728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 02 April 2017

    Jakarta Dulu Kutukan, Kini Berkah Bagi Indonesia

    Tahun 2000an, saya punya kesempatan untuk menetap di Jakarta. Saya melamar pekerjaan yang operasionalnya di Jakarta. Tapi saya akhirnya memutuskan tidak. Faktor lingkungan Jakarta yang buruk menjadi salah satu alasan utama saya.

    Saat dapat tugas ke Jakarta sebisa mungkin saya hindari. Polusi udara masa itu mengerikan. Saat di atas pesawat, saya melihat langit Jakarta pekat diselimuti asap hitam buram. Kabut pekat asap knalpot membungkus Jakarta. Asap knalpot puluhan ribu kendaraan tua metro mini, kopaja, bajai dlsb menyelimuti atmosfir langit Jakarta.

    Sinar matahari tidak mampu menembus atmosfir Jakarta. Sepanjang hari matahari nampak remang seperti senja. Belum lagi sumpeknya jalanan dari Bandara Soetta ke kota akibat macet. Bising.

    Sungai-sungai hitam bau busuk penuh sampah dan bangkai binatang seperti anjing, ayam, kambing, kucing berpelukan dengan kasur, lemari hingga kursi sofa. Membentuk daratan dengan sampah mengapung di atas sungai. Itu yang saya lihat saat melintas dari Taxi yang mengantar saya beberapa tahun silam. Jakarta adalah kutukan.

    Hampir beberapa bulan ini, saya sering tinggal di Jakarta. Sebagai orang luar, saya bisa melihat Jakarta lebih jernih dan fair. Jika dulu mata saya mudah perih karena tebalnya kabut asap dari ratusan ribu kendaraan, kini udara menjadi bersih.

    Ribuan metromini berbahan bakar solar perlahan menghilang digantikan dengan kendaraan Trans Jakarta yang berstandar dunia. Berbahan bakar gas. Bening dan jernih hasil pembakaran bahan bakarnya. Belum lagi ongkosnya murah, tepat waktu dan ber AC. Bebas copet dan gangguan pengamen. Nyaman dan aman

    Sungai-sungai sekarang tampak bersih dan jernih. Tak ada lagi sungai berwarna hitam pekat dengan tumpukan sampah dan bangkai binatang. Masalah banjir yang bikin stres dan menjadi momok menakutkan warga lenyap. Mimpi buruk musim penghujan menghilang. Dari ribuan titik yang dulu selalu jadi langganan banjir kini hanya puluhan titik tersisa.

    Sebagai warga non DKI yang sering ke Jakarta, tentu harapan saya dan jutaan pengunjung Ibu Kota, Jakarta bisa semakin bersolek cantik. Membuat betah para pendatang. Para pendatang bisa lebih lama lagi tinggal dan membelanjakan uangnya sehingga memberi manfaat ekonomi bagi warga Jakarta.

    Saya masih ingat, ketika diminta bos agar datang ke Jakarta rapat bulanan, saya mencari seribu satu alasan menghindar. Pokoknya pergi ke Jakarta itu bencana bagi saya. Penderitaan.

    Tapi kutukan dulu itu telah hilang lenyap. Pangkalnya sosok pelayan rakyat Jakarta terpilih menjadi Gubernur Jakarta. Jokowi dan Ahok duet pelayan itu dipilih warga Jakarta pada pilgub 2012 lalu.

    Pada 2014 lalu Jokowi naik jadi Presiden RI ke 7. Ahok menggantikan posisi Jokowi naik menjadi gubernur. Ahok melanjutkan program Jokowi. MRT, Jalan Tol Becakayu, LRT Bogor Jakarta dikebut pembangunannya. Hasilnya Jakarta Baru mulai tampak bentuknya.

    Reformasi birokrasi pemerintahan berjalan cepat. Birokrasi yang dulu jadi hantu kini menjadi birokrasi yang melayani. Pungli yang dulu kayak bayar upeti legal kini hilang lenyap karena teladan Ahok yang bersih dan tegas.

    Fasilitas publik dibangun memanjakan warga Jakarta. Keadilan sosial bagi semua warga diadministrasi dengan terang benderang. KJS, KJP, KJL, pasukan biru, ungu, merah, oranye sebagai tangan pelayan rakyat bekerja tiada henti. Cepat dan tepat sasaran.

    Untuk alasan itulah saya ringan langkah ke Jakarta. Ikut turun menjadi relawan memenangkan Ahok Djarot. Jakarta akan menjadi role model pembangunan kota yang berkeadilan sosial. Bersih transparan dan profesional.

    Jika ditanya apakah ada rencana pindah ke Jakarta suatu hari? Ingin dong. Jakarta sudah keren banget. Kalau soal lingkungan sudah tidak ada masalah lagi buat saya. Aman, nyaman dan menyenangkan. Tapi rumah di Jakarta mahalnya aujubileh. Gak kuat buat dompet isi uang sepuluh ribuan seperti saya.

    Jadi Hmmm… Rasanya belum deh, soalnya saya gak mau tertipu sama penjual rumah 350 juta. Masak sih saya pindah karena iming-iming rumah murah 350 juta yang dipromosikan sama calon gubernur manis di bibir itu? Kecuali dapat lotere 3 M, mungkin saya akan pindah. Gubrakkkk… Mimpi kalee. Lebih baik mimpi daripada percaya omongan rumah 350 juta plus DP Nol persen. Yekann.

    So, Jakarta sekarang bukan lagi kutukan bagi penghuninya. Jakarta telah mejadi berkah bagi warga Jakarta. Berkah bagi Indonesia karena dipimpin oleh pemimpin pelayan yang punya rasa empati sosial dan pekerja keras, Basuki Tjahaya Purnama dan H. Djarot Saiful Hidayat pelayan itu.

    Salam Perjuangan

    Penulis :   Birgaldo Sinaga   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jakarta Dulu Kutukan, Kini Berkah Bagi Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top