728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 30 April 2017

    Menteri Agama Keluarkan 9 Seruan Pada Penceramah ?

    “Dalam rangka menjaga keragaman, kami perlu menyikapi dengan bijak melalui pendekatan terhadap penceramah di rumah ibadah” Ujar Lukman dalam koferensi pers di kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat 28 April 2017.

    Bapak Lukman H Saifuddin, mengapa anda hanya menyampaikan 9 seruan tanpa ada hukuman terkait penyimpangan dalam 9 seruan ini ? Yang sudah tahu bisa di skip saja.

    Penceramah memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia.
    1. Penyampaiannya berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.
    2. Disampaikan dalam kalimat yang baik, santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan. Terbebas dari umpatan, makian maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama manapun.
    3. Bernuansa mendidik, pencerahan yang meliputi spiritual, intelektual, emosional, dan multikultural. Materi diutamakan berupa nasihat, motivasi,dan pengetahuan yang mengarah kepada kebaikan, peningkatan kapasitas diri, pemberdayaan umat, penyempurnaan akhlak, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa serta kesejahteraan dan keadilan sosial.
    4. Materi yang disampaikan tak bertentangan dengan empat konsesnsus Bangsa Indonesia yaitu Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
    5. Materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.
    6. Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan penodaan dan atau pelecehan terhadap pandangan keyakinan dan praktek ibadah antar/dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis dan destruktif
    7. Materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan atau promosi bisnis.
    8. Tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah.

     Pertanyaan selanjutnya, apakah penceramah yang mempunyai kepentingan politik hanya memprovokasi jemaah di rumah ibadah ? Bukankah sudah diketahui secara umum bahwa penceramah juga memprovokasi warga melalui acara-acara terbuka ? Kalau secara tertutup ini namanya agenda.


        Bapak Lukman H Saifuddin harus belajar pada Mesir, pasca jatuhnya Presiden Mursi, pemerintah Mesir melarang penceramah agama menyebar kebencian dan hasutan di masjid dan di ruang terbuka. Agar ceramah keagamaan tidak terkontaminasi dengan kepentingan politik, penceramah harus non partai. Tegas, mempunyai pemahaman yang mendalam dan profesional. Terfokuskan untuk ajaran agama yang sempurna, digaji oleh pemerintah dan diperkenalkan ke penjuru nusantara.

     Kalau penceramah provokator beraksi di ruang terbuka dengan mengerahkan massa dan menghancurkan infrastruktur negara, NKRI kita yang terkenal dengan Islam rahmatan untuk semua kalangan akan hancur lebur, tidak tersisa, Islam di dunia tidak tersisa terkecuali namanya sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad SAW.

     Di negara Mesir, para ulama yang terafiliasi dengan jaringan teroris dilarang memberikan ceramah. Mengenai sertifikasi, pemerintah Mesir sangat selektif. Dalam laporan reuters.com, 12.000 penceramah ditolak dan 17.000 penceramah diberikan lisensi. Pemerintah harus ingat bahwa isu agama dalam politik adalah hal yang serius. Di semester pertama saya kuliah di UINSA, bulan September 2016, Bapak Azyumardi Azra bertandang dan diterima di Twin Towers lantai 9. Acara yang dihelat mengenai Politik Islam.


    Saya bertanya :

    “Apa langkah khusus pemerintah dalam menangani isu SARA di Pilkada ?”



    Pada saat itu Gerindra sepakat berkoalisi dengan PKS dengan mengusung nama Sandiaga Uno, nama pasangannya belum ditentukan. Jawaban Azyumardi Azra seperti ini :

    “Muslim di Indonesia itu toleran, jadi pemerintah tidak perlu upaya khusus untuk menangani hal itu. Dan kalau ada orang Islam yang menyerukan ajakan memilih pemimpin muslim itu ya wajar-wajar saja. ”



    Dalam acara itu beliau bercerita bahwa pemerintah Inggris sangat kagum pada Islam di Indonesia. Dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, sangat sedikit dalam catatan kepolisian yang bergabung dengan ISIS. Sedangkan di Inggris, jumlah muslim yang bergabung dengan ISIS lebih dari separuh jumlah orang muslim di negara tersebut. Beliau dapat berkunjung ke UINSA karena dihubungi oleh dosen pengampu Ilmu Politik UINSA, Laili Bariroh.M.Si



    Menjelang pencalonan Pilkada, di layar TV bagian bawah (yang bergerak) Kapolri menghimbau agar tidak ada yang menggunakan SARA dalam Pilkada. Namun karena kita tidak mempunyai keterangan yang jelas dalam menangani isu SARA dalam Pilkada, terjadilah provokasi kebencian mengenai Pilkada di Masjid Istqilal pada 212. MUI melayangkan fatwa “tuduhan” menista agama tanpa investigasi pada 11 Oktober 2016, lahirlah GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) yang berdemo hingga ada korban meninggal, ratusan luka-luka dan biaya pengamanan untuk demo 411 dan 212 hingga 76 miliar.



    Lawan politik selalu mencari kesalahan untuk dijadikan kesempatan dalam menyuarakan kebencian, bertindak radikal dan mempersepsikan bahwa ini atas nama rakyat banyak. Mendulang suara massa. Atas nama rakyat atau atas nama golongan untuk pemenangan kekuasaan ?



    Saya berkata seperti ini ketika melihat kampanye dengan pemakaian agama “Apa gue bilang ?” Dari hal itu saya menyimpulkan bahwa Muslim di Indonesia adalah muslim yang taqlid alias manut kepada ulama yang dipercayainya. Apakah kita dapat menjamin bahwa toleransi orang muslim di Indonesia adalah karena pengetahuan yang mendalam tentang ajaran agama ?



    Budaya yang ada di tengah-tengah kita adalah pengkultusan dan manut kepada ulama. Benar kata bang Plato “Demokrasi adalah sistem yang berbahaya karena tidak semua warga mempunyai pengetahuan yang baik dalam menentukan keputusan politik.”



    Bila kita mau belajar pada negara Bangladesh, dalam investigasi 5 teroris di negara tersebut, diungkapkan beberapa temuan. Para teroris adalah orang yang tidak mempunyai kepuasan hidup yang layak (faktor ekonomi dan psikologi), dari orang dengan kekayaan yang melimpah dan yang terakhir menggunakan dalil agama sebagai pembenaran dalam memerangi orang-orang non muslim. Di daerah Dhaka-Bangladesh, sebanyak 20 orang meninggal dunia akibat teroris. Bangladesh adalah negara dengan penduduk 160 juta jiwa yang mayoritas warganya adalah muslim. Apakah di negara kita motifnya juga demikian ?



    Terakhir saya mengingatkan kepada pemerintahan, apa yang ditanam akan dituai. Kalau ada yang menanam Islam radikal, maka akan ada yang panen besar-besaran. Jika ada yang menyirami secara terus menerus Islam nusantara, maka hasilnya ia akan tumbuh berkembang dan menaungi. Sebaliknya, bila  Islam garis keras menjamur, mereka akan turun ke jalan dan membabi buta ketika ada skenario politik bahwa muslim dibunuh, dipenjarakan dan diperkosa. Apakah ini pandangan yang berlebihan ?



    Kita harus melihat balik kasus Antasari Azhar, Hary Tanoesoedibjo yang mendatangi Antasari untuk menghentikan kasus korupsi Aulia Pohan (besan SBY) sebesar 100 miliar dalam pencairan dana BI, berkolaborasi dengan SBY dan tidak segan-segan menghilangkan nyawa Nasruddin. Apakah saya menuduh kedua orang tersebut melakukan pembunuhan ? Lebih tepatnya, saya berpendapat kasus ini sepengetahuan mereka berdua.



    Terbuat skenario cinta segitiga, Antasari berebut Rani Juliani dengan Nasruddin. Alhasil, Antasari dihukum dengan tuduhan turut serta dalam pembunuhan Nasruddin.  Saya kemudian belajar bahwa nyawa itu nomor kesekian dalam politik. Jadi bila ke depan nanti ada konspirasi abu-abu dan gerakan radikal yang membabi buta, maka saya akan bersikap sama seperti September-April bulan ini “Apa gue bilang ?”



    Jika seworders membaca koran Jawa Pos halaman 11 kemarin, Lukman sebagai menteri agama dinilai terlambat dalam mengeluarkan 9 Seruan kepada penceramah, Lukman menjawab ” Lebih baik terlambat dari pada tidak. ” Coba fikirkan, Lukman sebagai saksi sekaligus aparat hukum melihat perempuan diperkosa, dia hanya melihat seraya berkata “Jangan perkosa perempuan itu. ” Apakah iya kita tidak mengumpatinya “ASU.” Maaf bila ada kata yang tidak pantas, Lukman H Saifuddin tidak Berintegritas. Kami hanya ingin Islam nusantara lestari. Lukman H Saifuddin harus tetap reshuffle. Geser Lukman H Saifuddin.



    Malam ini saya jadi teringat kepada Ibu saya, andai saya dapat bertemu dengan Bapak Lukman semudah saya bertemu ibu dengan pulang kampung halaman, saya akan menanyai beliau sebagai berikut :



    “Bapak Lukman, bagaimana kabarnya ? Anda sekeluarga sehat wal afiat ? Saya dan para pengagum Islam Nusantara percayakan Islam nusantara di tangan anda, kalau anda tidak sanggup menangani tekanan politik dengan agama, anda perlu rekan yang solid, lebih baik meminta rekan kepada Presiden. Tidak perlu memaksakan diri. Sekian dan terima kasih.”

    Klik untuk baca karya saya mengenai Lukman H Saifuddin : https://seword.com/author/hayat/

    Sumber :

    thearabweekly.com -m.asianews.it-m.reuterscom-gosumbar.com



    #SaveIndonesia

    #GeserLukmanHSaifuddin

    #SaveIslamNusantara


    Penulis :  Ainul Hayat   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menteri Agama Keluarkan 9 Seruan Pada Penceramah ? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top