728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 02 April 2017

    Islam “Fix” Tidak Melarang Non Muslim Menjadi Pemimpin, Al-Khaththath Pemimpin Demo Muslim Nyenyak Di Hotel Bintang Lima?

    Dalam aksi bela agama 212, pembicara M Al-Khatath menyatakan :

    “Huk huk (disertai tawa massa), pengacara huk-huk mengatakan bahwa saksi tidak mewakili umat islam, hok-hok penghina ulama tidak layak hidup di Jakarta, ayo ngomong bersama (mengajak massa berkata secara serentak).”

    Kata yang dicetak tebal dapat menjadi alasan mengapa demo 313 berstikerkan “Pribumi” yang dicap di mobil-mobil. Al-Khaththath sejak aksi 212 di Istiqlal sudah memprovokasi sebagaimana pernyataannya di atas. Bila di masjid Istiqlal saja dengan berani dan marah-menghina, bagaimana bila di jalanan dengan massa yang besar ? Beruntunglah Kapolri beserta jajarannya dapat mengamankan Al-Khaththath. Jika tidak, kebencian dari provokasi akan kembali merebak. Pertanyaannya, apakah Al-Khaththath yang mempunyai bumi ? Alangkah lebih baiknya permasalahan didiskusikan dan dimusyawarahkan.

    Di aksi 313 Khaththath ditangkap di Hotel Kempinski :


    “Khaththath istirahat untuk aksi hari ini bersama istrinya. Pukul 02.00, ada manajer hotel mengetuk pintu, ada tamu katanya ” kata Achmad selaku Tim Pengacara Muslim (TPM), yang sedari siang mendampingi proses pemeriksaan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat (31/3/17)

    Para pendemo disediakan tempat di masjid, ketua demo tidur nyenyak di hotel bintang 5 bersama istri tercinta, andai saja Al-Khaththath tidur bersama warga yang lainnya di masjid, polisi akan kelabakan dalam menangkapnya. Polisi juga akan dihalau massa untuk menangkap Al-Khaththath, tapi ya begitulah, sangat sedikit sekali pemimpin yang mau bersama-sama mengalami suka-duka dengan warga. Al-Khaththath tidur nyenyak di hotel, pendemo yang lain kedinginan dan digigit nyamuk tidak tidur di masjid ? Kalau mau mendemo lagi, belilah soffel. Ok Oce ?

    Next, sedari mencalonkan Gubernur di Bangka Belitung, Bapak Basuki Tjahaja Purnama sudah menjadi bulan-bulanan komunitas pemakai ayat agama dalam mendulang suara.

    Berikut pernyataan Gus Dur :

    “Ada yang bilang, Wahai Muhammad, Kristen dan Yahudi itu tidak akan rela sampai engkau mengikuti agama mereka.

    “Saya bilang ayat ini tidak ada urusannya dengan Gubernur. Kalau mereka tidak rela dengan agama kita, kita juga tidak akan rela dengan agama siapapun. Apakah kalian mau sholat dibelakang orang Yahudi ? Gak mau,  Sholat di belakang orang Kristen ? Gak mau. Tapi dalam pemerintahan Tidak apa-apa. Kita harus tahu dong, dimana makenya ayat, jangan sembarangan aja.

    The Next Gus Dur (KH. Ali Maschan Moesa) menyatakan  

    “Memilih pemimpin ubudiyah (ritual ibadah keagamaan) itu jelas harus yang sama agama, kalau pemimpin tentang permasalahan dunia tidak apa-apa. Kalau baik, mempunyai keahlian tidak apa-apa. Kita harus mencontoh Nabi, Nabi bersabda, kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian. Sabda lainnya barang siapa memusuhi orang non Islam yang baik, yakni mau bersepakat untuk hidup rukun dalam satu wilayah maka sesungguhnya mereka memusuhiku (Nabi).” Di PP. Luhur Al Husna Jemur Wonosari (21/2).

    Jadi yang dimaksud melarang menjadikan pemimpin non muslim itu dalam perihal ibadah keagamaan. Kalau masalah keduniawian tidak apa-apa. Kalau ada yang tetap ngeyel, siramkan air pakai gayung atau ember. Lelepkan ke kamar mandi.

    Islam Fix Tidak Melarang Non Muslim Menjadi Pemimpin Keduniawian

    Pemakaian Al-Qur’an dalam menentukan suatu pilihan sudah diramalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jika pada kenyataannya kita melihatnya bersama, ramalan Nabi Muhammad SAW 100 % benar. Berikut sabdanya : 

    Dinarasikan Miqdam ibn Ma’dikarib bahwa Rasulullah bersabda ; “Ketahuilah sesungguhnya saya diberi kitab (Al-Qur’an) dan wahyu yang semisalnya (Hadis) bersamanya. Akan terjadi (di masa depan) seorang yang kenyang sedang bersimpuh pada sofanya mengatakan, berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an saja ! apa yang dihalalkan Al-Qur’an, maka halalkanlah dan apa yang diharamkan Al-Qur’an maka haramkanlah.” (HR. Abu Dawud).

    Pemahaman yang valid benar dalam Islam ialah Al-Qur’an harus dikomparasikan dan dikombinasikan dengan Hadis. Memakai Al-Qur’an saja merupakan suatu kesalahan. Mengapa demikian ? Karena Islam yang sejati adalah Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an dan Hadis diturunkan kepada beliau dan beliau mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tauladan Nabi Muhammad SAW harus dicontoh pengikutnya agar islam Rahmatan lil ‘alamin yang hakiki tidak menjadi benda mati yang hanya berserakan di kertas (Al-Qur’an & Hadis). Ada pada hati umat Islam yang bertindak menyelamatkan segala yang ada di sekitarnya. Manusia, hewan dan tanaman-tanaman.

    Yang dikhawatirkan seorang muslim adalah Bapak Basuki membenci orang Islam. Mereka khawatir setelah dicekoki Al-Maidah 51, karena dalam kisah tersebut Allah menyatakan orang Yahudi dan Nasrani membenci Islam. Ini terkait peperangan dan penyebaran ajaran pada masa itu. Hal ini maklum. Mengenai Pilkada, Bapak Basuki tidak mempunyai niatan buruk kepada Islam. Jangan ragu dan jangan kasih kendor untuk Ibu Kota Jakarta yang asyik dan bebas dari politisi abal-abal. Berikut kaitan Al-Maidah 51 yang disampaikan KH.Masdar Farid Mas’udi selaku Rais Syuriah NU di sidang ke 16 :

    Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (Al-Mumtahanah ayat 8)

    Jadi Islam melarang memilih pemimpin apabila ada indikasi dia memerangi agama kita dan mengusir kita dari kampung halaman. Bapak Basuki tidak demikian. Dia mematuhi hukum dan hadir memberi kesaksian di pengadilan, kasus ini adalah hal yang sederhana, maafkan dan sepakati untuk hidup harmonis. Nabi Muhammad SAW tidak membunuh orang yang sudah pasrah atau meminta maaf dalam peperangan, mengapa kita begitu ngotot memenjarakan Bapak Basuki yang sudah meminta maaf dan hadir dalam persidangan ? Maafkan beliau dan tak usah membesar-besarkan masalah. Nabi Muhammad SAW tidak memelihara sikap yang demikian.

    “Menurut saya tidak usah mengeluarkan fatwa, ini urusan dunia.” Ucap KH. Ali Maschan Moesa di PP. Luhur Al Husna Jemur Wonosari (31/3)


    Kalau kita benar, jangan pernah berputus asa. Bapak Basuki dipersepsikan bersalah ketika menyatakan jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51, kita harus melihat sebab-musababnya. Ini hanya tentang penjelasan yang belum sempurna dari Bapak Basuki, artinya, kita tidak boleh menentukan suara hanya berdasar Al-Maidah 51, harus dipadukan dengan Al-Mumtahanah 8 dan Hadis Nabi yang menyatakan “Kalian lebih tahi urusan dunia kalian.”


    Banyak politisi kita yang memakai dalil agama untuk mempengaruhi dalam penentuan pemilihan. Kita harus menyalahkan orang-orang yang mempolitisasi agama dan menuai kebencian-dugaan negatif kepada Bapak Basuki. Kasus seperti ini tidak perlu dibesar-besarkan. NKRI lahir dengan Bhinneka Tunggal Ika. Jadi setiap warga mendapatkan hak yang sama di negara Garuda ini, jangan menggunakan SARA !


    Ada video you tube Bapak Basuki dan Bapak Djarot yang lucu. @Ahok-DjarotReact To : Raisa-Kali Kedua. Dibuat oleh “Meme Comic Indonesia.” Silahkan ditonton. Tegarlah selalu Bapak Basuki Tjahaja Purnama.


    #SalamUntukIbuVeronicadanAnak-anak
    #SaveNKRI
    #GarudaPancasila
    #SepedaJOKOWI-JK
    #BhinnekaTunggal-Ika

    Penulis :   Ainul Hayat    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Islam “Fix” Tidak Melarang Non Muslim Menjadi Pemimpin, Al-Khaththath Pemimpin Demo Muslim Nyenyak Di Hotel Bintang Lima? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top