728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 10 April 2017

    Pandangan Sesama Komikus: Kejadian 212 di X-Men Bisa Mengancam Komikus Indonesia

    Komik X-Men menjadi ramai diperbicangkan gara-gara memuat QS 5:51 dan angka sakral bagi umat 212. GNPF-MUI sempat mengatakan bahwa ada indikasi pelecehan. Namun ternyata menurun rekannya sesama komikus kejadian ini ternyata bisa berdampak lebih jauh dan mengancam komikus-komikus lainnya di Indonesia.

    Awalnya GNPF-MUI mengatakan ada indikasi pelecehan karena teradapat tulisan QS 5:51 dan 212

    “Kami sudah mengetahui mengenai komik tersebut. Kami sudah menelaah dan ada indikasi pelecehan Surat Al Maidah 51,” ujar anggota tim advokasi GNPF MUI, Kapitra Ampera dalam perbincangan, Minggu (9/4/2017).

    Menurut Kapitra yang merupakan salah satu inisiator aksi 212, dimasukkannya QS 5:51 di baju salah satu tokoh komik, tidak relevan dengan Surat Al Maidah. Dia juga menyorot mengenai angka ‘212’ yang selama ini menjadi nama aksi damai pada 2 Desember 2016 silam.



    Namun ternyata komikus yang menggambar komik tersebut ternyata justru pendukung aksi 212. Mungkin hal tersebut yang menyababkan GNPF memperbaharui keterangannya. Setelah dilakukan rapat, tim advokasi GNPF MUI menyatakan tidak ada pelanggaran dalam komik tersebut.

    Komikus yang menggambar komik X-Men tersebut bernama Ardian Syaf. Ia menggambar untuk beberapa perusahaan komik diluar negri. Ternyata banyak juga komikus-komikus Indonesia yang bekerja sebagai  comic artist untuk perusahaan komik diluar negri. Dan menurut rekan sesama komikus peristiwa ini dapat mengancam mata pencaharian komikus-komikus di seluruh Indonesia.

        Tentang Ardian Syaf.
        * kutulis ini karena ada beberapa inbox yang menanyakan pendapat pribadiku mengenai kasusnya, juga pertanyaan dari beberapa wartawan hingga petang tadi. Daripada kutulis pendapatku berulang-ulang, lebih baik kubikin saja postingan ini.

        Jadi gini, ada perbedaan tegas antara komikus macam aku dengan Ardian Syaf, selain pandangan ideologi kami, tentunya. Di mata orang sepertiku, dia adalah penganut wahabi. Di mata dia, mungkin aku terbilang kafir. Soal perbedaan ideologi ini kami berdua gak pernah ada masalah. Setiap berjumpa di event komik kami hanya bicara seputar dunia komik saja, maka pertemanan kami selalu gayeng.

        Karena jika kami bicara soal ideologi, pasti bakal rame berantemnya. Makanya meskipun kulihat postingan FBnya sering berseberangan dengan idealismeku, gak pernah kuusik atau ikutan komen. Cukup dibaca saja dan dilewati.

        Kembali tentang perbedaan ‘jenis’ profesi komikus antara kami.

        Aku adalah komikus yang menggambar dan menulis sendiri cerita untuk komik-komikku, sedangkan Ardian Syaf menggambar komik yang hampir semua berdasarkan naskah dari klien. Selain dia, ada Admira Wijaya dll yang punya profesi yang sama. Klien mereka adalah perusahaan luar. Misalnya Marvel, DC Comics dll. Mereka lebih tepat jika kita sebut sebagai “comic artist”. Ya, tugas mereka hanya menggambar, tidak boleh menambahi apapun dalam konten cerita.

        Tindakan Ardian Syaf yang menambahkan simbol-simbol yang mengarah pada isu Al Maidah dan aksi 212 tentu saja bertentangan dengan ideologi perusahaan komik amerika yang jadi kliennya. Jadi wajar jika perusahaan tersebut sangat kecewa begitu dilapori tentang tindakan doi. Kudengar perusahaan tersebut melayangkan sanksi terhadapnya.

        Tapi masalah tidak sampai di situ saja. Dampak dari tindakannya cukup berbahaya bagi kelangsungan sandang pangan sesama comic artist Indonesia yang mencari nafkah dari perusahaan luar negeri. Kita tahu sendiri, suhu politik internasional sedang kayak gini. Terorisme merajalela, beberapa negara eropa terlihat mulai dijangkiti Islamofobia. Kawanku beberapa bulan lalu mengeluh, rombongan kesenian tradisional yang diikutinya batal manggung di salah satu negara karena permohonan visanya ditolak. Negara tersebut tidak mau menerima rombongan orang asal Indonesia yang berdomisili di daerah yang tercatat pernah menghasilkan teroris.

        Tuh, kan? Jangan bilang isu radikalisme tidak berdampak luas.

        Jadi apa yang dilakukan Ardian Syaf ini cukup membahayakan sandang pangan sesama kawan seprofesinya. Saranku untuk dia sih gampang saja. Jika dia ingin idealis, cobalah menerapkannya dengan memakai caraku.

        Komikku kerap secara vulgar mengkritik banyak pihak. Mulai wahabi, FPI, politisi korup, korupsi di tubuh birokrasi, militer dsb. Aku bebas menyuarakan idealisme dan ideologiku karena aku komikus INDIE, tidak terikat pada perjanjian dengan korporasi manapun. Dan aku bukan COMIC ARTIST, tapi AUTHOR. karyaku adalah hasil dari gambarku sendiri dan naskahku sendiri. Semua konten karyaku akan kupertanggungjawabkan sendiri tanpa ada yang bisa nyetir.

        Jadi gak usah koar-koar tentang ideologimu yang anti zionisme jika kau ternyata masih butuh sandang pangan dari perusahaan zionis. Kata orang-orang itu namanya munafik. Lebih parah lagi jika sudah munafik, membahayakan nafkah kawan-kawannya, lagi.

        Segitu saja ya pendapat dariku tentang kasusnya Ardian Syaf. Bisa kita lanjut diskusinya di kolom komentar

    Akhirnya memang komikus Indonesia menjadi tercemar namanya seperti komentar dari salah satu pengguna facebook ini.


    Sebenarnya awal masalah ini akibat reaksi berlebihan dari GNPF-MUI dan ternyata pada akhirnya menyatakan bukan pelecehan. Seandainya saja mereka tidak langsung berteriak-teriak tapi mencoba tabayyun dulu dan mendahulukan meminta pandangan MUI saya rasa keributan ini bisa dihindari.

    Kan lucu awalnya ramai bilang “indikasi pelecehan” meski hanya indikasi tapi tentu jadi ramai karena belakangan ini sedang marak soal penistaan. Lalu jadi ramai sampai-sampai pihak Marvel Comics bereaksi menghentikan produksi komik tersebut dan menghilangkan angka-angka yang jadi masalah pada peredaran selanjutnya. Ternyata akhirnya oleh GNPF sendiri dinyatakan bukan pelecehan. Sudah teriak-teriak ada kebakaran, orang-orang sudah diungsikan tapi ternyata gak ada kebakaran itu. Ya kacau jadinya.

    Jadi pertama saya setuju dengan tulisan dari sesama komikus untuk Ardian, gak perlu koar-koar tentang i anti zionisme kalau ternyata masih butuh duit dari perusahaan zionis. Kedua gak perlu juga langsung reaktif dengan soal penistaan agama ini. Seandainya tabayyun diutamakan dan memaafkan dikedepankan maka kisruh Pilkada ini tidak perlu terjadi. Sama seperti kejadian “Prabowo titisan Allah”, kan gak perlu lah dibesar-besarkan. Cukup klarifikasi, maaf-maaf’an dan selesai.


    Penulis :  Gusti Yusuf   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pandangan Sesama Komikus: Kejadian 212 di X-Men Bisa Mengancam Komikus Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top