728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 April 2017

    Menggugat Inkonsistensi dan Nasionalisme Prabowo Subianto

    Prabowo Subianto, seorang mantan Danjen Kopassus yang berkuasa pada era Soeharto, memiliki mantan istri bernama Siti Hediati Hariyadi atau lebih dikenal dengan Titiek Soeharto. Mantan menantu kesayangan Soeharto itu memiliki masa lalu yang cerah, sebagai salah satu orang yang ditakuti pada era tersebut. Masa lalu yang begitu cerah dijual olehnya dengan murah. Masa lalu yang begitu cerah dijual dengan masa depan di dunia politik.

    Mengurus keluargapun sulit, bagaimana Prabowo ingin mengurus dunia perpolitikan yang tentunya lebih sulit daripada mengatur keluarga? Menjadi imam di keluargapun sulit, bagaimana menjadi imam untuk warga? Ini bukan candaan, namun ini merupakan pertanyaan serius yang harus dijawab oleh Prabowo Subianto.

    Pendiri partai Gerindra ini akhirnya harus dikalahkan oleh Sang Pengusaha Mebel dari Surakarta, Presiden Joko Widodo. Pak Dhe memiliki masa lalu yang biasa-biasa saja. Lulusan Insinyur yang diperolehnya di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada Yogyakarta menandakan betapa biasanya kehidupan Pak Dhe Jokowi. Siapa sangka orang seperti ini menjadi Presiden Republik Indonesia?

    Tentu ini menjadi hantaman tersendiri bagi Prabowo Subianto dan kroni-kroninya, khususnya yang berada di dalam dunia militer. Dunia militer dan keluarga-keluarga keturunan militer diguncang dengan kehadiran “tukang kayu” ini.

    Nasionalisme dari Pak Dhe tidak perlu dipertanyakan lagi. Orang ini sangat nasionalis. Bahkan Pak Joko Widodo bahkan tidak pernah terpikir sedikitpun untuk berpindah warga negara, padahal pada saat ia menjadi pengusaha, situasi keamanan Indonesia (tahun 1998) banyak membuat para pengusaha meninggalkan Indonesia. Pak Dhe tidak melakukan hal tersebut.

    Namun sayangnya nasionalisme Pak Dhe tidak terlalu terlihat karena memang ia tidak dikenal seperti Prabowo pada saat itu. Bukanlah suatu hal yang mustahil dan tidak mengherankan jika pada saat pemilihan presiden 2014, banyak kubu Prabowo yang menggunakan isu-isu terkait dengan nasionalisme kepada Pak Joko Widodo.

    Sempat heboh pada pemberitaan, ada yang mengatakan Joko Widodo adalah antek asing, ia juga dianggap kafir, aliran sesat, dan banyak fitnah yang dihantam kepadanya. Namun sekali lagi, hal tersebut tidak meruntuhkan semangatnya di dalam menjadikan Indonesia yang lebih baik, yaitu mengalahkan Prabowo, dan memenangkan kontes Pilpres 2014.

        “Semua diatur dengan uang, oh nanti pemilihan rakyat Indonesia miskin bodoh kasih aja Rp100 ribu. Saya anjurkan di mana-mana terima uangnya tidak usah hutang budi tidak usah terima kasih,”  – Prabowo Subianto

    Pengusung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di dalam melakukan kontestasi Pilkada DKI Jakarta juga memiliki beberapa keanehan. Keanehan pertama, Prabowo terkenal sebagai seseorang yang nasionalis, namun perkataannya tidak menunjukkan nasionalisme sama sekali. Ambil uangnya dan jangan hutang budi, itu bukankah mental korupsi?

    Keanehan kedua, Prabowo juga dikenal sebagai seorang mantan petinggi militer. Tentara dikenal dengan konsistensinya, namun lucu sekali, ia bisa tidak konsisten dengan kalimatnya. Anies mungkin saja terlahir dari ketidak konsistenan Prabowo Subianto.

        “Kita akan hilangkan sebanyak mungkin koruptor, kita negara kaya dan kita akan bangkit. Jangan lupa menangkan Anies-Sandi, rebut Jakarta selamatkan Indonesia,” – Prabowo Subianto

    Keanehan ketiga, Prabowo juga sempat menjadi pahlawan negara di dalam mengatur keamanan negara. Namun anehnya, ia juga menjadi satu orang yang mengancam keamanan Jakarta. Pendukung Prabowo (mungkin pasukan nasi bungkus) yang tidak menerima kekalahan, sempat membuat Jakarta sangat mencekam. Massa yang berkumpul di depan gedung MK yang adalah pendukung Prabowo mengeluarkan kalimat-kalimat yang provokatif dan mengancam. Inikah yang namanya mantan Danjen Kopassus?

    Setali tiga uang dengan sang adik, seolah-olah ada rezim lama yang ingin dimunculkan. Banyak sekali orang-orang yang tidak suka dengan pemerintahan Pak Joko Widodo dan Pak Basuki Tjahaja Purnama. Mereka adalah orang-orang jujur yang terzolimi oleh kepentingan orang-orang masa lalu. Mereka menggunkan isu SARA.

    Jadi inginkah Jakarta dipimpin oleh Anies yang adalah “anak ideologi” Prabowo? Keanehan-keanehan yang sudah dibahas tentu harus senantiasa menghantui pemikiran kita. Melihat hasil pilkada DKI Jakarta nanti, sebenarnya menunjukkan apakah warga Jakarta mayoritas adalah warga yang cerdas atau “cerdas”.

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis :  Hysebastian  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menggugat Inkonsistensi dan Nasionalisme Prabowo Subianto Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top