728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 04 April 2017

    Ketua KPUD Sumarno Terlibat Makar?

    Ada informasi yang menarik hari ini buat para netizen  ketahui. Bersumber dari Ulin Yusron @ulinyusron saya mendapati informasi sebagai berikut:

    Pada saat hari libur nasional, Hari Raya Nyepi (Selasa, 28 Maret 2017), ternyata ada peristiwa menarik yang layak dapat perhatian

    Pada hari 28/3/2017 Sumarno Ketua KPUD DKI Jakarta menerima kedatangan rombongan pimpinan demontrasi 313, Al Khaththath dkk di kantor KPUD. Saat pertemuan berlangsung, Sumarno tidak didampingi anggota KPUD lainnya. Ngapain coba Ketua KPUD ketemu FUI?

    Kalau pertemuan Ketua KPUD dengan FUI itu resmi kenapa tidak sabar menunggu hari kerja dan kenapa tidak dihadiri anggota KPUD lain? Pertemuan yang aneh, Ketua KPUD sendirian bertemu dengan FUI, pendukung Anies, sekaligus juru gempur SARA di lapangan untuk merusak Jakarta

    Pertemuan Sumarno dan Al Khaththath ini mengonfirmasi kalau Al Khaththath adalah bagian tidak terpisahkan dari tim pemenangan Anies Sandi. Kalau Al Khaththath bukan tim pemenangan Anies Sandi untuk apa Sumarno menemui rombongan yang tidak ada kaitannya dengan Pilkada?

    Apalagi dalam pertemuan itu Al Gatot menanyakan soal Suket, DPT dll. Siapa Gatot ketemu KPU, kalau bukan tim Anies?

    “Al Khaththath menuturkan, ada berbagai pertanyaan yang disampaikan dalam audiensi itu. Di antaranya adalah pertanyaan mengenai aturan-aturan pilkada, pertanyaan tentang suket (surat keterangan) pemilih, dan potensi kecurangan-kecurangan dalam pilkada.” Sumber Kumparan


    Yang memposting berita ini hanya ada Kumparan.com dan Arah.com

    Pertemuan Al Khaththath-KPUD ini juga membuktikan kalau seluruh operasi Al Khaththath dkk adalah bawah kendali operasi jahat Anies Sandi.

    Klop sama orasi Eep yg menjadikan masjid sebagai basis mobilisasi kebencian untuk mengalahkan Ahok, mendukung Anies. Gatot satu kepingan itu.

    Begitulah kira-kira informasi yang saya dapatkan sekitar 30 menit yang lalu oleh Ulin via twitter milik pribadinya tersebut.

    Sumarno Terlibat Makar?


    Begitulah judul opini saya kali ini. kita ketahui bersama acara yang berlangsung pada 313 beberapa hari yang lalu itu bisa dibilang gagal, mengapa? Karena para pentolannya sudah berhasil diamankan oleh pihak kepolisian karena “diduga” makar. Salah satu pentolannya yang tertangkap adalah Gatot, yang tidak lama sebelumnya bertemu dengan Sumarno.

    Menurut berita yang keluar

    Menurut Argo, kesimpulan pertemuan kelima tersangka itu adalah ingin menggulingkan pemerintahan yang sah.

    “Intinya, ada menduduki DPR secara paksa dan mengganti pemerintahan yang sah ini. Kemudian kembali ke UUD 45. Tentunya kalau mau melakukan yang itu, harus sesuai dengan SOP dan aturan yang ada,” kata Argo.

    “Namanya pemufakatan (makar) itu, hanya niat dan rencana saja sudah bisa kena. Undang-Undangnya seperti itu, sesuai pasal 107 dan 110 KUHP,” ujar Argo, di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (1/4/2017). Sumber Kompas

    Pembahasan saya

    Nah pada tanggal 28-nya Gatot bertemu dengan Sumarno, padahal sudah jelas hari itu adalah hari libur nasional. Tapi mengapa dirinya Sumarno bisa bertemu secara sepihak tanpa adanya anggota lain disana?

    Pembahasan yang dibahas pun cukup aneh ” Pertanyaan mengenai aturan-aturan pilkada, pertanyaan tentang suket (surat keterangan) pemilih”,, Kalau Ulin diatas hanya membahas masalah Suket, maka saya akan menambahkan ulasan tentang aturan Pilkada

    Gatot bertanya aturan Pilkada, lalu kemudian keluar berita dari Bawaslu yang bertuliskan seperti ini  Dukung Cagub Muslim, Aksi 313 Tak Dianggap Langgar Kampanye. Bawaslu menjawabnya pun dengan “Aneh”
    “Kan tidak dilaporkan sebagai kegiatan kampanye, tidak disampaikan sebagai kegiatan kampanye, maka memang enggak boleh ada kegiatan di luar yang tidak diberitahukan,”


    Jadi menurut Bawaslu kalau tidak dilaporkan maka tidak melanggar? Saya benar-benar bingung saat itu. Tapi kedua berita ini sangatlah cocok, Gatot menannyakan aturan Pilkada ke Sumarno, lantas Bawaslu pun saat kejadian tidak menggangap aksi yang dilakukan sebagai bentuk pelanggaran

    Padahal sudah jelas niatnya adalah memenangkan gubernur muslim Jakarta. Disini sudah sangat terlihat aneh sekali.

    Lanjut ke kasus ke dua perihal Sumarno yang masih mengganjal dihati saya. Persoalan jawaban “Estetika” terkait foto profile WA milik Sumarno

    7 Desember 2016 Pukul 18.15 Wib dulu, Sumarno sudah pernah membahas atau menjawab pertanyaan terkait foto acara 212 yang bernuansa politis itu.

    Sumarno mengaku tidak hadir di aksi tersebut. Namun, dia tertarik dengan jalannya aksi yang berlangsung damai hingga akhir.

    “Melihat pemberitaan yang begitu ramai, cukup menarik ya. Dari artikulasi masyarakat yang menyampaikan aspirasi, ternyata berakhir begitu damai. Ini suatu sistem politik demokratis yang sangat baik,” Detiknews

    Sedangkan Jawaban Sumarno 5 hari yang lalu pada Kamis 30 Maret 2017 Pukul 12.35 jawaban Sumarnopun terkesan sedikit berubah

    “Pemasangan foto itu karena ketertarikan saya dari sisi estetika. Foto itu cukup indah. Foto diambil dari atas Monas dengan bawahnya lautan manusia. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya” Detiknews

    Kalau pada jawaban pertama Sumarno menyampaikan jawaban alasan yang cukup logis, dengan mengatakan hal itu merupakan bentuk aspirasi dan sistem politik demokratis yang sangat baik. Artinya disini ketertarikan Sumarno adalah soal “cara” berdemokrasi yang cukup baik dimasa Presiden Jokowi.

    Sedangkan pada jawaban kedua alasannya tidak begitu mendasar, karena apa yang dia katakan sebagai alasan adalah “Estetika”

    Menurut KBBI, estetika:

    1 cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya; 2 kepekaan terhadap seni dan keindahan

    Pada jawaban kedua ini alasan yang dikeluarkan adalah karena sebuah foto yang diambil dari monas dan dibawahnya lautan manusia. Disini hanya berbicara seputar seni dan keindahan, Tidak berhubungan dengan alasan ucapan yang pertama dikeluarkan saat desember lalu, tidak revelan.

    Akhir kata: Mari kita selidiki lebih lanjut dan kawal Pilkada nanti agar terhindar dari kecurangan-kecurangan.

    Saya jadi mengerti alasan Anies saat debat Mata Najwa yang mengatakan kalau dirinya kalah, artinya dia “dicurangi” Anies disini sudah mampu merasa yakin dirinya menang dan terpilih oleh rakyat Jakarta.

    Sedangkan pada faktanya Anies mendapat nilai yang lebih rendah dari pada Ahok pada putaran pertama. Tapi mengapa bisa dirinya merasa “Bakal” menang diputaran kedua? Dan jika kalah, dirinya dicurangi?  Pasti semua ada hubungannya antara Anies, Timses, KPUD, Bawaslu. Tim Pemenangan FPI, FUI, dan sebagainya.

    Mari kita pertanyakan ke pak Sumarno, detail lengkapnya apakah pak Sumarno terlibat kasus makar juga saat pertemuan kemarin? Mari kita dukung pihak yang berwajib yang menjalankan tugasnya untuk mencari tahu kebenaran.

    Penulis :  Bani Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ketua KPUD Sumarno Terlibat Makar? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top