728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 13 April 2017

    Pak Anies dan Pak Sandi: Jumlah Nelayan di Jakarta 12 Ribu atau 24 Ribu?

    DEBAT final calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu 12 April 2017. Ada enam segmen dalam tiga rangkaian debat yang dipandu Ira Koesno, presenter senior nan cantik jelita, pada intinya merujuk ke tema “Dari Masyarakat untuk Jakarta”.

    Topik-topik yang menjadi bahan perdebatan para paslon menyangkut transportasi, hunian, reklamasi, layanan publik yakni pendidikan, kesehatan, dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

    Ada dua hal yang paling menarik bagi saya ketika menyaksikan debat tersebut melalui saluran televisi. Hal pertama adalah kalimat kunci dari Anies Baswedan, yakni “Yang tidak kalah pentingnya adalah… dst.

    Tapi poin itu akan saya bahas dalam artikel yang berbeda. Kali ini saya akan membahas mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh komunitas nelayan. Penanya bernama Iwan dipercaya membacakan pertanyaan “rahasia” yang diambil dari dalam sebuah toples transparan berisi butiran-butiran gabus berwarna putih.

    Sebelum lebih detail, kita balik dulu ke pertanyaan pada judul artikel ini; berapa sebenarnya jumlah nelayan di Jakarta? Anies Baswedan menyebut angka “12 ribu…sekurang-kurangnya”. Sedangkan Sandiaga menyebut angka “24 ribu lebih jumlah nelayan di pesisir Jakarta.”

    Boleh ngeles dengan mengatakan, “Ya, 12 ribu kan sekurang-kurangnya. Artinya jika Sandiaga menyebut angka 24 ribu lebih, itu sama sekali tidak ada salahnya. Karena 12 ribu lebih itu jumlah minimal dan 24 ribu lebih itu (mungkin) jumlah maksimal.”

    Tetapi dengan range angka yang terlalu lebar, dua kali lipat, saya menduga pasangan Anies-Sandi menggunakan sumber data secara serampangan, akibatnya bias. Entah dari mana data tersebut berasal.

    Celakanya, jika mengacu data resmi dari Bappedan 2016, sebagaimana saya kutip dari CNN Indonesia, menyebutkan bahwa jumlah nelayan di Jakarta per 2015 sebanyak 25.208 orang, tetapi dari jumlah tersebut, hanya 2.167 nelayan yang memiliki KTP Jakarta sementara 23.041 nelayan bukan warga DKI.

    Dalam debat sepenting itu, di mana tujuannya bukan sekadar menarik perhatian pemilih, tetapi sekaligus menjadi janji bagi masyarakat, hemat saya paslon Anies-Sandi menggunakan prinsip “yang penting menyerang dan meruntuhkan kepercayaan publik terhadap paslon Ahok-Djarot selaku petahana”.

    Isi lengkap pertanyaan dan jawaban para paslon bisa dibaca pada suplemen di bawah artikel ini.

    Saya sepakat program-program petahana yang tidak berpihak kepada masyarakat harus diserang habis-habisan, tetapi amunisi yang dipakai harus tepat. Dalam hal ini, materi serangan yang digunakan harus sesuai fakta, bukan mengarang-ngarang data semata-mata untuk meruntuhkan lawan.

    Anies dan Sandiaga mati-matian menyatakan Ahok-Djarot tidak berpihak kepada masyarakat kecil, termasuk para nelayan di pesisir Jakarta. Karena itu, Anies-Sandi, jika terpilih, keduanya akan lebih memerhatikan kesejahteraan masyarakat kecil. Ada beberapa program yang tampaknya konkrit, tetapi dari penjelasan yang disampaikan tidak operasional. Perlu penjelasan lebih detail, namun sampai hari ini belum ada penjelasan detail yang diungkapkan kepada publik.

    Sebaliknya Ahok-Djarot, mampu menjelaskan program kerja sampai ke detailnya. Ada gambar-gambar yang menunjukkan program yang sudah berjalan, dalam progress, dan bagaimana hasilnya setelah program rampung dikerjakan.

    Saya harus jujur bahwa secara program dan fakta kinerja, Ahok-Djarot jauh mengungguli Anies-Sandi. Tetapi ini semua tergantung pada warga Jakarta. Warga Jakarta lah yang berhak memilih nasib mereka lima tahun ke depan.

    Memilih Ahok-Djarot maka program-program yang sudah dan sedang berjalan akan rampung sesuai rencana. Program-program yang direncanakan dan on progress, seperti pembangunan di pesisir yang nantinya akan bermanfaat bagi para nelayan, hampir bisa dipastikan akan sangat bermanfaat bagi para nelayan di sana.

    Sementara memilih Anies-Sandi maka sejumlah program yang sedang berjalan mungkin dihentikan (misalnya reklamasi Teluk Jakarta – jika paslon ini nantinya tegas dengan pendiriannya). Jika reklamasi dihentikan lalu melaksanakan proyek rehabilitasi, berapa banyak nelayan di pesisir Jakarta yang akan lebih sejahtera kehidupannya? Saya tidak menemukan jawaban konkrit Anies-Sandi, kecuali menyatakan mereka sangat berpihak kepada para nelayan.

    Menurut Anda, para pembaca Seword, dari dua paslon ini, mana yang ada jaminan program-program kerjanya akan direalisasikan dan mana yang (tampaknya) akan titik…titik? (eddy mesakh)

    SUPLEMEN (Dicatat dari hasil debat)

    Iwan, dari komunitas nelayan.
    “Pak, kami nelayan sudah tinggal di pantai Jakarta turun-temurun. Apakah kehidupan kami sebenarnya diakui atau tidak? Jika iya, apakah kebijakan pemerintah DKI itu masa depan kehidupan kami, saya menanyakan hal ini karena merasa program lain seperti reklamasi lebih diperhatikan sementara kehidupan kami nelayan diabaikan. Apakah kedua gubernur akan memperbaiki kehidupan nelayan dan akan mensejahterakan nelayan dan apakah mau menghentikan reklamasi atau … kesejahteraan nelayan tolong diperhatikan itu…

    Jawaban Anies Baswedan:
    “Ada dua belas ribu nelayan – sekurang-kurangnya – sayang dalam Jakarta Dalam Angka, statistik itu tidak ada profesi nelayan di situ. Karena itu, kami akan memastikan bahwa nelayan di Jakarta meningkat kesejahteraannya, dan salah satu caranya, mengapa kita menolak reklamasi, karena reklamasi itu justru memberikan dampak yang amat buruk kepada para nelayan kita.

    Selain itu, memberikan dampak kepada pengelolaan lingkungan. Kita tahu betapa ada 13 sungai yang mengalir ke Teluk Jakarta. Dan hadirnnya reklamasi di sana, konsekuensinya pada kita semua yang ada di ruangan ini. Banjir akan menjadi fenomena rutin bagi kita karena air yang mengalir justru dihadapkan dengan reklamasi.

    Dan yang ketiga, terkait dengan para nelayan. Kita akan memastikan program peningkatan kewirausahaan untuk nelayan dilakukan secara intensif. Kita akan latih, kita akan berikan modal, termasuk fasilitas perkapalan sehingga nelayan di Jakarta bisa merasakan manfaat mencari pencaharian di Teluk Jakarta, di sekitar Kepulauan Seribu. Ini yang sekarang terlewatkan.

    Kalau kita masuk di Kepulauan Seribu saja, pelatihan, pendidikan untuk para nelayan dan keluarga nelayan amat minim. Di sana kita akan kembangkan SMK untuk perikanan dan para nelayan dilatih sehingga bisa lebih produktif dalam mereka melaksanakan….” (waktunya habis).

    Jawaban Ahok
    Terima kasih Pak Iwan. Ini adalah nelayan Muara Angke. Rancangannya kami tidak pernah punya niat mengusir nelayan. Ini tematik. Bahkan ada kanal untuk perahu nelayannya. Ini adalah Muara Baru. Pantai Mutiara mengajukan izin untuk memperluas untuk perumahan mewah. Saya tolak! Kami tolak! Kami memperluas justru di sini, dapat tanah 10 hektare. Untuk apa? Supaya nelayan ada tempat sandar, termasuk ada tempat penyimpanan ikan. (Eh.. si ibu melirik ke si bapak saat dengar jawaban Ahok… seolah-olah dia ‘bilang’ tuh, rencana Ahok lebih baik… Ahok kalo sudah janji gak bakal ingkar deh! Tapi si bapak tetap memerhatikan penjelasan Ahok dengan sorot mata disipitkan.. :D)

    Termasuk pengolahan ikan seperti di Samsaman (?) Tapi ini akan dimiliki oleh nelayan. Lalu kita bisa lihat, kita harus bisa menyelesaikan banyak tanggul. Jakarta ini 1,5 meter di bawah muka laut. Kita lagi meninggikan 3,8 meter tanggul.

    Nah, tanggulnya sedang dikerjakan. Ini adalah tanggul yang dikerjakan dari Cilincing menuju Tanjung Priuk. Ketika tanggul ini jadi, maka ini semua ada tambatan untuk perahu. Dan bagaimana untuk perumahannya? Perumahannya akan kami taruh di tepinya, di tepi tanggul. Semua nelayan akan tinggal di tepi tanggul, perahunya di sini. Bahkan kami mulai memikirkan untuk Muara Angke.

    Kita sedang akan membangun restoran apung supaya ibu-ibu nelayan bisa melakukan ini. Restoran yang lama akan kita bongkar. Jadi sebetulnya lapangan bola Angke didesain pengembangan terpadu Muara Angke sudah jadi semua. Ini hubungannya apa dengan proyek reklamasi? Reklamasi itu, nelayan pun berhak tinggal di sana. Karena 50 persen tanah itu punya DKI.

    Tanggapan Sandiaga:
    Pak Iwan, jawaban saya ndak muter-muter. Bapak adalah bagian dari kami. Bapak akan diperhatikan, Bapak akan diberikan solusi untuk Bapak bisa naik kelas. Banyak sekali nelayan-nelayan yang kami temui, sekarang mengalami kesulitan. Kami memiliki program yang jelas berpihak kepada nelayan. Kami menolak reklamasi dan menghentikan reklamasi yang ada sekarang karena tidak terbuka dan tidak berkeadilan untuk para nelayan. Kami sudah katakan itu dari putaran pertama dan kami akan konsisten menyatakan bahwa kami berpihak kepada pada 24 ribu lebih nelayan yang ada di pesisir Jakarta. Kami ingin tingkatkan. Saya pernah inves di perusahaan pengolahan ikan, saya ingin bekerja sama dengan para nelayan agar para nelayan bisa melaut dan tangkapannya bisa lebih baik. (Anies tersenyum bahagia di belakang Sandi sambil manggut-manggut gembira) Ibu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) punya program yang baik dan kami akan memiliki kolaborasi dengan Ibu Susi untuk meningkatkan harkat danm martabat para nelayan.

    Jawaban Djarot
    Pak Iwan dan seluruh komunitas nelayan, saya terima kasih. Pak Iwan dan semuanya adalah bagian dari kita. Betul! Karena bagian dari kita maka tidak layak nelayan hidup dengan rumah-rumah seperti itu. Kami sudah ke sana dan kemudian saya sampaikan konsepnya untuk penataan rumah-rumah tersebut termasuk juga dengan membangun TPI yang memadai. Kita ingin nelayan kita itu betul-betul berdaya, bermartabat, dan anak-anaknya cerdas. Kita ingat betul bahwa anak-anak nelayan diberikan otak yang cerdas karena setiap hari makan ikan. Mereka berhak kehidupan yang lebih baik. Dan jangan sampai – meskipun di daerah banjir – selalu mereka kebanjiran. Karena apa, karena tanggulnya bocor. Kami ke kanal Muara, kami ke Muara Angke, berdiskusi dengan rekan-rekan nelayan, dan mereka mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Nelayan berhak untuk hidup lebih baik di Teluk Jakarta. Terima kasih.



    Penulis :   Eddy Mesakh   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pak Anies dan Pak Sandi: Jumlah Nelayan di Jakarta 12 Ribu atau 24 Ribu? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top