728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 01 April 2017

    KH. Masdar Farid Mas’udi, Kiyai Penjaga Kebhinekaan

    Kiyai yang satu ini sangat menjaga kebhinekaan. Dalam berbagai kesempatan, kiyai yang kini menjabat sebagai Rais Syuriah PB-NU, selalu menekankan penting kebhinekaan jika negara tidak mau hancur. “Saya cemas dengan kondisi saat ini. Persoalan etnik, agama, suku yang saat ini semakin digoreng, semakin mengkhawatirkan,” ujar KH. Masdar Farid Mas’udi.

    Karenanya Masdar berharap, perbedaan pilihan dan pandangan politik dalam memilih pemimpin di Jakarta tidak merusak kebinekaan yang selama ini telah terjaga dengan baik. Menurutnya jabatan gubernur sejatinya merupakan kehendak Allah SWT, manusia hanya sebatas berusaha dan berharap. “Masyarakat harus dapat menerima siapapun yang nantinya terpilih di Pilkada DKI,” ujar Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu.

    Alasan kebhinekaan itu pula yang membawa hati Masdar hadir menjadi salah satu saksi ahli dari kubu Basuki Tjahja Purnama yang didakwa dalam kasus penistaan agama. Sebab itu dia tidak menghiraukan cemoohan yang akan dihadapi seperti yang dialami saksi dari pihak terdakwa sebelumnya Ahmad Ishomuddin di sidang Ahok ke-15.

    Pernyataan Masdar ini menegaskan bahwa ia tidak begitu takut akan konsekuensi sikap dan cemoohan yang akan ia terima dari orang lain, sebagaimana yang dihadapi saksi sebelumnya Ahmad Ishomuddin. Bahkan ia yakin dengan kehadirannya sebagai saksi meringankanlah kasus hukum terkait dugaan penistaan agama akan lebih adil pada keputusan majelis hakim nanti.

    “Semua tindakan kan ada risikonya. Apakah risiko itu tampak atau tidak, itu sama saja. Hidup ini kalau tidak bisa hadapi risiko, ya jangan hidup. Kenapa harus menerima risiko, nanti kan publik juga akan menilai,” tegas Masdar.

    Tidak Masuk Akal

    Dalam kesaksiaan di sidang ke-16, Ahok yang digelar Rabu (29/03/2017) di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta, Masdar menganggap tidak masuk akal jika Ahok menodai agama. Alasan kuatnya karena dia sendiri sedang bertarung dalam Pilkada DKI dimana mayoritas penduduknya beraga Islam.

    Menurut lulusan Fakultas Syariah, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini masalah yang dihadapi Ahok hanya merupakan peristiwa provokatif. Apalagi isu tersebut sangat erat berhubungan dengan proses pemilihan kepala daerah. ” Saya kira itu lebih sarat dengan motif politik,” kata Masdar.

    Lebih lanjut dijelaskan, dalam Al Qur’an, Surah Al Maidah ayat 51 bukan diartikan untuk mengharuskan umat memilih pemimpin muslim. Harus dipahami secara integrated. Menurutnya kalau hanya beda agama kemudian menjadi masalah maka hancur negeri ini. Bukan hanya negeri, dunia hancur karena beda agama, dunia harus dimusuhi.

    Masdar menambahkan, Islam memperlakukan sama semua anggota masyarakat. Tak boleh ada diskriminasi berdasarkan perbedaan suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA). “Yang terpenting bagi Islam itu adil. Bisa enggak melindungi hak warga. Keadilan adalah inti dari keberagaman dan kepemerintahan,” kata dia.

    Lagi pula menurut Masdar, jika yang dijadikan rujukan Al Maidah 51 dalam memaknainya tidak bisa dipisahkan dengan surah lainnya, yaitu surat Al Mumtahanah ayat 8. Karena dalam surat Al Mumtahanah memperjelas kriteria pemimpin yang boleh dipilih. Dua ayat itu harus dilihat secara holistik. “(Dalam surat Al Mumtahana ayat 8) bahwa yang tak boleh dipilih sebagai ‘aulia’ (pemimpin) adalah orang non-Muslim yang memerangi kamu dan mengusir kamu dari negeri kamu. Kalau sekadar beda agama, enggak masalah,” kata Masdar.

    Nampaknya isu larangan memilih pemimpin muslim berdasarkan Al Maidah ayat 51 hanya terjadi di Jakarta. Menurut Kiyai kelahiran Purwokerto, 18 September 1954 ini terlah terjadi inkonsistensi. Hal ini berkaitan dengan masalah kedewasaan dalam berpolitik di suatu wilayah. “Sadiq Khan, seorang muslim yang menjadi wali kota di London. Padahal mayoritar warga London non-muslim. Hal ini terjadi karena warga di London sudah memiliki kedewasaan politik,” tegasnya.

    Sudah Mengingatkan

    Sebenarnya, jauh-jauh hari Masdar sudah mengingatkan pentingnya menjaga kebhinekaan dalam pertarungan perebutan kekuasaan di ibukota negara ini. Menurutnya pilkada yang damai memang menjadi ujian. Berkaitan dengan kekuasaan dan sering kali tidak mau ada pesaing.

    “Ingin sendiri dan tidak ada pesaing. Oleh sebab itu, kita bisa paham ada kerawanan apalagi isunya sensitif. Tapi kita harus tetap santai. Kekuasaan ini memang misteri. Orang yang dihitung jadi kadang bisa tidak jadi,” papar Masdar dalam acara Peringatan Hari Santri dan Deklarasi Pilgub DKI Jakarta Damai oleh Relawan Nusantara (RelaNU) dan Nahdliyin Jakarta, di Wisma Antara, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (21/10/2016) silam.

    Dalam pandangannya, proses perebutan kekuasaan itu tidak boleh terlalu mutlak dan harus jadi atau tidak jadi. Lawan harus dikalahkan, itu boleh saja sebagai retorika, tapi harus dihitung ada faktor Allah yang maha tahu. “Ketika kekuasaan diperebutkan melalui pemilihan, boleh kita serius, tapi jangan berlebihan, jangan terlalu mutlak-mutlakan. Semua bisa dan boleh berharap jadi, tapi semuanya harus terbuka, bahwa bisa saja tidak jadi. Itu adalah kehendak Allah yang maha kuasa,” katanya.

    Karenanya saat itu Masdar berpesan jangan sampai pesta demokrasi malah merusak kebhinekaan yang menjadi ciri khas Indonesia. “Saya ingin betul-betul menekankan pesan, jangan hancurkan kebhinekaan kita hanya karena persoalan kekuasaan. Dan ikhlaskan apa yang jadi takdir Allah nanti. Siapapun yang menang harus kita hormati, kita dukung,” katanya.

    Keputusan Yang Seadil-Adilnya

    Apa sih motivasi Masdar membela Ahok? Padahal dia mengaku hanya beberapa kali bertemu dengan Ahok dalam kegiatan tertentu, dan mengenalnya hanya sebatas sebagai gubernur saja. Hal ini dilakukan selain menjelaskan bagaimana pentingnya menjaga kebhinekaan, juga menurutnya dalam mekanisme mencari keadilan ada unsur-unsurnya, penuntutan sebagai tesa, dan pembelaan sebagai antitesa. Muaranya di keputusan hakim agar keadilan bisa dicapai lebih baik.

    “Motivasinya saya agar mendapatkan keputusan yang seadil-adilnya. Unsur-unsur itu rukun mencari keadilan. Kalau hanya jaksa kan bisa timpang karena yang ketahuan hanya kesalahannya, tapi pembelaan dari penasihat hukum tidak bisa sendirian. Jadi, sama-sama mencari keputusan yang adil sebagai sintesa-nya,” tegas lulusan Pasca Sarjana Studi Filsafat, Universitas Indonesia ini.

    Soal kesaksiannya yang berbeda, menurut Masdar yang menjadi saksi atas nama pribadi ini, hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Karena kesaksian yang berbeda itu penting untuk mencari kebenaran yang sejati. “Dalam kasus ini Ahok hanya mencoba meluruskan apa yang suka disampaikan oleh politikus yang mendiskreditkan dia sebagai orang nonmuslim,” ujar Masdar.

    Soal terbelahnya masyarakat dalam menyikapi hal ini, menurut Masdar itu normal. Baginya yang tidak normal bila berujung ke konflik. Apalagi jika konflik itu berdasarkan SARA. Itu sangat berbahaya. “Ini negara bangsa, bukan negara agama, negara suku, atau negara ras. Jadi, kita memilih pemimpin itu jangan dengan argumen SARA. Kalau begitu kan primitif,” tegasnya.

    Lagi pula menurut Masdar, siapa pun warga negara berhak memilih dan dipilih. Yang harus dilihat adalah kualitas kepemimpinannya dan keberpihakannya kepada rakyat. “Itu yang paling esensial. SARA tidak boleh dibawa-bawa dalam ranah politik. Kalau kita mau dewasa dan mau NKRI bertahan. Kita boleh saja mengaku Islam, Kristen, Jawa, tapi itu di ruang privat, bukan di ruang publik,” ujarnya.

    Santri Yang Gemar Organisasi

    Masdar mungkin salah satu ulama yang tidak merasakan pendidikan di luar negeri, baik itu di timur atau pun di barat. Namun, bukan berarti diragukan keilmuannya dalam bidang agama. Tengok saja dari pendidikan formal yang jalaninya mayoritas berada di lingkungan agama. Setelah menyelesai pendidikan ibtidaiyah di Purwokerto, Jawa Tengah selama enam tahun, maka pada tahun 1966 Masdar langsung menjadi santri di Pondok Pesantren KH. Chudlori, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah dari tahun 1966 – 1968.

    Selesai dari satu pondok bukan berarti dia puas. Dia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren KH. Ali Maksoem Krapyak, Yogyakarta. Di pondok ini dia menghabiskan waktunya dari tahun 1969 sampai tahun 1974. Lepas dari pondok KH. Ali Maksoem, dia melanjutkan ke pendidikan tinggi pada tahun 1972 di Fakultas Syariah, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan selesai tahun 1980. Setelah itu cukup lama Masdar tidak masuk kampus lagi. Akhirnya, pada tahun 1994 dia kembali ke kampus untuk mengambil Program Pasca Sarjana Studi Filsafat di Universitas Indonesia yang diselesaikannya pada tahun 1997.

    Dalam dunia organisasi, Masdar memang sangat terkenal di NU. Berdasarkan penelusuran, kiprahnya di dunia organisasi dimulai pada tahun 1973 – 1975 ketika menjadi Ketua PMII Komisaris Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Setelah menjadi mahasiswa dia diangkat menjadi Sekjen Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta antara tahun 1976 – 1978. Setelah itu dia mulai menginjakan kakinya di dunia aktifis secara nasional dengan menjadi Ketua I PB PMII pada tahun 1983 – 1985.

    Di lingkungan NU sendiri, karier aktifis Masdar dimulai pada tahun 1982 – 1983 ketika dia terpilih menjadi salah satu anggota Kelompok G, dan Tim 24 yang menggagas Kembalinya NU ke Khittah 1926. Kemudian kiprahnya berlanjut dengan menjadi anggota Tim Tujuh Perumus Khittah NU 1926 pada tahun 1983-1984.

    Ketika NU dipimpin oleh KH. Ahmad Sidiq sebagai Rois Am dan Gus Dur sebagai Ketua Umum, tenaga Masdar digunakan kembali dengan menduduki posisi wakil ketua Tim Asistensi Pemikiran Sosial Keagamaan pada tahun 1984-1989. Setelah itu berturut-turut pada tahun 1989-1998 menjadi  Wakil Ketua RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiy ) PBNU. Tahun 1999 – 2003 ditunjuk menjadi Katib Awal Syuriah PBNU. Kemudian pada tahun 2004 (Mei – Sept), saat Ketua Umum saat itu KH. Hasyim Muzadi maju menjadi Cawapres, Masdar ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (PLH) Ketua Umum PBNU atas Keputusan Majlis Syuriah PBNU. Dan sejak tahun 2004 sampai sekarang menduduki posisi sebagai ketua I PBNU.

    Selain di NU, ternyata Masdar juga pernah menduduki jabatan di organisasi lainnya. Seperti pada tahun 1996-2001 dia duduk sebagai anggota Komisi Fatwa MUI. Setelah itu pada menduduki posisi sebagai Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan MUI. Posisi lainnya yang pernah dijabatnya adalah sebagai Dewan Pembina Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) antara tahun 2004-2009.

    Sementara itu, karier profesional Masdar dimulai ketika pada tahun 1980-1982 dia menjadi wartawan di harian Ekuin, Jakarta. Pada tahun 1983-191 menjadi Redaktur Pelaksana Jurnal Islam “Pesantren”. Bakat tulis-menulisnya itu melahirkan banyak karya baik berupa artikel maupun buku. Beberapa buku karyanya antara lain”AGAMA KEADILAN, Risalah Zakat dalam Islam”; Pustaka Firdaus (1993), Mizan (2001), Jakarta. Tahun 2009 oleh Majalah Ilmiyah Univ. PARAMADINA dimasukkan dalam daftar 50 buku ke-Islaman asli Indonesia yang paling Berpengaruh.

    Kemudian ada buku “ISLAM & WOMEN’S REPRODUCTIVE RIGHTS” ; Sister in Islam, Malaysia (2002). Tahun 2009 oleh Jurnal Ilmiyah Univ. PARAMADINA, dimasukkan dalam daftar 50 buku Penulis Indonesia paling berpengaruh. Buku ”MEMBANGUN NU BERBASIS UMAT/ MASJID”, P3M, Jakarta, 2007 dan buku ”SYARAH UUD 1945, Perspektif Islam”, Mahkamah Konstitusi, Jakarta, 2009.

    Dari sekian banyak jabatan dan posisi penting yang pernah diembannya, kini Masdar masih menduduki beberapa posisi penting. Diantaranya sebagai Rois Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Unggul Al-BAYAN, Sukabumi, Jabar yang diembannya sejak tahun 1998. Kemudian sejak tahun 2002 diangkat menjadi anggota Komisi Etik Indonesia Corruption Watch (ICW).

    Kemudian selain sebagai pengasuh sekolah SMP dan SMA Islam Unggul Nururrahman, Depok, Jawa Barat sejak tahun 2004, masdar juga menjadi anggota Ombudsman RI sejak tahun 2008 sampai sekarang.


    Penulis :  Adithia Renata Rakasiwi  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: KH. Masdar Farid Mas’udi, Kiyai Penjaga Kebhinekaan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top