728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 29 April 2017

    Lihat Lebih Dekat, Cerita Alumni Pengajar IM Yang Menjadi Staf Ahok

    Saya kembali melihat dampak tak ternilai dan inspirasi yang didapatkan teman  magang saya dulu di kantor Gubernur DKI Jakarta periode Oktober-Desember 2015 silam. Dia adalah Farli Sukanto yang juga adalah alumni pengajar muda Indonesia Mengajar (IM).

    Cerita anak yang satu ini cukup menarik. Dia lebih tepatnya mirip Rian Ernest staf Ahok yang sudah lebih dulu dikenal sebaga tim hukum Ahok. Farli sendiri seusai magang lebih memilih tetap bekerja di Balaikota sampai sekarang untuk membantu Pak Ahok.

    Sebagai seorang pengajar muda Indonesia Mengajar, dimana Anies Baswedan sendiri juga merupakan salah satu inisiator gerakan ini, Farli memiliki semanagt nasionalisme yang sangat tinggi. Teman saya ini sangat berapi-api setiap kali berbicara pendidikan dan bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, sebuah pilihan yang tepat ketika dia bergabung di Balaikota untuk membantu Pak Ahok menyukseskan program KJP.

    Seusai Pilkada dan timbulnya fenomena aneh dalam sejarah, dimana karangan bunga tanpa henti mengalir kepada Pak Ahok. Akhirnya dia pun turut angkat bicara dan bercerita tentang pengalamannya selama membantu BTP di Balaikota. Oleh karena itu, dengan sangat senang juga saya membaca tulisannya. Berikut sharing yang dia bagikan:

        Lihat Lebih Dekat

        Karena Pilkada, saya belajar untuk tidak menilai dan menghakimi orang-orang yang tidak benar-benar saya kenal langsung.

        Penilaian dan penghakiman beberapa orang yang didapatnya dari pemberitaan media atau opini orang lain atas Pak Ahok terlalu menyakitkan buat saya akhir-akhir ini. Betapa tidak, buat saya yang punya waktu 1 tahun 7 bulan bekerja untuk Pak Ahok, beberapa posting orang di media sosial bisa saya bilang keliru.

        Pada akhirnya, Pak Ahok adalah manusia seperti kita semua yang tidak mungkin dituntut sempurna. Semua yang pernah mengalami jadi pemimpin dan pengambil keputusan dalam lingkup besar maupun kecil pasti tahu, sebuah kebijakan sangat sulit untuk menyenangkan semua pihak tanpa terkecuali. Buat saya pekerjaan di pemerintahan pun sangat kompleks, susah sekali untuk tidak luput memperhatikan semua masalah, menentukan prioritas program hingga mengorbankan beberapa pekerjaan agar lebih fokus menyelesaikan yang lebih penting.

        Kalau Pak Ahok betul-betul berpihak, rasanya tidak mungkin ia mencereweti saya dan teman-teman di Tim Pendidikan untuk memperbaiki terus sistem KJP atau membenahi program pelatihan guru yang membawa manfaat bagi seluruh anak-anak Jakarta.

        Perang politik sepertinya memang harus diubah agar tidak pakai ‘cari kekurangan lawan lalu serang terus di situ’ sebagai cara. Lagi-lagi, ada beribu alasan di balik kekurangan, dan itu manusiawi. Apalagi info kekurangannya belum tentu valid.

        Saya belajar banyak dari Pak Ahok, terutama soal memegang teguh nilai dan prinsip yang kita percaya benar dan bermanfaat bagi orang banyak. Pak Ahok mengajarkan saya untuk berani dan totalitas mengabdi untuk masyarakat.

        Kalau saya flashback, Pak Ahoklah yang menginspirasi dan membuat saya berani datang sendiri ke sebuah SD Negeri di Bantar Gebang untuk menawarkan diri menjadi guru ekstrakurikuler secara sukarela di sana. Setiap Sabtu, mengajak teman-teman lain untuk sama-sama memperjuangkan nilai-nilai kejujuran dan karakter baik lainnya mulai dari lingkup terkecil, yaitu kelas-kelas pendidikan karakter di SD.

        Memperjuangkan keresahan pribadi saya atas musuh pribadi saya, kecurangan UN yang menurut saya adalah pengrusakan mental generasi. Saya pilih memeranginya lewat mempersenjatai adik-adik di SD tempat saya mengajar dengan menanamkan nilai-nilai yang baik.

        Saya berkaca dari keberanian dan ajaran Pak Ahok selama saya bekerja di Balaikota, untuk memerangi korupsi. Mulai dari dirinya sendiri memperjuangkan nilai yang dipercayainya benar dan menyangkut kepentingan banyak orang.

        Pak Ahok boleh dinilai tidak 100% berhasil dalam menjalankan program-programnya di Balaikota, tapi setidaknya dia berhasil mengubah saya menjadi pribadi yang lebih baik dalam 19 bulan belakangan ini. Saya banyak berhutang sama Pak Ahok untuk ini, dan saya mengucapkan banyak terima kasih. Pengalaman ini tidak pernah saya cita-citakan sebelumnya, dan terima kasih sudah percaya bukan karena saya hebat tapi karena percaya bahwa saya akan selalu jadi lebih baik dan lebih baik lagi.

        Terima kasih Pak Ahok, pelajaran ini akan saya bawa terus seumur hidup.

        Satu Ahok kalah, seribu Ahok lahir!

        Jangan kerja buat saya, kerja buat Pendidikan DKI.
        – Pak Ahok ke saya di awal magang, Oktober 2015.

    Yah, itulah sharing dari teman magang di Balaikota dimana dia masih membantu Pak Ahok sampai sekarang. Show case yang dipertontonkan oleh Ahok telah menjadi Inspirasi yang dapat dipelajari oleh siapa saja. Melalui kesaksian langsung pak Ahok ini, semoga masyarakat Indonesia semakin dicerdaskan dalam pilihan politik. Bukan untuk mendewakan Ahok, tetapi kita telah diberikan contoh yang luar biasa pentingnya dalam sosok yang satu ini.

    Yakinlah, Satu Ahok Kalah, Seribu Ahok Lahir Untuk Mengubah Indonesia.

    Penulis :  Junaidi Sinaga  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Lihat Lebih Dekat, Cerita Alumni Pengajar IM Yang Menjadi Staf Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top