728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 08 April 2017

    Jangan Khawatir, Ansor, TNI dan Polri Siap Mengamankan Pilkada DKI

    Melihat pergerakan politik di DKI belakangan ini, siapa yang tidak dibuat gelisah dengan berbagai macam bentuk intimidasi dan terornya yang berbau diskriminasi rasial serta agama? Rasa takut dan gelisah itu wajar ada dalam diri kita, namun kita harus waspada ketika perasaan tersebut ternyata ditimbulkan by design, atau dengan sengaja, oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab serta ingin memanfaatkannya. Dan kita tidak dapat memungkirinya bahwa hal tersebut sekarang sedang terjadi di Jakarta.

    Rasa khawatir yang berujung pada ekspresi gelisah serta panik tersebut memang diinginkan, dan sedang diupayakan oleh kelompok radikal serta mafia-mafia politik yang keberadaannya terganjal oleh kepemimpinan Ahok-Djarot.

    Hal ini terlihat dari serangkaian bentuk intimidasi dan teror yang terus berusaha dipupuk selama ini melalui propaganda dan isu-isu yang memecah belah. Dan harapannya adalah agar suara pemilih Ahok-Djarot menciut. Perhatikan saja, isu-isu SARA yang diteriakkan dengan lantang selama ini selalu diarahkan kepada pendukung Ahok-Djarot. Dan bukan saja hanya menyasar masyarakat non-Muslim, melainkan juga diarahkan kepada saudara/i Muslim. Masih segar di benak kita bagaimana mereka yang mendukung pasangan nomor urut dua selalu dikatakan sebagai munafik, murtad, hingga bahkan kalau meninggal tidak akan di-shalat-kan jenazahnya.

    Intimidasi dan propaganda teror yang begitu terstruktur, sistematis dan masif ini mustahil dilakukan jikalau tidak dikoordinir dalam skala yang besar; dengan memanfaatkan jejaring yang luas dan pendanaan yang masif. Ini seharusnya memantik sebuah pertanyaan di benak kita, kenapa simpatisan radikal ini sampai begitu al–ngotot dan rela untuk melakukan tindakan-tindakan yang, bahkan di dalam ajaran “agama” mereka, begitu haram? Apakah semua ini hanya sekadar untuk memenangkan paslon yang diusungnya?  Atau, apakah ada sesuatu yang lebih besar yang sedang mereka kejar? Mungkinkah menangnya paslon mereka ternyata hanyalah sebuah batu loncatan saja?

    Grand Scheme: Upaya Pelengseran Pemerintahan yang Sah?

    Ketika membaca pengungkapan rencana makar yang hendak dilakukan baru-baru ini, saya tersadar akan satu hal, bahwa syahwat sekelompok orang untuk merebut kekuasaan sepertinya sudah begitu tak tertahankan. Sudah diujung begitu, tapi kok ga sampai-sampai juga, bayangkan betapa menderitanya mereka. “Ya Allah, Tuhan YME, kapan kami-kami yang zomblo ini bisa menang dari derita dan nestapa menantikan nikmatnya syurga.”

    Upaya pelampiasan ini terbaca ketika polisi membuka informasi bahwa setelah pilkada DKI Jakarta akan ada serangkaian demonstrasi di lima kota besar untuk menggulingkan Presiden. Mungkin sebagian orang berpikir kalau Ahok-Djarot menang, maka akan ada demo besar-besaran sebagai bentuk penolakan. Apalagi kalau Ahok akhirnya dinyatakan tidak bersalah, kaum radikalis berkedok agama mungkin akan makin mendapatkan just cause untuk melaksanakan aksinya.

    Pandangan tersebut saya rasa cukup keliru. Justru isu itu yang hendak mereka tanamkan di benak masyarakat, supaya masyarakat takut dan lebih memilih paslon yang satunya agar kondisi tetap aman. Analisis saya melihat fakta yang sebaliknya. Malahan, jikalau paslon oke-ngoceh menang, itu lebih berbahaya. Setidaknya ada beberapa alasan yang dapat saya ungkapkan.

    Pertama, dengan menangnya paslon “Ogah Kerja, Ogah Cape”, maka mentalitas kaum radikal akan naik. Kepercayaan diri mereka akan menjadi begitu tinggi, bagaikan kumpulan laskar FPI yang diberi rendang sapi, mereka akan sangat berenergi. Bayangkan saja, ketika mereka dilawan dan dicaci-maki oleh masyarakat luas saja mereka masih begitu berani, apalagi kalau mereka merasa “didukung” oleh masyarakat Jakarta karena paslon yang mereka usung menang? Bisa bahaya Jakarta dan Indonesia. Seluruh kelompok yang se-DNA dengan mereka akan makin menjadi-jadi tindak intoleransinya di Jakarta dan daerah lainnya. Masih ingat aksi pembubaran kebaktian Natal di Sabuga, Bandung pada 6 Desember 2016 setelah aksi 212?

    Kedua, baik secara kinerja, politik dan administratif, kursi DKI di tangan oposisi akan mengganggu jalannya pemerintahan pakde Jokowi. Sudah pernah saya singgung di berbagai ulasan saya sebelumnya, bagaimana Anies adalah Menteri bekas pecatan Pakde Jokowi sendiri. Juga bagaimana para pendukung di belakang Anies-Sandi terindikasi dengan kelompok makar selama ini.

    Ketiga, adalah bagaimana massa akan lebih mudah digiring ke Jakarta bila oposisi yang berkuasa di sana. Gubernur Jakarta itu “penguasa” ibukota. Ia nyaris punya akses ke mana saja dan kepada siapa saja, juga termasuk dana operasional yang amat besar.

    Saya yakin oposisi sadar di dalam hati terdalamnya bahwa mereka akan sulit menang bila harus beradu dengan Pakde secara demokratis pada 2019. Oleh karena itu, jalan inkonstitusional merupakan pilihan terakhir bagi mereka. Hal ini terlihat dari tingginya frekuensi dari upaya makar ketimbang pemerintahan sebelumnya. Bukan karena pemerintahan sebelumnya lebih baik, tetapi bagi saya karena pemerintahan kini jauh lebih bersih dan mengupayakan pembersihan mafia-mafia di berbagai sektor.

    Tiga poin di atas akan mengarahkan kita kepada sebuah kesimpulan bahwa pilkada Jakarta saat ini hanyalah sebuah test case. Kita harus sadar bahwa test case ini sedang mengukur bagaimana efektivitas dari politisasi SARA terhadap masyarakat kita; Baik dalam hal mendulang suara bagi kawan maupun mengecilkan suara milik lawan. Jikalau di Jakarta saja, yang notabene adalah ibukota Negara sekaligus kota yang paling maju dan majemuk, praktik politik seperti ini masih efektif, maka tidak mungkin metode seperti ini tidak akan diterapkan pada tingkat yang lebih tinggi dan skala yang lebih besar, yaitu pada tingkat nasional (pilpres di masa-masa yang akan datang).

    Manipulasi masjid sebagai sarana politik praktis dan kotor akan semakin masif ditiru. Daerah-daerah lain akan mencontoh keberhasilan metode ini, dan ini akan menjadi suatu torehan besar yang memalukan bagi wajah demokrasi di negeri kita. Saya yakin, sekalipun Anies-Sandi kalah, metode ini akan tetap ditiru karena hasil capaiannya yang menggairahkan pada pemilihan putaran pertama. Sungguh, suatu pendidikan politik yang menjijikan dan begitu rendah telah dipertontonkan oleh para penentu strategi perpolitikan kita dengan berkedok wajah agama. Mereka-mereka yang cerdas namun nuraninya telah lama kandas.

    Jangan Khawatir: Masih Ada GP Ansor, TNI dan Polri yang Siap Mengawal Negeri

    Untuk menyikapi hal ini, kita sebagai masyarakat awam tidak perlu takut dan menjadi panik. Jangan berikan keuntungan bagi orang-orang picik, karena memang itu yang diharapkan oleh mereka-mereka yang tengik. Masih ada TNI dan Polri yang siap mengawal negeri ini, ditambah dengan keberadaan ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) yang turut bergerak mengamankan Negara melalui GP Ansor-nya.

    Ormas-ormas radikal garis keras sekelas FPI-HTI-FUI dan yang se-DNA dengan mereka itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Ansor. Mereka itu seujung upilnya Ansor pun tak ada. Lalu kenapa selama ini seolah-olah ormas garis keras kelihatan besar? Itu hanya karena mereka lebih berisik saja. Bagaikan anak kecil yang teriaknya kenceng, mereka tidak ada apa-apanya ketimbang orang dewasa yang diam. Ansor selama ini memilih untuk tenang. Tapi sepertinya ormas-ormas radikal tersebut akhirnya berhasil membangunkan macan yang tengah diam dan memantau dengan tenang.

    Hal itu ditandai dengan pernyataan resmi dari ketua GP Ansor, Yaqut Chalil yang menyatakan dukungannya kepada pasangan Basuki-Djarot pada hari ini di Jalan Kramat Raya, Jakarta[1]. Keberpihakan ini bukan semata-mata demi pasangan petahana, melainkan demi menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika dari kelompok radikal yang ingin menyingkirkannya.

    Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword), jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Dari sisi jumlah kekuatan massa, gabungan seluruh ormas radikal garis keras itu tidak seberapa dibandingkan jumlah banser NU dan GP Ansor. Pada hari pencoblosan nanti mereka akan mengerahkan banser untuk mengawal TPS-TPS di Jakarta, serta membantu TNI dan Polri mengamankan situasi. Masyarakat tidak perlu takut untuk memberikan suara, karena itu hak kita dan masa depan kita. Pemerintahan yang baik untuk 5 tahun ke depan adalah hak anak cucu kita yang harus kita perjuangkan sedari sekarang. Untuk Jakarta dan Indonesia yang lebih baik.



    Penulis : Nikki Tirta.  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jangan Khawatir, Ansor, TNI dan Polri Siap Mengamankan Pilkada DKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top