728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 07 April 2017

    Kenapa Ahok Mestinya Divonis Bebas?

    Sidang kasus perkara dugaan penistaan Agama ke-17 dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama sudah digelar beberapa hari lalu. Agenda sidang tersebut adalah memeriksa terdakwa serta barang bukti yang ada, atau yang dihadirkan.

    Pemeriksaan Ahok dan semua barang bukti tentu adalah untuk mencari tahu apakah benar ada faktor kesengajaan serta niat jahat dalam pidato Ahok di Kepulauan Seribu itu untuk menyinggung umat Islam. Lalu kemudian untuk mencari tahu benarkah ada perbuatan penodaan atau penistaan agama dalam ucapan-ucapannya itu?

    Kesaksian para ahli yang dihadirkan para pengacara Ahok, baik itu ahli agama, ahli bahasa, serta ahli sosiologi dan psikologi massa, hampir dapat dipastikan semua fakta yang terungkap dan mengemuka jelas menunjukkan sama sekali TIDAK ADA unsur kesengajaan, dan isi pidato Ahok sama sekali tidak pula berisi penodaan atau penistaan

    Pada sidang terakhir itu (sidang ke-17) justru ada sedikit kelucuan. Begini, saat video Ahok di Kepulauan Seribu diputar, eeh sang jaksa mendadak meminta agar pemutaran video Ahok dihentikan saja setelah Ahok selesai menyampaikan kalimat soal surat Al Maidah ayat 51 itu. Namun majelis hakim menolak permintaan jaksa, “Teruskan saja” kata sang hakim.

    Kenapa ini lucu menurut saya? Ya iyalah, bagaimana bisa jaksa meminta video dihentikan sampai di situ saja, padahal untuk melihat sebuah ungkapan apakah itu menista, menodakan atau tidak maka seluruh konten pembicaraan mestilah didengar bukan sepotong-sepotong. Jaksa ini kayaknya udah kelabakan mencari cara supaya Ahok tidak lepas dari tuntutan.

    Ia mau main bentuk opini dengan menghentikan pemutaran video itu supaya semua orang dan hakim hanya melihat sampai di situ saja, kemudian cepat-cepat ambil kesimpulan Ahok sudah menista agama. Gemblung! Nonton sampai habis dulu boss baru komen, baru telaah, baru putuskan. Anda yang tidak hadir di Kepulauan Seribu tentu tidak bisa menyelami secara sempurna apa yang terjadi di sana. No way!

    Pemutaran video pun akhirnya terus berlangsung hingga tanya jawab warga dengan Ahok di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu selesai. Dari video itu Anda boleh lihat dengan jelas kenyataan apa yang terjadi di sana. Interaksi bagaimana yang terjadi. Apakah ada yang tersinggung, mencak-mencak, dan lalu marah-marah mendengar pidato Ahok? Jelas semuanya di video utuh itu. Crystal clear.

    Udah lihat kan? Di video itu ada enam warga yang berpartisipasi dalam sesi tanya jawab mulai dari program budidaya ikan hingga permintaan bantuan. Semuanya nanya dengan asyik-asyik saja. Ada yang kentara sedikit gugup. Ada pula yang sambil senyam-senyum. Suasana kekeluargaan lah yang muncul saat itu. Semuanya cair dan mengalir begitu saja. Tidak ada raut kecewa dan marah dari semua yang hadir saat itu. Yang marah-marah kayak orang mabok dan ngoceh-ngoceh oke banget kan adalah mereka yang justru TIDAK BERADA di lokasi, dan yang hanya sepintas nonton video pendek blekok hasil karya Buni Yani yang sebentar lagi akan masuk penjara itu.

    Ahok menjawab semua pertanyaan tersebut dengan sangat komplit persis nasi goreng komplit lengkap dengan telor ceploknya. Suasana begitu cair tanpa mengada-ngada. Terdengar riuh suara warga yang tertawa dan bertepuk tangan. Mereka senang. Mereka gembira. Di akhir sesi malah orang berkerumun minta untuk bisa foto bersama. Tampak pula ibu-ibu berebut untuk minta foto bersama Ahok. Natural joyfulness. Rupanya tidak ada yang tersinggung dan marah dengan apa yang Ahok katakan.

    Sidang ke-18 direncanakan pada 11 April 2017, dengan pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum. Kemudian sidang ke-19, pihak Ahok berencana menggelarnya pada 18 April 2017, yaitu agenda tunggal pembelaan atau pledoi Ahok serta penasehat hukum. Namun, Hakim Ketua memutuskan agar sidang dimajukan satu hari, yaitu menjadi tanggal 17 mengingat ada pencoblosan tanggal 19 April.

    Selanjutnya sidang ke-20 pada 25 april 2017 dijadwalkan replik jaksa penuntut umum. Lalu dilanjutkan duplik Ahok dan penasihat hukum pada sidang ke-21 yang akan digelar pada 2 Mei 2017. Terkahir, sidang ke-22 yang dijadwalkan pada 9 mei 2017 merupakan putusan atau vonis hakim.

    Apakah Ahok Bersalah?

    Menurut pendapat ahli agama Islam yang memberi keterangan pada sidang sebelumnya yakni KH Ahmad Ishomuddin Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta sekaligus juga adalah dosen Fakultas Syari’ah IAIN Raden Intan, Lampung menyatakan begini; Bahwa kata “aulia” dalam Surat Al Maidah ayat 51 lebih banyak ditafsirkan sebagai teman setia.

    “Berdasarkan tafsir yang saya tahu, aulia itu teman setia. Kalau ada yang menerjemahkan sebagai pemimpin, silakan. Tetapi, menurut tafsir saya, dari ratusan kitab tafsir, tidak satupun memiliki makna pemimpin,” kata Ahmad. Menurut Ahmad lagi, bahwa ayat yang cocok dan tepat untuk diterapkan dalam pilkada adalah yang berbunyi; “Hendaklah kamu berlomba-lomba berbuat baik.”

    Menurut saya pribadi, hal itu sudah sangat tepat. Berlomba-lombalah berbuat baik supaya orang lain tahu kualitas Anda. Bukan berlomba-lomba membangun opini masuk sorga masuk neraka seakan-akan Andalah pemegang kunci sorga tunggal. Tidak ada jaminan seseorang bisa masuk sorga hanya karena mencoblos siapapun dalam sebuah pilkada.

    Bagi saya, koar-koar seperti itu yang berkonotasi merampas hak Tuhan, dengan ucapan murahan mengatakan yang pilih ini masuk sorga dan yang pilih itu tidak, adalah omong kosong tingkat maha dewa semata. Tak lebih. Terserah Anda mau percaya begitu saja, itu kan hak Anda. Sejalan dengan itu, saya lalu teringat ada bahasa bijak yang berkata begini, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik.” Juga yang satu ini, “Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.”

    Selain itu dalam memutus perkara ini, hakim tentu bakalan memegang teguh sejarah terbentuknya Pasal 156a KUHP. Mengapa hal ini kemudian menjadi penting? Oleh karena dalam sejarahnya, Presiden Seokarno memunculkan pasal itu sebetulnya dikarenakan saat itu ada aksi orang injak dan robek Al-Qur’an di sebuah gudang milik pemerintah Indonesia, yang saat itu dikuasai oleh anggota-anggopota PKI (pada saat Indonesia masih dikuasai oleh PKI.)

    Pasal ini jelas tidak serta merta bisa digunakan pada sembarang tempat sembarang keadaan. Jangan main pukul rata. Hanya yang kurang waras yang seenak perut dewe main hantam blas tanpa liat-liat dulu. Gemblung!

    Karena dalam sejarah Pasal 156 a KUHP, yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan penodaan agama terbatas pada membakar Al’Qur’an, merobek-robek/menyobek Al-Qur’an, membuang Al’Qur’an, membunuh dan membantai dan membunuh pemuka-pemuka agama. Saya harap dimasukkan juga pada pasal itu kitab suci agama lain juga.

    Jadi supaya Anda pintar dikit, pahami dulu benar-benar pasal ini baru Anda teriak-teriak atau koar-koar bilang telah terjadi penistaan agama. FPI juga lakonnya macam betul saja. Teriak-teriak sampai lidah anak mau keluar bilang Ahok menista ulama, menista alquran, menista agama. Hanya dari sepotong video hasil karya si Bunny itu? Anda sehat?

    Ambil cermin lalu pasang pasal 156a itu di depan cermin itu. Justru yang kalian harus lawan dan tuntut sebagai penista dan penoda agama adalah orang-orang sinting yang main bakar-bakar rumah ibadah. Mereka yang bunuh-bunuh pemuka agama secara sadis dan serampangan. Mereka yang teriak-teriak mengancam, dengan seruan permusuhan “bunuh” dan “gantung” Itu.

    Dalam KUHP yang masih berlaku hingga sekarang sama sekali tidak mengatur soal penodaan agama, pasal itu dimasukan oleh Soekarno untuk mencegah aksi penginjak-injakan dan pembakaran Al-Quran, bukan masalah ucapan ini dan itu. Pasal 156 sudah terlebih dahulu ada dalam KUHP, yang merupakan aturan sejak zaman penjajahan Belanda pada 1918. Sementara itu Pasal 156a, baru disisipkan pada tahun 1965.

    Pasal 156 a KUHP dan Pasal 156 KUHP adalah pasal karet yang akhirnya dapat menjerat siapa saja, karena selama ini telah diterapkan tidak sesuai dari sejarah terbentuknya pasal itu. Jangan-jangan kentut dalam rumah ibadah pun bisa dijerat pasal ini lho. Serius. Itu kan ‘penodaan’ juga.

    Jadi dengan logika berpikir sederhana saja kita sudah mampu melihat serta menilai, apakah tunduhan terhadap Ahok ini murni atau hasil politisasi. Jelas-jelas semua demo gak jelas juntrungannya dengan gaya cocoklogi 212, 313, sambil menunggu 414 dan 515 siapa tau akan ada. Nah, ini adalah bentuk-bentuk aksi menekan pemerintahan sah, mendompleng tuntutan terhadap Ahok yang katanya sudah menista agama itu. Akal-akalan saja. Akal-akalan yang tidak masuk akal.

    Super sekali memang segala tindakan aktor-aktor di balik layar itu. Untunglah polisi-polisi kita pintar dan hebat. Bau makar pun bisa tercium dengan cepat, meskipun dari radius berkilo-kilometer hehehe, para pentolanpun di ciduk tanpa ampun. Sakitnya tuh di sini (sambil megang dada)

    Setelah diciduk, mulailah bermunculan kelebayan tingkat maha dewa lainnya. Orasi sana orasi sini minta polisi membebaskan yang sudah ditangkap tersebut. Enak aja, emangnya negara ini punya nenek lu! Semua hal harus sesuai isi demo dan hasil Okeh Ngoceh orasi penuh kelebayan dari orang-orang gak jelas. Rizieq aja udah cup tutup mulut diam-diam, duduk manis. ‘Kartu truf’ dirinya sudah dipegang polisi. Eh, yang lain mau coba-coba. Coba aja berani macam-macam lagi.

    Ah, sudahlah nggak usah banyak sandiwara lewat demo ini demo itu. Ahok itu tidak menista dan menodai agama manapun. Yang dia bilang adalah FAKTA. Bukankah memang banyak orang-orang, politikus, dan atau siapapun yang bila ingin memenangkan kepentingan pribadinya ia lalu memakai ayat-ayat kitab suci sebagai tameng atau senjata? Buaaanyak itu, gak usah bohong lah. Bohong itu dosa lho. Ayat-ayat suci diperalat atau dipakai untuk membodohi dan membohongi orang lain. Jelas ada. Case closed.

    Tidak ada celah apapun untuk menyatakan bahwa Ahok telah menista dan menodai agama. Selain itu ingat juga ini, bahwa sebetulnya ada prosedur mengenai peringatan keras terhadap orang yang dianggap melakukan penodaan agama.

    Misalnya saja peringatan dari Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, dan Jaksa Agung, baru kemudian dapat dinaikkan untuk dituntut secara hukum. Dalam kasus Ahok ini kan semua tahapan itu tidak dilakukan sama sekali. Begitu cepatnya dia sudah dijadikan tersangka dan terdakwa.

    Ahok didakwa pasal alternatif yaitu Pasal 156 dan Pasal 156a KUHP. Dalam Pasal 156, hukuman pidana penjara maksimal empat tahun untuk seseorang yang dengan sengaja menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia.

    Apakah Ahok selama ini menunjukkan sikap permusuhan terhadap Islam atau agama tertentu manapun? Dia justru membangun begitu banyak Masjid. Mengirim orang untuk umroh dan naik haji. Apa yang dia sampaikan di Kepulauan Seribu tidak dalam rangka menghina, menista, atau menodakan agama.

        Jadi Anda sudah tau kan jawaban untuk pertanyaan di atas sana: Kenapa Ahok Mestinya Divonis Bebas? Kasus tuntutan terhadap Ahok ini sangat patut diduga adalah hanya rekayasa belaka. Dan ini lalu kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak ingin Ahok kembali jadi Gubernur.

    Pasal 156a yang lebih detail dari pasal 156 mengharuskan adanya unsur kesengajaan sehingga harus ada niat dari pelaku untuk menistakan agama. Hari ini Ahok terbukti sama sekali tidak punya niat itu, dan tidak ada unsure kesengajaan. Ahok jelas difitnah, lain tidak.

    Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan. Jadi saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, tanah air beta. Sadarlah, stop jadi tukang fitnah.

    Begitulah tukang-tukang…



    Penulis : Michael Sendow   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kenapa Ahok Mestinya Divonis Bebas? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top