728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 05 April 2017

    Kebhinekaan Indonesia Tak Butuh Zakir Naik

    Jamaah away agama-agama Indonesia itu saya nilai doyan dan mudah getun alias gumunan, selera takjuban, dan terperangkap pop culture. Juga sangat mudah terpedaya dengan yang terlihat agamis, simbolistik dan retorik. Sekalipun ilusi dan destruktif. Itu diidap oleh jamaah Kristen, apalagi Islam. Persis awal-awal saya belajar alif-ba al-Qur’an..

    Hari ini umat Islam terpesona pada Zakir Naik. Pendakwah asal India itu. Dia sangat baik menguasai Kristologi, ilmu terkait doktrin, ajaran dan keagamaan Kristen. Saya coba pelajari orasi dan panggungnya di youtube. Saya ingat pembimbing Kristologiku, Kiai Abdullah Wasian. Bolehlah sebagai ilmu dan kemampuan teknis dipelajari. Tapi….

    Saya uda capek menjadikan agama sebagai arena ketegangan, alat pemukul, sarana penindas dan disharmonisasi. Lelah saya lihat air mata duka, tangis kecewa dan dendam membara. Capek saya lihat darah, nyawa tak berdosa, barang porak poranda dan peradaban luluh lantak. Sampai kapan agama ditunggangi, dikapitalisasi dan diperalat oleh pengimannya? oleh tokohnya? memperdaya jamaahnya?

    Kebhinekaan itu takdir. Kita butuh relasi sehat dan harmonis. Zakir Naik itu lebih dekat pada provokator. Budaya lokal dan tradisi keagamaan itu indah. Zakir berpikir model Wahabisme. Alergi budaya lokal dan literalistik. Retorika membanding-bandingkan agama itu tak sehat dan menyakitkan. Kita butuh agama yang ramah perbedaan dan cinta kebhinekaan. Hidayah kita jemput tanpa perlu mengagitasi dan memprovokasi. Lebih-lebih penuh ujaran kebencian dan permusuhan.

    Yang terbaik sinergi kaum beragama. Mari kita atasi problem riil kehidupan. Ketidakadilan, kemiskinan,narkoba, neo kapitalisme, liberalisme ekonomi, illegal loging, kekerasan politik, buta moral dsb. Kok mau-maunya memelihara kesumat Perang Salib. Kok mau-maunya rebutan surga. Kok mau-maunya diadu domba.

    Apa bangganya memasukkan banyak non muslim ke Islam bila nantinya sekadar jadi burung beo syahadatain? Bolehlah bila beragama level kompensasi surga ala “pengantin” jihadis. Demi 72 bidadari. Tapi mbok naik ke level Rabiatul Adawiyah kek! Lagian ini abad 21 kok semangat Salib dipertahankan? Sebegitu naifkah kalian. Di Amerika & Eropa kaum Kristen pasang badan untuk umat Islam dari provokator ala Zakir itu. Di Tepi Barat Yahudi & Nasrani jadi tameng bagi muslim dari Zionis. Kok kalian terpesona Zakir?!

    Heran Pak Jusuf Kalla & Ketua MPR pun tak paham mana oase mana lumpur! Benar-benar tekor nalar keindonesiaan & keislaman yang sehat.

    Kita butuh pendakwah yang merangkul non muslim. Hentikan segregasi dan pengkelasduaan non Islam. Jangan kesankan agama sebagai alat rasisme dan diskriminasi. Kita butuh missionaris yang menyatukan rasa kemanusiaan dan kebangsaan kita. Pasca Cak Nur dan Gus Dur kita butuh Gus Mus, Buya Syafii,Cak Nun, Mbah Maimoen, Dalai Lama, Romo Magnis, Pendeta Yewango, Bikkhu Jayamedo, Haksu Chandra dsb. Kitalah yang mengajar dunia dengan agama damai dan harmonis. Kitalah yang mendidik dunia dengan agama dialogis dan penuh aura kebangsaan dan kemanusiaan. Bukan sebalikya.

    Kita butuh dialog agama. Dialog pemuka agama dan kerjasama lintas agama.


    Penulis :  Mohammad Monib   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kebhinekaan Indonesia Tak Butuh Zakir Naik Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top