728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 10 April 2017

    #JakartaPunyasemua#BeragamItuBasukiDjarot, Dramatisasi Video Mengusik “Kubu” Anies

    Rasionalisasi “miring” yang berasal dari asumsi “liar” dari hasrat memenangkan kontestasi Pilkada dengan menghalalkan segala cara yang penting menang adalah pasangan calon bertajuk isu agama yang diduga dimainkan pasangan calon Anies-Sandi.

    Saat video yang disebarkan dikanal resmi media social Ahok dengan menggunakan tagar#beragamitubasukiDjarot dan disikapi dengan rasionalisasi “miring” yang dilakukan oleh relawan Anies-Sandi A*th*ny L*ON* lulusan dari perguruan tinggi negeri yang kini kerap “bersarang”nya gerombolan kaum “bumi datar”.

    “Dalam perspektif pesan komunikasi, visual-visual, dan gambar itu mengirim sebuah makna teror,” ujar relawan ini, lulusan dari jurusan FISIP ini memiliki perseptif “unik” rupanya dengan kemampuan ilmu dan pengalaman di dunia komunikasi digital lalu mengartikan karya video ini yang seakan mewakili perseptif “rasionalisasi miring”bahwa video ini mengesankan bahwa menampilkan visual yang mencekam.

    Ada pepatah “guru kencing berdiri murid kencing …….”mengencingi gurunya ?, salah !, ketika Pasangan calon nomor urut tiga (Anies-Sandi) yang melakukan langkah manuver “hijau” nya di dunia politik yang bukan hanya blunder di tingkatan wacana politik namun juga menampilkan “pemaksaan logika” yang melakukan “pemberontakan” dari pola pikir “sehat”

    Saat pasangan calonnya melakukan manuver  mimpinya dan kerap membuahkan suasana suburnya “tuduhan” melakukan praktek fitnah disana sini kini relawannya yang seringkali melakukan pertemuan di salah satu gedung bertingkat di jalan TB Simatupang (sumber informan seword) mencoba melempar pendapatnya bahwa video ini “melecehkan” Presiden Jokowi karena tidak mampu menjaga stabilitas dan keamanan Indonesia.

    Situasi yang mencekam saat kerusuhan Mei 98 dahulu yang memang memiliki polarisasi yang hampir sama dengan saat ini dimana isu SARA dan etnis  C*na yang dahulu menjadi korban dari komoditas politik rezim Soeharto, dahulu adanya instrument pamswakarsa yang kini merubah jubah politiknya menjadi FPI, saat dahulu isu agama menjadi “mainan” keji para politikus kini pun gencar dimainkan, saat dahulu ancaman perpecahan sudah tumbuh dari diskusi “kecil”dilingkungan yang terlena dengan status quo berhadapan dengan isu pemberantanasan korupsi (KKN dan nepotisme).

    Polarisasi pertentangan yang hampir mirip, dahulu musuh nya adalah  “dinasti cendana”dan korupsi (KKN, Korupsi, kolusi dan Nepotisme) kini pun mereka secara terang-terangan tampil dipermukaan dimana para “:korban” dari dampak bersih-bersih Ahok  dari pelaku “maling uang rakyat muncul tanpa malu-malu berkumpul melawan “icon” pejuang pemberantasi korupsi (Ahok).

    Video ini tampil dengan jujurnya ditengah masyarakat yang sebagian besar sudah mengalami “amnesia” bahwa korupsi adalah penyakit mematikan bagi bangsa ini, musuh bangsa ini bukan penjajah, dan pasukan separatis yang memainkan isu intoleransinya (F*I) itu dengan mudah “ditiup” whuss …whuss..bubar, musuh bangsa ini adalah korupsi.

    Video yang sangat “brilian” dibuat untuk menyadarkan kaum pendukung pasangan calon yang berkawan dengan para koruptor yang kini terjangkit virus “amnesia”, perjuangan memerangi budaya korupsi adalah belum selesai, dahulu kita pernah menjumpai momentum yang menjadi permulaan evolusi perubahan budaya dan turut menginisisasi lahirnya “orang-orang baik”saat ini. Video tersebut sangat baik ditampilkan dengan dramatisasi yang mengingatkan dan melakukan ajakan (persuasive) positive kepada audiens penonton video untuk bersatu didalam keragaman (kebhinekaan)

    Dramatisasi video ini sangat baik dan mengusik para pemain dengan instrument yang menjadi komponen lama. Bahasa  mereka adalah bangkit dan melawan !

    Nikmat memang hidup dalam puji dan puja serta sembah dari para rakyat yang mereka analogikan sebagai  ambdi dan budak, kini mereka semakin tergerus dan terancam “miskin” dan mereka berkumpul dan bangkit melawan, dari “jawara” kalijodo, hingga “preman” DPRD kasus UPS, hingga yang dipertuan agungkan “To**y”sang putra mahkota

    “ Jika masa perjuangan reformasi dahulu kami berjuang dan menantang peluru, kami tidak takut dengan ancaman yang kalian mainkan sekarang.! Ujar mantan aktivis, perpecahan “kecil” yang tengah dimainkan sekarang menghadirkan video yang brilian untuk mengingatkan dan mengajak agar tetap bersatu.

    Penulis :  Dudi akbar   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #JakartaPunyasemua#BeragamItuBasukiDjarot, Dramatisasi Video Mengusik “Kubu” Anies Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top