728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 28 April 2017

    Membandingkan Biaya Karangan Bunga untuk Ahok-Djarot dan Pengamanan Aksi 411 & Aksi 212

    Rencana aksi Long March yang diadakan oleh GNPF siang ini kembali membuat saya geleng-geleng kepala. “Mau apalagi sih mereka? Kok nggak bosen demo melulu?” begitu pertanyaan yang muncrat dari benak saya. Yap, rasanya masyarakat DKI Jakarta yang cukup waras, pun demikian dengan kita yang tinggal di luar Jakarta, pasti heran dengan perilaku ajaib kelompok yang satu ini.

    Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan juga sudah bersuara, yang intinya mengimbau agar kelompok ajaib ini tidak usah mengadakan aksi lagi. Beliau berkata:

    “Kan sudah juga itu, kan sudah ditangani (diproses secara hukum), itu bukan ranah saya. Namun saya sampaikan, nggak usah lagi, sudah cukup. Masyarakat kita sudah cukup capek melihat aksi tersebut, jadi sudah cukuplah.”

    Meskipun tidak diucapkan, saya yakin pernah tebersit dalam benak Kapolda begini: “Saya juga capek. Pasukan saya juga capek keles kalau sering-sering disuruh mengamankan aksi-aksi tiga angka semacam ini.”
    Panglima TNI saya rasa pun sependapat. Begitu pula Kapolri beserta seluruh jajaran aparat di bawah komando mereka.

    Membaca rencana aksi ini, saya pun tergelitik untuk membandingkan. Mumpung masih hangat fenomena karangan bunga yang oleh FZ disindir sebagai pemborosan. “Kan uangnya bisa dipakai untuk beasiswa atau aksi sosial,” begitu kata politisi yang mukanya mirip bintang iklan detergen itu (seperti saya kutip pada artikel berjudul Karangan Bunga dan Komentar Nyinyir Fadli Zon).
    Lambe yang sama berujar,

    “Itu kalau ada 1.000 karangan bunga kali Rp 1 juta, itu sudah Rp 1 miliar. Kalau Rp 700 ribu, ya Rp 700 juta.”

    Oke, oce. Sekarang kita mau bandingkan dengan biaya pengamanan aksi tiga angka yang pernah dilakukan, tepatnya pada aksi 411 dan 212 yang masih segar dalam ingatan kita.

    Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian pernah berbagi bahwa biaya pengamanan dua aksi Bela Islam pada 4 November dan 2 Desember 2016 mencapai Rp76 miliar! Detilnya, pengamanan AKsi 411 menelan anggaran Rp33 miliar, sementara Aksi 212 menghabiskan Rp43 miliar. -> Edan!

    Sekadar informasi, untuk pengamanan Aksi 411 melibatkan lebih dari 20 ribu pasukan, termasuk Brimob dari daerah yang dianggap aman. Sementara Aksi 212 melibatkan 27 ribu pasukan, enam ribu di antarnya ditugaskan menjaga Gedung DPR RI. Untuk apa saja dananya? Masih menurut Kapolri, dana sebesar itu digunakan untuk persiapan pra aksi dan antispasi pascaaksi, yang dimulai satu pekan sebelum Hari-H, hingga satu pekan setelah aksi berlangsung.

    Nah, pertanyaan menariknya, dari mana asal dana tersebut?

    Tentu bukan dari kantong Doraemon atau dari duit yang disimpan di bawah bantal, apalagi duit simpanan di celengan Semar. Semua uang tersebut adalah uang negara!

    Menurut berita yang beredar, besarnya biaya pengamanan tersebut, mendorong Tito untuk mengajukan tambahan dana ke Menteri Keuangan. Tentu, uang tersebut di luar perencanaan anggaran, dan jangan lupa, buat kita yang setia membayar pajak, kemungkinan besar uang kita juga ikut “disumbangkan” ke sana lho!
    Now, kalau mau dibandingkan manfaat dari “tuduhan penghamburan uang” terkait fenomena ribuan karangan bunga untuk Ahok-Djarot versus dana pengamanan aksi ini, menurut pengamatan dan logika waras saya adalah: BEDA BANGET!

    Aksi cinta melalui kiriman ribuan karangan bunga menebarkan optimisme, membangkitkan semangat, sekaligus mengajarkan kepada siapa pun yang melihat aksi ini, mengenai penghargaan dan ketulusan cinta. Tak ada dampak negatif sama sekali, kecuali PR untuk meletakkan ribuan karangan bunga sekaligus bagaimana menyimpan membereskan semuanya ketika aksi ini sudah berakhir.

    Sementara, dana puluhan miliar untuk pengamanan aksi, jika difokuskan pada aksinya, membawa dampak yang lebih negatif: kecemasan, ketakutan, keletihan, dan kengerian bagi masyarakat. Bagi para aparat, selain keletihan, juga ada sebagian yang harus menanggung sakit karena terluka akibat mengamankan aksi tiga angka tersebut. Belum lagi dari pihak keluarga para aparat tersebut, yang terpaksa ditinggalkan demi sang ayah mengamankan ibukota negara, rasanya tak dapat dinilai dengan uang!

    Mengapa biaya sebesar 76 miliar tersebut tidak dipakai untuk membangun infrastruktur, memberi beasiswa untuk anak sekolah, atau untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat? Tentu, dengan catatan bahwa aksi tiga angka pada tanggal di atas tak jadi digelar. Mungkin Menkeu Sri Mulyani juga geram, sekaligus kesal karena uang hasil tabungan Tax Amnesty sebagian tersalur untuk pengamanan aksi yang lebih banyak mendatangkan kerugian daripada mendatangkan manfaat.

    Kalau saya jadi Menkeu, mungkin saya bisa misuh-misuh karena merasa keuangan negara dipakai untuk hal yang sia-sia. Belum lagi ada potensi investor akan mikir-mikir kalau ibukota negara dalam kondisi tak aman gara-gara aksi tiga angka tersebut. Presiden Jokowi juga pasti geram. Mendingan uangnya untuk bangun Rusunawa, bangun jalan tol, atau mendukung program lain yang membutuhkan banyak dana.

    Uang 76 miliar itu uang semua loh, bukan campur daun dan kertas. Asem tenan! Duit negara kok dipakai (baca: dihambur-hamburkan) gara-gara ulah sekelompok orang yang sukanya memaksakan kehendak. Namun, negara tak punya pilihan lain karena aksi-aksi tiga angka memang harus diamankan, sekalipun jumlah uangnya gede banget!

    Apa daya … nasi sudah menjadi bubur … uang 76 miliar sudah menguap tanpa ada manfaat. Rasa bangga juga tak ada, tetapi rasa malu karena media internasional sudah menyorot aksi tiga angka tersebut. Arang hitam sudah terlanjur mencoreng wajah ibukota negara kita akibat aksi yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Itu baru dua aksi, belum lagi aksi-aksi lain, termasuk demo rutin setiap kali Ahok sidang yang sudah 21 kali berlangsung. Untuk pengamanan pasti membutuhkan dana juga.

    Ah, sebagai “rakyat kecil” saya hanya bisa berharap, semoga ke depan tidak ada lagi pengeluaran sia-sia dari keuangan negara, apalagi hingga puluhan miliaran rupiah. SETUJU?
    Salam Seword!

    Penulis : We-eS-Pe  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Membandingkan Biaya Karangan Bunga untuk Ahok-Djarot dan Pengamanan Aksi 411 & Aksi 212 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top