728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 07 April 2017

    Ketika Tuhan Diperalat dan Dipaksa Turun Takhta Untuk Kepentingan Pilkada DKI

    Jakarta yang Toleran, Bukan Intoleran, Melihat pemberitaan khususnya di Jakarta saat ini, sungguh tidak habis pikir jika ada banyak orang, baik dari agama apapun, seolah-olah memaksa Tuhan turun dari tahtaNya yang mulia, untuk memenangkan pasangan calon tertentu. Orang-orang semacam ini mungkin tidak memiliki pandangan mengenai Tuhan yang benar.

    Mereka merasa Tuhan sama seperti mereka, yang bisa diajak kerja sama. Padahal kita tentu mengetahui bahwa tidak mungkin manusia yang adalah ciptaan, mencoba untuk mengatur Tuhan yang lebih tinggi dari diri mereka. Kegagalan pemahaman ini mungkin disebabkan bukan karena faktor ketidaksengajaan maupun kebodohan orang-orang tersebut. Justru mereka yang melakukan pemaksaan kehendak terhadap Tuhan, adalah orang-orang yang menggunakan jubah agama mereka.

    Siapa Kita yang Bisa Memaksa Tuhan?

    Mereka memperkenalkan diri mereka sebagai petinggi agama tertentu. Ada yang menganggap diri mereka ulama, ada juga yang menganggap diri mereka penginjil atau pendeta. Bahkan tidak sedikit dari antara mereka yang menggunakan atribut agama mereka. Mereka membawa Tuhan yang tinggi itu, di samping mereka, memakai atribut Tuhan untuk saling menjatuhkan sesama manusia, yang juga adalah ciptaan Tuhan.

    Lagi-lagi ini bukan diakibatkan dari ketidak tahuan dan keterbatasan pemikiran mereka mengenai Tuhan. Orang-orang semacam ini justru “memperalat” Tuhan. Izinkan saya bertanya kepada kaum bumi datar yang mengatakan diri mereka beragama, darimana kalian memiliki hak untuk mewakili Tuhan, menjatuhkan dan saling meghancurkan sesama manusia? Inikah yang diajarkan oleh Tuhanmu?

        “Pura-pura mualaf demi jadi gubernur, ngeri saya. Mending apa adanya. Kan kekuasaan Tuhan yang ngasih,” – Calon Gubernur Periode 2, Basuki Tjahaja Purnama

    Agama Apa yang Ajarkan Kebencian? Beri Tahu Saya

    Saya sangat yakin bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk menebarkan kebencian. Meskipun kita harus mengakui bahwa tidak semua agama mengajarkan kasih, namun kita harus mengamini bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk saling membenci, apalagi berusaha untuk menghujamkan pedang kebencian kepada sesama manusia. Di dalam konteks negara Indonesia, tentu kita harus melihat bahwa ada lima agama yang diakui di Indonesia. Maka di Indonesia, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Inilah keunikan negara demokrasi ketimbang negara-negara lainnya.

    Indonesia itu Toleran, Bukan Intoleran

    Rakyat berhak memeluk agama yang diakui, tidak sembarangan agama juga boleh dipeluk oleh rakyat Indonesia. Ini fakta. Namun banyak orang yang mendompleng dan menggoreng sedemikian isu agama untuk hasrat kekuasaan mereka. Lihat saja para pendukung Anies Sandi, baik dari agama apapun, mereka melakukan kejahatan sambil menutupi diri mereka dengan atribut agama. Ini adalah penyesatan publik.

    Negara Indonesia dikenal di dunia internasional sebagai salah satu negara yang toleran, namun di DKI justru ada orang-orang seperti pendukung Anies Sandi yang mencoba untuk mencoreng citra toleran yang dimiliki oleh Indonesia. Layakkah Anies Sandi dengan pendukung seperti itu dapat mendukung Indonesia yang toleran ke depannya? Jangan bermimpi!

        “Tangkap, tangkap, tangkap si Ahok, tangkap si Ahok, sekarang juga” – Imam Besar FPI, Rizieq Shihab

    Penyesatan Berkedok Agama kepada Kaum Grassroot

    Publik tidak perlu percaya kepada penyesatan ini, karena mereka yang melakukan, tidaklah murni karena urusan agama, melainkan mereka melakukan ini karena ada hasrat kekuasaan dan motivasi yang tidak sehat, ingin diwujudkan di negara Indonesia kita yang tercinta ini.

    Agenda-agenda politik menjadi tujuan utama pendomplengan isu agama ini. Maka jangan sampai kita menjadi orang-orang bodoh dan rakyat yang bodoh menerima apa saja yang ditampilkan dari aksi-aksi yang dilakukan.

    Goreng Isu, Sampai Gosong!

    Jadi jangan sampai beberapa agama yang diakui di Indonesia, justru menjadi alat politis untuk memberi makan sekelompok orang penting dan berhasrat menguasai Indonesia. Mereka berpikir bahwa mereka adalah “tuhan” yang dapat mengatur jalannya pemerintahan ini. Karakter Tuhan tentu tidak mengadu domba. Apalagi memprovokasi untuk saling membunuh, menggantung, dan menganggap darah seseorang halal. Tentu hati nurani kita tidak secetek dan senaif itu bukan untuk mengakui bahwa itu adalah ajaran yang kontekstual di Indonesia?

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis :Hysebastian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ketika Tuhan Diperalat dan Dipaksa Turun Takhta Untuk Kepentingan Pilkada DKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top