728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 11 April 2017

    Menganggap Eep Tidak Profesional, Prabowo Menjilat Ludah Sendiri Dengan Menggandeng Denny JA Sebagai Konsultan Politik?

    Denny Januar Ali atau yang biasa dikenal dengan Denny JA di gandeng Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto pada Minggu, 9 April 2017 yang lalu. Pertemuan ini khusus membahas pemenangan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilkada DKI 2017. Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) ini diundang secara khusus oleh Prabowo. Menurut Denny beberapa strategi memang sudah dirumuskan. Di antaranya dengan mengembalikan isu kebangsaan dan kebhinekaan.

    Prabowo tampaknya ingin mempunyai konsultan politik yang lebih profesional pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Karena itu, ia mengundang Denny JA untuk bertemu secara langsung. Padahal seperti kita ketahui saati ini Anies-Sandi sudah menggandeng PolMark Indonesia yang dikomandani Eep Saefulloh Fatah sebagai konsultan politik mereka. (Sumber)

    Prabowo Panik dan Gundah

    Isu kebangsaan dan kebhinekaan yang menjadi pokok bahasan dalam pertemuan antara Prabowo dan Denny JA menyiratkan kekecewaan terhadap Eep Saefulloh Fatah yang dianggap gagal menjadikan Anies-Sandi sebagai sosok pasangan cagub yang menjunjung semangat kebangsaan dan kebhinekaan. Strategi kampanye Anies-Sandi yang disarankan oleh Eep dengan menggunakan jaringan masjid untuk mengalahkan Ahok-Djarot jelas menciderai semangat kebangsaan yang ingin ditonjolkan oleh Prabowo.

    Yang terbaru adalah gagalnya acara debat antara Sandiaga Uno dengan Djarot Saeful Hidayat yang diselenggarakan oleh Kompas TV menjadi pemicu Prabowo kecewa terhadap Eep. Sebagai mantan tentara Prabowo jelas merasa dikerdilkan oleh saran Eep agar Sandiaga Uno ‘dipaksa’ untuk menghidar, publik menganggap Anies-Sandi pengecut, lari dari debat dan jelas menyinggung Prabowo Subianto.

    Prabowo juga gerah melihat peta dukungan suara terhadap Anies-Sandi yang didominasi oleh kelompok garis keras. Prabowo membaca situasi di mana Pilkada Jakarta 2017 ini tidak sekedar berebut kursi gubernur, tapi pertarungan Anies-Sandi dan Ahok-Djarot seperti pertarungan kelompok intoleran dan cenderung radikal melawan kelompok nasionalis dan Islam moderat (toleran). Ini tentu di luar keinginan Prabowo Subianto.

    Prabowo pantas gundah, karena Anies-Sandi adalah ujung tombak baginya untuk menggapai mimpi sebagai presiden. Prabowo menaruh banyak harapan melalui Pilkada Jakarta ini sebagai pintu masuk baginya untuk menantang kembali Jokowi di 2019 nanti. Prabowo membutuhkan elemen bangsa bergabung mendukungnya adalah yang menjunjung kebhinekaan yang berlandaskan Pancasila sesuai dengan ideologi Prabowo dan partainya. Bukan kelompok Islam intoleran atau kelompok yang cenderung radikal dan berniat untuk mengganti NKRI dengan negara Islam. Jika stigma negatif tersebut terus melekat dalam sosok Anies-Sandi tentu Prabowo akan menerima dampak buruk di Pilpres 2019 nanti.

    Prabowo seperti tersentak dengan dinamika yang ada saat ini. Realitanya Anies-Sandi memang banyak didukung oleh kelompok intoleran seperti HTI, FUI, FPI dan lainnya, sementara kelompok yang toleran cenderung mendukung Ahok-Djarot. Prabowo seharusnya menyadari hal ini dari awal. Koalisinya dengan PKS yang notabene merupakan dua partai oposisi pemerintah merupakan salah satu pintu masuk bagi kelompok-kelompok intoleran tersebut merapat ke Prabowo.

    Isu-isu asing, aseng dan PKI yang dihembuskan kepada Jokowi di 2014 dan terhadap Ahok saat ini mau tidak mau menimbulkan kelompok fanatik agama dan ‘warga bumi bulat’ antipati terhadap Jokowi dan Ahok. Kelompok korban sakit hati dan tidak bisa move on, para mafia pungli, dan pihak yang ‘kran rejeki haram’ nya ditutup oleh Jokowi dan Ahok merapatkan barisan, menjauhi Jokowi-Ahok, dan otomatis bergabung dalam barisan oposisi yang digalang oleh Gerindra dan PKS.

    Isu-isu primordial yang disinyalir diluncurkan oleh timses paslon nomor 1 (baca: Kelompok Cikeas) untuk menghancurkan Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta sepertinya akan berhasil di putaran pertama. Elektabilitas Ahok-Djarot hancur lebur mendekati titik nadir bahkan pernah diramalkan akan kalah. Walaupun pada akhirnya warga Jakarta yang ‘waras’ dan tidak terpengaruh isu-isu tersebut sekitar 40 % memenangkan Ahok-Djarot.

    Di putaran kedua Pilkada Jakarta pelan tapi pasti isu-isu primordial tersebut dipukul mundur oleh Timses Ahok-Djarot, walaupun belum ada survei terbaru yang diluncurkan oleh lembaga survei untuk mengukur elektabilitas masing-masing paslon, tapi indikasi bahwa Ahok-Djarot mulai mengungguli Anies-Sandi bisa kita amati lewat ‘Aksi 313’ yang minim peserta sangat jomplang jika dibandingkan dengan ‘Aksi 411’ dan ‘212’. Politik jualan ayat dan politisasi mayat, spanduk provokasi dan intimidasi serta propaganda yang sepertinya sudah basi dan bikin muak warga Jakarta.

    Melalui sidang kasus dugaan penodaan agama, warga justru semakin menyadari bahwa kasus yang menimpa Ahok adalah politisasi dan menggunakan isu agama untuk menenggelamkan Ahok. Di putaran kedua juga kita bisa melihat pengalihan dukungan dari pemilih Agus-Silvi bahwa kelompok fanatik agama yang tetap percaya bahwa Ahok menista agama dan kelompok yang haters permanen Ahok akan  berada di barisan Anies-Sandi sementara kelompok nasional dan Islam toleran berbalik badan mendukung Ahok Djarot.

    Ketika Ahok-Djarot sedang mulai ‘menikmati’ hasil dari kegigihannya untuk menendang balik semua isu-isu primordial, di pihak lawan justru mulai gundah. Stigma negatif bahwa Anies-Sandi didukung oleh kelompok intoleran semakin mengemuka. Inilah yang pada akhirnya membuat Prabowo menggaet Denny JA sebagai konsultan politiknya. Denny JA ditugaskan untuk mengubah citra tersebut.

    Berhasilkah Denny JA?

    Denny mengklaim lembaga survei yang dipimpinnya memiliki rekam jejak baik. Survei yang diselenggarakan untuk tiga kali Pilpres dan 31 gubernur tepat sesuai dengan hasil resmi KPU.

    Menurut Denny beberapa strategi memang sudah dirumuskan. Di antaranya dengan mengembalikan isu kebangsaan dan kebhinekaan.

    “Baik Ahok ataupun Anies sama-sama mengangkat isu kebangsaan. Namun isu kebangsaan Anies lebih kuat secara gagasan. Anies yang didukung Prabowo mengembangkan isu kebhinekaan yang lebih kental keadilan sosialnya. Isu kebangsaan yang lebih mungkin stabil pula,” kata dia.

    Kestabilan di berbagai bidang, kata Danny, sangat dibutuhkan untuk Jakarta yang notabene Ibu Kota negara. “Padahal ekonomi, bisnis dan pemerintahan nasional membutuhkan Jakarta yang lebih stabil,” dia menandaskan. (Sumber)

    Itulah yang dikemukakan oleh Denny JA ketika bertemu dengan Prabowo. Sah-sah saja Denny mengklaim bahwa lembaga survinya memiliki reputasi yang baik dan tidak salah juga kalau Denny mengungkapkan bahwa isu kebangsaan Anies lebih kuat secara gagasan karena memang di situlah kelebihan Anies Baswedan, manusia yang kaya dengan gagasan dan ide tapi tidak pada implementasinya.

    Berikut dua hal yang menarik berkaitan dengan Denny JA dan LSI yang dipimpinnya yang pada akhirnya dijadikan konsultan politik oleh Prabowo Subianto.

    Pertama, Denny JA ditengarai merupakan orang dekat SBY dan AHY. Hasil-hasil survei dari LSI Denny JA ini seringkali menempatkan AHY di peringkat pertama untuk membangun persepsi publik bahwa AHY adalah calon yang layak di pilih dan pasti menang. LSI dengan sangat pede nya memberikan gambaran bahwa AHY pasti lolos ke putaran kedua, padahal dalam kenyataannya AHY masuk kotak terlebih dahulu. Ada kesan bahwa LSI sering membuat survei untuk menguntungkan kliennya, memutar balikan fakta agar publik percaya dengan hasil survei yang mereka keluarkan. Di sini kita bisa melihat fakta beberapa hasil survei dari Denny JA yang meleset, salah satunya yang hasil ngawur nya pada Pilgub Jakarta 2012. (Sumber).

    LSI Denny JA juga sempat dikritik oleh Kordinator Relawan Sohib Anies-Sandi Siti Mafruroh yang mengatakan jika hasil survei elektabilitas yang menempatkan Anies-Sandi berada di posisi buncit dan akan tereliminasi di putaran pertama. LSI  Denny JA dianggap sangat tendensius dan terkesan ingin menggiring opini masyarakat agar tidak memilih Paslon yang diusung Gerindra-PKS. (Sumber 1 & Sumber 2).

    Kedua, Prabowo adalah orang yang tidak percaya dengan hasil survei yang banyak bohong dan hasilnya sesuai pesanan. Menurutnya banyak lembaga survei yang tidak jujur dalam mengumkan hasilnya.

        Dia menyatakan bahwa seharusnya polling atau survei tersebut dilakukan terbuka, termasuk siapa yang menandatangani kontrak. Hal tersebut menurut Prabowo agar membuahkan kepercayaan terhadap hasil yang disampaikan.

        “Jadi begini polling itu harus juga jujur, polling itu tidak boleh membentuk suatu persepsi yang tidak benar, nah ini yang saya lihat rakyat sudah tidak bodoh, polling tergantung siapa yang kontrak,” katanya.

        Prabowo menyatakan hasil survei banyak digunakan sebagai senjata politik oleh oknum-oknum yang memiliki uang. Dia menegaskan bahwa demokrasi Indonesia tidak seharusnya dibeli dengan uang oleh oknum-oknum.

        “Hai kau tukang polling yang katanya ahli, jangan kau pakai keahlianmu itu untuk jadi kaya,” tutur Prabowo.

    (Sumber)

    Dua hal yang sangat menarik, satu sisi Prabowo yang terlanjur apatis terhadap konsultan politik atau lembaga survei terpaksa panik dan harus menjilat ludahnya sendiri dengan memilih Denny JA sebagai konsultan politiknya. Lebih menarik lagi karena Denny JA bersama LSI yang meramalkan lewat surveinya bahwa Anies-Sandi akan tersingkir di putaran pertama.

    Lalu apa yang sebenarnya di cari Prabowo dari Denny JA?

    Dugaan saya Prabowo ingin mendapat masukan dari Denny JA dan sekaligus meminta Denny JA untuk mencitrakan Anies-Sandi melalui penelitiannya dan hasil survei akan digiring supaya publik Jakarta melihat Anies-Sandi sebagai tokoh yang plural yang mengutamakan keberagaman dan kebhinekaan bukan sosok paslon yang intoleran karena masa pendukung yang ada di belakang mereka.

    Pada akhirnya, sukses atau tidaknya strategi Prabowo ini akan sama-sama kita lihat hasilnya pada tanggal 19 April 2017 mendatang melalui hasil quick count Pilkada Jakarta 2017.


    Salam Kura-Kura,


    Penulis : Aliems Suryanto   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menganggap Eep Tidak Profesional, Prabowo Menjilat Ludah Sendiri Dengan Menggandeng Denny JA Sebagai Konsultan Politik? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top