728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 10 April 2017

    Membandingkan Data Survei Elektabilitas, Ahok-Djarot Menang Tipis

    Belakangan ini ada dua lembaga survei yang merilis hasil survei elektabilitas kedua pasangan calon Gubernur. Keduanya menempatkan Ahok-Djarot kalah jauh dari Anies-Sandi, tapi benarkah demikian? Bagaimana jika dibandingkan dengan data-data lain?

    Hasil survey LSI (27 Feb- 3 Maret) menunjukkan bahwa:

    Ahok-Djarot 40,5
    Anies-Sandi 49,7


    Hasil survey Median(1-6 April) menujukkan seperti ini:

    Ahok-Djarot = 43,5 persen
    Anies-Sandi = 49,8 persen


    Anies memang tinggi, tapi seperti mentok di 49% sementara Ahok perlahan-lahan mulai meningkat. Ingat waktu survei adalah tanggal 1-6 April dan antara 6 April hingga hari ini banyak kejadian yang bisa merubah elektabilitas. Tapi saya sendiri agak ragu dengan data tersebut karena cukup aneh rasanya jika melihat data-data lainnya. Mari kita lihat data-data pendukungnya.

    Mengenai kemampuan membenahi Jakarta.

        Berdasarkan survei, ada 44,9 persen responden menilai bahwa Ahok-Djarot dianggap paling mampu membenahi Jakarta. Sementara yang menilai pasangan Anies-Sandi (Anies Baswedan-Sandiaga Uno) paling mampu hanya 40,9 persen, dan sekitar 14,6 persen menjawab tidak tahu

    Jadi warga menilai bahwa Ahok lebih mampu membenahi Jakarta daripada Anies.

    Sementara mengenai program.

        Sebanyak 46,1 persen pemilih menilai program kerja Ahok-Djarot paling bagus. Sedangkan pemilih yang menilai program kerja Anies-Sandi paling bagus hanya 39,3 persen.

    Ahok-Djarot lagi-lagi unggul dalam program yang ditawarkan.

    Lalu mengenai pengalaman.

        Siapakah kandidat yang paling berpengalaman di antara keduanya, sebanyak 65,9 persen pemilih menilai bahwa Ahok-Djarot paling berpengalaman. Sementara yang menilai Anies-Sandi hanya 23,2 persen

    Ahok-Djarot pun unggul.

    Dan mengenai kepuasan terhadap kinerja Ahok.

        Kepuasan warga terhadap kinerja Ahok-Djarot menurut survei masih cukup tinggi, yaitu mencapai 65,6 persen.

    Saya tercengang melihat datanya, tentu para pembaca seword juga bingung kok bisa seperti itu. Indikator kinerja Ahok-Sandi menang tapi kalah di elektabilitas. Lembaga surveinya sih bilang ini anomali, keanehan karena biasanya kalau puas seharusnya dipilih kembali tapi kali ini aneh.Namun saya gak percaya begitu saja, oleh karena itu mari kita ambil data lain sebagai pembanding.

    Data dari sentigram, elektabilitas Ahok mencapai 53,54% sementara Anies-Sandi 46,46%. Sentigram merekam respon positif atau negatif dari media sosial.

    Angka pada Sentigram memang tidak begitu akurat pada putaran pertama, tapi cukup mampu memberikan gambaran dan memprediksi siapa yang menang. Berbeda dengan hasil survey, pada putaran pertama survei menunjukkan bahwa elektabilitas Ahok turun hingga sempat paling buncit tapi perlahan-lahan elektabilitasnya meningkat dan menang putaran pertama.

    Sementara Sentigram menunjukkan angka yang relatif lebih stabil saat itu, yaitu Ahok unggul hingga selesai putaran pertama. Jadi saya berkesimpulan bahwa meski angkanya kurang akurat tapi Sentigram menurut saya bisa menjadi indikator siapa yang akan menang kelak. Apalagi jika melihat data-data tambahan selain elektabilitas maka kita dapat melihat kecocokan antara Sentigram dengan data tambahan di survei median.

    Sebenarnya anomali data survei sepeti ini bukan barang baru, November lalu juga dikatakan bahwa kepuasan terhadap Ahok tinggi hingga 75% tapi warga tidak mau memilih kembali. Namun kenyataannya Ahok menang di putaran pertama.

    Lalu kita lihat rekam jejak lembaga survei yang ada. Detik pada bulan Juli 2012 merilis berita dengan judul seperti ini.
    Dan isi beritanya ternyata:


        Lembaga survei yang memprediksi kemenangan Foke-Nara yaitu Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Cyrus Network, PUSKAPTIS, dan MEDIAN. Selain keempat lembaga itu, terdapat dua lembaga survei yang memiliki hasil berbeda yaitu SSSG yang memprediksi kemenangan Jokowi-Ahok serta UNAS dan Madani Institute yang memprediksi kemenangan Hidayat-Didik. Sedangkan Pride Indonesia sendiri tidak melakkan survei pilgub DKI.

    Juga survei yang menempatkan PKS ada diurutan ketiga

        Di survei yang digelar oleh Median, PKS meraih 7,2 persen suara dari total 1.450 responden, jika Pemilu digelar saat ini. Hal ini menempatkan PKS di urutan ke tiga di bawah Golkar (17,1%) dan PDIP (16,7%).

    Sentigram memang sulit untuk akurat karena dia tidak dapat memfilter sentimen dari orang diluar Jakarta, tapi itu berlaku juga untuk kedua kandidat. Tapi untuk memprediksi siapa yang menang rasanya sudah cukup ampuh apalagi penduduk Jakarta dapat dipastikan sebagai pengguna internet paling banyak di Indonesia.

    Jadi jika kita sandingkan antara data-data penunjang dari lembaga survei dengan Sentigram maka kita bisa lihat kecocokannya. Bahwa warga Jakarta memilih Ahok-Djarot sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur pada pilkada saat ini. Dengan mengamati kedua data tersebut maka tidak ada lagi yang disebut anomali tadi, apalagi jika mempertimbangkan rekam jejak lembaga survey-nya.

    Saya yakin masing-masing kubu memiliki tenaga surveyor sendiri dan mengolah sendiri, karena tidak susah membuat survey-survey seperti ini. Mungkin itu kenapa Ahok hingga saat ini  telihat tenang-tenang saja malah sebelah yang terlihat panik dengan terus bermanuver seperti berteriak-teriak menuduh difitnah.

    Penulis :  Gusti Yusuf   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Membandingkan Data Survei Elektabilitas, Ahok-Djarot Menang Tipis Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top