728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 10 April 2017

    Ormas Islam, ISIS, dan “Pembajakan” Simbol Keislaman

    Sekali lagi Nahdlatul Ulama (NU) membuktikan dirinya sebagai benteng atau pengawal Negara Kesatuan RI. Melalui Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, NU mengambil sikap berbeda, terkait aksi-aksi yang memobilisasi massa umat Islam pada bulan-bulan terakhir ini.

    Aksi-aksi itu memanfaatkan sentimen emosi massa, yang dipicu isu tuduhan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok dituding menista agama dalam pernyataannya di depan warga Kepulauan Seribu, ketika Ahok melakukan kunjungan kerja ke pulau itu.

    Aksi massa pun dilakukan berkali-kali setiap bulan, dengan agenda tuntutan penahanan Ahok. Aksi yang habis-habisan berfokus ke urusan Ahok ini memakan banyak energi, waktu, tenaga, pikiran, dan biaya umat.

    Perilaku berlebih-lebihan itu jadi mubazir karena banyak agenda penting yang lain jadi tidak tertangani.Seperti: masalah pendidikan, kesehatan, kemiskinan, kesenjangan sosial, terorisme, narkoba, dan lain-lain. Inilah yang dikritik keras oleh Kyai Said.

    Bagi Kyai Said, urusannya sederhana. Kalau tidak suka Ahok, ya tidak usah pilih dia lagi dalam pilkada. Tapi jangan demo terus-terusan, yang akhirnya tidak produktif dan merugikan agenda lain umat Islam.

    Dalam aksi-aksi massa sebelumnya, ormas FPI (Front Pembela Islam) tampak menonjol sebagai salah satu penggerak. Belakangan, setelah tokoh-tokohnya dikenai tuntutan hukum dalam sejumlah kasus, FPI surut ke belakang. Perannya digantikan oleh FUI (Forum Umat Islam), sebagai organisasi penggalang Aksi 313 pada 31 Maret lalu.

    Tentang FUI ini, Kyai Said mempertanyakan, umat Islam mana sebetulnya yang diwakili oleh FUI? Meskipun FUI memakai nama “Islam,” tidak lantas berarti merepresentasikan kepentingan umat Islam.

    Setidaknya, organisasi NU bukanlah “antek” FUI (meminjam istilah yang digunakan Kyai Said). NU yang punya massa berjumlah puluhan juta jiwa tidak pernah berada di bawah koordinasi, perintah, ataupun arahan FUI. Bahkan sikap NU, yang tegas menolak politisasi agama, berbeda kontras dengan FUI.

    Bercermin dari kritik Kyai Said terhadap “keterwakilan” umat Islam dalam tubuh FUI, memang harus kita akui, ada problem dalam memisahkan antara nilai ajaran Islam yang sebenarnya dengan simbol-simbol keislaman itu sendiri.

    Persoalannya, umat Islam sering sulit membedakan antara sekadar simbol-simbol keislaman dengan esensi nilai-nilai Islam yang pantas dibela. Ketidakmampuan memisahkan antara dua hal itu bisa berakibat fatal.

    Saya ambil contoh sederhana. Misalnya, ada seorang pencuri yang sengaja memakai kaos bertulisan syahadat beraksara Arab, dan melakukan aksi pencurian di sebuah toko. Apakah tindakan pencurian itu bisa dibenarkan? Jelas, tidak. Baik secara hukum negara maupun nilai-nilai Islam.

    Pencurian adalah pencurian. Perbuatan itu melanggar hukum, merampas hak orang lain, dan jelas salah. Bahwa yang bersangkutan mengenakan kaos yang menunjukkan identitas keislaman, tidak lantas membuat tindakan pencurian itu bisa dibenarkan.

    Nah, masalahnya saat ini banyak orang yang dengan mudah bisa “membajak” nama Islam, atau memanfaatkan simbol-simbol keislaman, untuk melakukan perbuatan melanggar hukum. Termasuk, aksi terorisme, misalnya.

    Kelompok ekstrem ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah salah satunya. ISIS menggunakan simbol bendera berlatar belakang warna hitam, bertulisan kalimat syahadat.

    Ini konon adalah simbol yang digunakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Bedanya, simbol ini digunakan ISIS yang sering melakukan pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM). Mereka merasa paling benar sendiri, dan karena itu merasa berada di atas hukum.

    Pihak-pihak yang dianggap musuh oleh ISIS bukan cuma non-Muslim, tetapi juga Muslim yang tidak satu aliran dan tidak sejalan dengannya. Termasuk yang dimusuhi ISIS adalah kelompok Muslim yang tidak mau tunduk pada kemauannya.

    Ajaran agama (menurut versi dan tafsiran ISIS sendiri) dijadikan sebagai pembenaran untuk melakukan kejahatan-kejahatan kemanusiaan. Seperti: pembunuhan, perampasan hak milik, pengusiran warga dari tempat tinggalnya, pemaksaan dalam agama, terorisme, bahkan pemerkosaan.

    Yang lebih gawat, propaganda ISIS sudah menyebar ke seluruh dunia. Banyak yang terkecoh dengan simbol-simbol agama itu. Nah, umat Islam Indonesia juga ada yang terkecoh oleh simbol-simbol keislaman yang dikibarkan ISIS.

    Mereka tidak mampu bersikap kritis, karena mentalnya “sudah terhegemoni.” Kalau mengritik ISIS, mereka merasa seolah-olah menjadi mengritik Islam itu sendiri.

    ISIS dianggap tidak mungkin berbuat salah, karena ISIS mengibarkan bendera bertulisan syahadat. Sedangkan syahadat adalah pernyataan keimanan yang paling dasar dalam ajaran Islam.

    Justru di sinilah letak manipulasi lihay yang dilakukan ISIS dan para pendukungnya. Mereka telah “membajak” simbol keislaman. Lewat simbol bajakan itu, orang yang menentang ISIS dianggap anti-Islam. Padahal, ada perbedaan besar antara anti-ISIS dan anti-Islam.

    ISIS tidaklah mewakili nilai-nilai Islam dan tidak pernah menjadi representasi Islam. Jihad a’la ISIS dilancarkan berdasarkan alasan-alasan yang salah dan dengan cara-cara yang salah.

    Persoalan saat ini, sejumah elemen simpatisan ISIS dan mereka yang “membajak” simbol-simbol keislaman ini ikut memancing di air keruh. Mereka memanfaatkan Pilkada DKI Jakarta untuk memperjuangkan agenda-agendanya sendiri.

    Mereka menawarkan dukungan kepada salah satu pasangan calon, namun dukungan itu tidak gratis. Bayarannya tentu saja agenda-agenda mereka harus masuk, jika si pasangan calon itu terpilih memimpin DKI nanti. Dan agenda itu sangat mungkin tidak sejalan dengan komitmen kebangsaan dan kebhinekaan kita. ***


    Penulis : Satrio Arismunandar   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ormas Islam, ISIS, dan “Pembajakan” Simbol Keislaman Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top