtiarkan, di Kampung Krukut itu padat sekali. Satu unit rumah ada 5 orang, 6 orang padat. Itu padat sekali, dan di ujung gangnya ada kamar mandi umum,” kata Anies saat berpidato di Hotel Dharmawangsa, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Senin (3/4/2017).

        Anies mengaku sangat prihatin atas ekstremnya kemiskinan di Jakarta. Ia membandingkan dengan daerah lain yang miskin, namun penuh kebersamaan. (sumber)

    Gengsi kemewahan karena wakilnya adalah orang super kaya yang tidak mau kalau tidak di hotel berbintang 5, kalau bintang tujuh bisa bikin kepala puyeng tentunya. Atau gengsi karena yang diundang adalah mereka yang juga termasuk kaya, ya mungkin ngelesnya nanti “hanya di ruangan yang tidak terkena hujan”, itu saja. Tidak seperti kemarin yang langsung nyemplung di kawasan banjir, sekarang mana mau kecipratan sesedikit air dari (comberan) kampung (yang katanya) kumuh tersebut.

        “Kemiskinan di Jakarta dengan kesempitan, kemiskinan dengan polusi tinggi, tak punya pekerjaan, dan kemiskinan dengan kesepian. Beda dengan miskin dengan di daerah yang berkumpul dengan keluarga besar, sumber daya alam, dan kemiskinan dengan udara bersih. Itu beda sekali dengan di sini dengan kemiskinan yang penuh sesuatu yang ekstrem,” ucap Anies.

    Jakarta memang sempit Bang Anies, Jakarta itu hanya secuilnya Pulau Jawa, kalau soal ngomong tentang sempit ya memang sempit, polusi tinggi memang karena banyak kendaraan yang terkena macet, tak punya pekerjaan dan kesepian. Kalo kesepian mungkin tidak ya, kan sempit ngumpul jadi satu, rame deh, masa sepi?

    Kalau mau bandingin Jakarta ama daerah tentu jauh sekali, Soal kebersamaan, kesempitan, sumber daya alam, apalagi udara bersih. Apalagi nanti kalau rumah tapak DP 0 Rupiah terealisasi, wah makin banyak lahan terbuka hijau yang akan digusur untuk jadi perumahan, eh maksudnya rumah warga Jakarta dengan DP 0 Rupiah, makin susah cari udara bersih nantinya, pasti itu.

    Entah apalagi yang akan dicetuskan oleh Anies Baswedan di hari nanti, kita tunggu saja nanti pas pemaparan program di debat final sebelum pemungutan suara tanggal 19 April nanti, kita nilai apa yang menjadi plus minus programnya bagi warga Jakarta.

    Anies Baswedan sudah bukanlah Anies yang dahulu terkenal santun dan bersahaja, Anies yag sekarang adalah Anies yang ditunggangi paham radikal yang ingin menguasai Indonesia, dengan isu-isu kemiskinan tetapi mereka sendiri berlimpah kekayaan duniawi. Model pemimpin seperti ini yang benar-benar jauh dari harapan Rakyat negara ini akan pemimpin yang benar-benar seorang leader, Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, bukan serigala yang selama ini berbulu domba seperti dia.

    Ya seperti itulah … serigala

    Penulis : Asmoro   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Paradoks Ala Anies, Bicara Kemiskinan Warga Jakarta Di Hotel Super Mewah Dan Dipuja-puja Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top