728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 11 April 2017

    Mempersoalkan Video Kampanye Ahok – Djarot, Apakah Sebuah Reaksi Formasi? Sebuah Analisa Psikologis Sederhana

    Sudah lihat video kampanye Ahok – Djarot #BeragamItuBasukiDjarot kan?

    Saya berharap seworders sudah menyaksikan video itu dan memperhatikan adegan-adegan dalam video serta mendengar orasi Djarot Syaiful Hidayat.

    Bayangkan suara orasi Djarot:

    Saudara-saudaraku

    Seluruh warga Jakarta

    Waktu sudah mulai mendekat

    Jadilah bagian dari pelaku sejarah

    Dan akan kita tunjukkan bahwa negara Pancasila benar-benar hadir di Jakarta

    Kita juga akan tunjukkan bahwa Bhineka Tunggal Ika benar-benar bukan hanya jargon tapi sudah membumi di Jakarta

    Siapapun kalian, apa agama kalian

    Apa suku kalian, dari mana asal-usul kalian

    Saudara-saudara semua adalah saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air

    Dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama

    Jangan tanyakan dari mana kau berasal

    Jangan tanyakan apa agamamu

    Tapi tayakan apa yang telah kau perbuat untuk Jakarta

    Terhadap video berdurasi 2 menit itu muncul beragam reaksi.

    Bagi pendukung Ahok –Djarot dan warga yang melihat kebhinekaan Indonesia, orasi itu sungguh menggugah dan mengingatkan bahwa Pancasila adalah benteng pertahanan ideologi bangsa Indonesia.

    Cara pandang itu ternyata berbeda dengan Kubu yang pro Anies – Sandi. Mereka  menganggap video itu provokatif, mendatangkan ketakutan, menyudutkan umat Islam dan lain sebagainya.

    Munarman jubir FPI angkat bicara. Ia mengatakan Itu cara kampanye yang sangat bodoh. Menurut dia, iklan tersebut menjual sekaligus membangun ketakutan di tengah masyarakat, dan justru memprovokasi konflik SARA. Hal ini dianggap sebagai usaha yang menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan. [1]

    Pernyataan Munarman itu aneh. Ia mengatakan video itu menjual sekaligus membangun ketakutan. Apakah sekarang dia menjadi seorang pengikut gerakan anti kekerasan ?

    Seworders mungkin masih ingat sebuah peristiwa memalukan di TV One pada tahun 2013. Kala itu Munarman bersama Prof. Tamrin Tomagola menjadi nara sumber di TV kebanggaan pendukung Prabowo, PKS, Anies – Sandi CS itu. Dalam perdebatan itu Munarman terpojok. Karena tidak bisa memberi argumen yang jelas, ia menyiram Prof. Tamrin Timagola dengan secangkir teh. Apa itu bukan kekerasan? Jadi aneh jika tiba-tiba bung Munarman mengatakan video kampanye Ahok – Djarot itu menjual dan membangun ketakutan.

    Aa Gym yang beberapa saat tenang, juga bangkit dari ketenangannya. Melalui twitter, ia mencuit,

    “Pak Ahok, saya protes keras video kampanye yang sangat menyudutkan umat Islam, ini fitnah yang sangat kotor dan keji,”

    Ia menyebut video kampanye dari kubu Ahok bermuatan fitnah. Namun, dia meminta semua umat Islam yang terluka untuk menahan diri.

    “Kepada semua umat Islam yang terluka dengan kampanye kotor ini, diserukan tetap tenang dan jangan terprovokasi, jaga akhlak perkuat ibadah”. [2]

    Ah, mengapa Aa Gym berkata begitu? Apakah Djarot yang berorasi itu bukan seorang pemeluk Islam? Ia seorang yang taat lho A’.  Dengan cuitan itu, Aa Gym melakukan generalisasi seolah kubu Anies – Sandi adalah kubu Islam dan kubu Ahok – Djarot adalah kubu yang anti Islam.  Generalisasi itu sangat prematur dan berbahaya. Apakah dalam video itu ada ucapan menghina Islam?

    Supaya Munarman dan Aa’ Gym memahami makna video itu alangkah baik jika mendengar apa makna video itu dari sisi pembuatnya. Bukanlah mengklarifikasi sesuatu yang dianggap sebagai masalah itu lebih baik ketimbang menanggapi namun tanpa dasar pemahaman yang jelas?

    Juru bicara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat, Raja Juli Antoni, membantah ada provokasi dalam video kampanye yang baru saja dirilis pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan dua DKI Jakarta itu.

    “Video itu menceritakan fakta historis kita sebagai bangsa, di mana proses nation building kita memang belum selesai. Selalu ada dalam penggalan sejarah kita, provokator yang mengancam dan mencabik-cabik tenun kebangsaan.” [3]

    Lebih jelas, Prasetio mengatakan video bahwa itu dibuat untuk menggambarkan apa yang terjadi di Jakarta. Termasuk soal penggambaran ada sejumlah orang mengenakan peci dan sorban dengan adegan berteriak. Dikatakan Prasetio, adegan itu merupakan penggambaran peristiwa yang terjadi di Jakarta pada 1998. [4]

    Penjelasan singkat itu sudah memberi jawab. Bila video #BeragamItuBasukiDjarot  dianggap sebagai sebuah provokasi, memancing kekerasan, berpotensi SARA hal itu justru menimbulkan pertanyaan buat Munarman, Aa Gym dan para pengikut kaum sumbu datar tersinggung dengan video itu.

    Mungkinkah Munarman, Aa Gym, Munarman dan pembenci Ahok – Djarot dalam perilaku reaksi formasi?

    Reaksi formasi adalah sebuah mekanisme pertahanan (defense mechanism) dimana kecemasan atau emosi yang tidak diharapkan digantikan dengan lawan langsungnya. Dalam reaksi formasi, seseorang berperilaku berlawanan dengan kecenderungan yang sesungguhnya, untuk mengatasi kecenderungan dalam diri yang tidak disuka. Sayang sekali, dalam reaksi formasi, sikap yang dilakukan  dengan perilaku kasar, kaku dan sikap bermusuhan. Reaksi formasi biasanya diungkapkan dengan tindakan protes berlebihan. Seseorang yang melakukan reaksi formasi cenderung tidak jujur terhadap dirinya sendiri (Mary Jo Meadow, 108, 1989). [5]

    Dalam ilmu psikologi, mekanisme ini sering dimasukan ke dalam neurosis obsesional. Ketika mekanisme ini telah digunakan, khususnya selama berformasi dengan ego, maka dapat menjadi perilaku karakter yang permanen. Permanennya perilaku dan karakter itu sepertinya sangat kentara bila melihat ujaran-ujaran kebencian yang selama ini diucapkan oleh mereka yang benci pada Ahok – Djarot.

    Jangan lupakan provokasi melalui spanduk-spanduk tentang penolakan menyolatkan jenazah pendukung Ahok – Djarot. Juga spanduk-spanduk SARA tentang ganyang Cina. Jangan lupa pula siapa yang mengucapkan ujaran-ujaran kebencian pada suku, agama, ras tertentu?

    Reaksi formasi dengan mempersalahkan video #BeragamItuBasukiDjarot bisa jadi menunjukkan karakter obsesif pada diri mereka yang lupa bahwa mereka juga telah menyebarkan ujaran kebencian, diskriminatif, provokasi SARA dan lain sebagainya.

    Melihat gejala-gejala seperti itu, team Ahok – Djarot perlu lebih sabar. Reaksi formasi hanya bisa dihadapi dengan terus menerus membangun kesadaran. Dalam kesadaran semua hal dikerjakan dengan cinta dan keberanian.

    Tentang kesadaran itu, pantaslah kita mengingat tuturan WS Rendra puluhan tahun lalu:

    Kesadaran Adalah Matahari

    Kesabaran adalah Bumi

    Keberanian menjadi Cakrawala

    dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata

    (WS Rendra. Depok, 22 April 1984)


    Penulis :  Wisnu Sapto Nugrohoi   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mempersoalkan Video Kampanye Ahok – Djarot, Apakah Sebuah Reaksi Formasi? Sebuah Analisa Psikologis Sederhana Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top