728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 09 April 2017

    Jakarta Kece Net TV, Bertema Santai Namun Anies Tetap “Nyinyir”

    Acara dengan format talk show yang melibatkan kedua paslon berhasil diselenggarakan oleh Net TV dengan membangun kesan “santai”. Dimana debat sebelumnya bertajuk “Debat Final PIlkada DKI” Metro TV terselenggara dengan menyimpulkan kesan tertentu kepada  peserta debat yang kini menjadi domain setiap individu masyarakat pemilih terhadap keputusannya kelak.

    Penduduk Jakarta yang mempunyai demografi mayoritas berpenduduk muslim, jumlah usia muda dan tingkat pendidikan tinggi yang terbaik, para paslon mendapatkan tantangan untuk berlomba memenangkan suara pemilih. Dari paslon nomor tiga (Anies-Sandi) yang memainkan isu agama dengan gencarnya terbaca dari aktivitas dan komunikasi yang “menaungi” ormas “perusuh” kebhinekaan dilibatkan. Sementara Ahok-Djarot yang mendapat serangan gencar dari isu Agama, Etnis dan perihal primordialisme justru mendapatkan banyak dukungan bukan hanya semata “victim” namun kejujuran  dalam menghadapi  serangan.

    Tingginya tingkat pendidikan dan mayoritas usia muda menjadi tantangan bagi pasangan calon untuk dapat menghadirkan komunikasi sederhana dan mudah dimengerti oleh masyarakat pemilih. Sajian dari Net TV dengan pemandu acara yang santai dan gaya millennia menjadi harapan untuk lebih sejuknya suhu pilkada DKI dan rasionalnya setiap ucapan dan tindakan para pasangan calon untuk berkomunikasi.

    Berpenampilan santai dan bebahasa “tidak baku” menjadi  komunikasi politik yang harus dikuasai oleh pasangan calon untuk segmentasi pemiih muda. Para pemuda  di streotipkan dengan idealisme, keberanian dan bertindak “nothing to lose” sehingga terkadang “kebangetan” atau serba ter…, terlalu berani, terlalu diam, terlalu santai, dan ter…ter lainnya. Terciptakanya persepsi minus masyarakat terhadap “anak muda” kini sudah banyak “dibongkar”dengan banyaknya kesuksesan para pemimpin muda yang berhasil meruntuhkan “tatanan budaya” kotor dari tingkat administrasi hingga professional.

    Dahulu orang berfikir “negative” terhadap orang mudah yang dikesankan “tidak tahu apa” dan cenderungg emosional kini banyak orang berlomba-lomba ingin berkesan “muda” sebagai generasi yang “bersih” dibandingkan dengan “golongan tua” yang berlumuran kotornya korupsi.

    Kesederhanaan dan kejujuran menjadi advantage/keunggulan dari generasi muda, tidaklah sulit dalam memutuskan ketika berhadapan dengan hebatnya gelombang narasi dan urutan-urutan kata dari kelihaian komunikasi massa yang dimiliki oleh para pasangan calon, gelar mereka boleh saja “selangit” tapi percayalah bahwa audiensi pemilih yang menggunakan kekuatan kejujuran dan idealisme akan dengan mudah menyimpulkan mana yang akan mereka pilih.

    Saat sekolah dahulu kita kerap dilekatkan dengan berbagai macam karakter, si Amir “gagap”, si Budi “lucu”, si Ahmad “pemberani” hingga julukan-julukan negative yang juga dilekatkan oleh teman-teman, si  Saiful “cupu” dan lain sebagainya.

    Saat pasangan calon mencoba “bermain-main” dengan golongan usia muda dengan tingkat pendidikan yang baik mereka  harus berhati-hati bahwa gelar dan pencapaian-pencapain setiap paslon  menjadi salah satu faktor penyumbang saja dalam mengambil keputusan, namun justru yang “berat” adalah ketika anak muda ini sudah memberikan “julukan” jujurnya  kepada obyeknya dan ini akan menjadi sebuah “image” yang dilekatkan oleh mereka kepada para pasangan calon tersebut.

    Mudah sekali kesuksesan untuk meraih simpati golongan  muda tersebut, jika sudah berhasil dilekatkannya label-label dan julukan dari mereka, biasanya serumit apapun permasalahan dan seberapa hebatnya untaian narasi akan selesai dengan singkat ….ah dia mah “cupu”…dia “culun” jangan percaya.

    Anies yang pada sesi penampilan tersebut tetap saja melakukan senjata “nyinyir” dan bermain dengan data-data “hayalan” yang dimainkan dengan intonasi sehingga dapat mempengaruhi pendengar dengan mengatakan di closing statement yang bertajuk himbauan dan ajakan pemiiih dalam peran serta suksesnya Pilkada DKI damai, dimana kesempatan pertama diberikan kepada pasangan calon Ahok-Djarot yang  mengatakan “ seluruh warga jakarta kita mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan  pilkada damai dan sejuk  dan menghargai  pilihan masing –masing dan tidak memutus tali silaturahmi diantara kita, marilah meski berbeda pilihan namun tidak saling menjelekkan, fitnah dan tidak bertegur sapa , dan bahwa pilkada adalah pesta demokrasi yang  harus menggembiriakan…siapa pun yang terpilih itulah pemimpin kita dan kita terima apapun hasilnya” ujar Djarot

    Sementara  Anies mengatakan “Pilkada tiga hal , pertama pilkada yang jujur tidak ada transaksi, tidak ada money politik bersih semua dijalankan dengan kejujuran, kedua pilkada yang adil dimana penyelengaranya  tidak berpihak, pemerintah dan aparat nya kamanan tidak berpihak, ketiga pilkada yang  demokratis, jangan sampai  yang berhak tidak dapat menyoblos dan yang tidak berhak ikut menyoblos,….”

    Closing statement dari setiap pasangan calon yang dapat dinilai oleh masyarakat pemilih dengan target sasaran pemilih yang muda melenia…mana calon pemimpin si A yang “pembohong” si  B “ cupu” atau apapun julukan-julukan lainnya yang melabelkan calon pemimpinnya yang kerap dilakukan oleh “orang muda” kepada seseorang…



    Penulis : Dudi akbar   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jakarta Kece Net TV, Bertema Santai Namun Anies Tetap “Nyinyir” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top