728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Integritas Teruji di Parlemen, Anggota DPR Tak Berani Bagi Uang E-KTP Ke Ahok

    Ahok kembali buka kartu terkait mega skandal korupsi e-ktp yang dikenal dengan korupsi jumbo. Bagaimana tidak, baru-baru ini M. Nazaruddin yang pernah menjadi buronan Interpol Indonesia memberikan keterangan yang menguatkan korupsi jumbo komisi II era pemerintahan SBY ini. Ketika bersaksi, mantan bendahara Partai Demokrat ini membeberkan pernyataan yang menguatkan praktik korup di lembaga yang terhormat ini.

    Hal itu disampaikan Nazaruddin saat bersaksi dalam sidang perkara korupsi e-KTP. Berikut isi pernyataan kalimat M. Nazaruddin:

         “50 anggota kebagian semua?” tanya jaksa penuntut umum KPK di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (3/4/2017).

        “Iya. Kalau tidak, RDP (rapat dengar pendapat) tidak mau kondusif,” kata Nazaruddin.

        Jaksa kemudian menyebutkan sebagian nama politisi di Komisi II yang disebut menerima uang dari proyek e-KTP.

        Nama mereka disebut jaksa KPK adalah Arif Wibowo, Agun Gunandjar, Ganjar Pranowo, Chairuman Harahap, Yasonna Laoly, Marzuki Alie, Mustokoweni, Teguh Juwarno, Markus Nari, dan Taufik Effendi.

        Nazaruddin juga membenarkan adanya pemberian uang ke Ketua Komisi II DPR RI saat itu, Chairuman Harahap.

        “Malah ngejar-ngejar uang. Kalau tidak dia tidak mau teken,” kata Nazaruddin…. (http://nasional.kompas.com/read/2017/04/03/17064361/nazaruddin.sebut.seluruh.anggota.komisi.ii.terima.uang.korupsi.e-ktp).

    Kasus korupsi ini sangat mengiris hati masyarakat. Pandangan bahwa selama ini tempat yang terhormat itu dihuni oleh banyak oknum-oknum penjahat berdasi semakin kuat.

    Namun kita jangan melupakan kabar gembiranya. Dimana seorang putra terbaik Indonesia pernah berada disana dan menolak semua godaan dan suap dana haram korupsi. Dia adalah Basuki Tjahaja Purnama yang sedang bertarung di Pilkada DKI dan sedang mengalami beban berat sebagai terdakwa kasus penistaan agama yang sangat janggal.

    Posisi Ahok sendiri memang sudah pernah saya ulas di salah satu artikel yang berjudul “Skandal E-KTP Mendeklarasikan Siapa Sebenarnya Ahok. Silahkan kunjungi sekali lagi bila berkenan https://seword.com/politik/skandal-korupsi-e-ktp-mendeklarasikan-siapa-sebenarnya-ahok/.

    Namun yang mau disoroti dalam ulasan ini adalah bagaimana integritas Ahok yang telah terbangun dan teruji saat berada disana. Coba bayangkan bagaimana susahnya menolak suap tersebut ketika disebutkan semua anggota yang disana menerima dana tersebut. Bahkan pernyataan Nazaruddin ini menguatkan sekali. Bagaimana bisa Ahok bisa melewati ini karena pasti dia dimusuhi disana? Pernyataan Ahok di lain kesempatan menjelaskan mengapa Ahok tidak diberi uang suap e-ktp.

    Ahok menjelaskan bahwa tidak ada anggota DPR yang berani memberikan uang e-ktp kepada dia. Berikut kutipannya:

        “Mungkin saja (di dalam) list-nya, semua (anggota Komisi II DPR RI) terima (uang korupsi e-KTP). Tapi kan enggak pernah ada (anggota Komisi II DPR RI) yang berani kasih (uang hasil korupsi e-KTP) ke aku,” kata Ahok, di Jalan Haji Syaip, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan, Kamis (5/4/2017).

        Pasalnya, lanjut dia, seluruh anggota DPR RI saat itu mengetahui sifat Ahok. Menurut Ahok, dia juga rutin mengembalikan kelebihan uang perjalanan dinas.

        Selain itu, Ahok memastikan dirinya akan melaporkan anggota Komisi II DPR RI jika berani memberi uang hasil korupsi e-KTP kepadanya.

        “Pasti dong kalau (uang hasil korupsi e-KTP) dibagi ke semua (anggota) Komisi II, tapi atas nama saja kan. Mungkin dia bagi rata, pasti hitungannya semua (anggota) komisi (II DPR RI),” kata Ahok.

        Selain itu, Ahok menceritakan bahwa dirinya pernah melakukan perjalanan dinas selama tiga hari saat menjadi anggota Komisi II DPR RI. Hanya saja, laporan perjalanan kerap dipalsukan.

        Perjalanan dinas yang semestinya tiga hari, dilaporkan menjadi lima hari.

        “Gue ngamuk-ngamuk sampai dua hari, gue balikin itu duit perjalanan dinas. (uang) perjalanan dinas saja enggak gue ambil, apalagi duit enggak jelas, mau lu kasih ke gue,” ucap Ahok.

        “Persoalannya, anggota Komisi II berani kasih (uang hasil korupsi e-KTP) ke gue enggak? Kalau lu kasih gue, pasti gue laporin,” ucap Ahok lagi (sumber http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/05/19423841/ahok.sebut.tak.ada.anggota.dpr.yang.berani.beri.uang.e-ktp.kepadanya).

    Ini menjelaskan bahwa integritas Ahok benar-benar sudah teruji. Pasti awalnya Ahok dibenci, dimusuhi dan bahkan dibully oleh teman-temannya saat menjadi anggota dewan kala itu. Mungkin dia bakal disebut salah minum obat dan salah memilih tempat pengabdian.

    Untuk saat itu apa yang disampaikan kepadanya benar berdasar sudut pandang mereka. Ahok merupakan kecelakaan politik. Tetapi berkat keteguhan prinsip dan kesadaran akan perlu memperjuangkan keadilan sosial, perlahan sekarang angin bertiup ke kubu dia. Sekarang justru berbondong-bondong mendukung dia. Namun yang membencinya tidak kalah banyaknya juga.

    Hal yang penting kita catat, yakni orang pada akhirnya tahu dan tidak berani pada orang yang berintegritas, teruji, anti korupsi. Seperti halnya Ahok, ketika semua melakukan praktik jahat ini dan Ahok konsisten menolak, maka pada akhirnya mereka sendiri tidak macam-macam dengannya. Memang di awal-awal sudah pasti dia sering ditawari, tetapi setelah melihat Ahok konsisten melawan praktik korup, pada akhirnya mereka tidak berani.

    Semoga model pejabat seperti Ahok banyak bangkit di tanah air untuk mempercepat kemajuan peradaban bangsa ini. Momentum ini telah membuka mata hati dan pikiran bangsa ini. Meski sejauh ini masih terdistorsi antara suka dan tidak suka dengan apa yang ditunjukkan Ahok, tetapi saya yakin pada akhrinya ini semua akan melahirkan kepedulian terhadap bangsa Indonesia.

    Namun catatan penting, Ahok membuktikan bahwa the power of integrity akan membuat lawannya mundur sendiri. Itu juga yang membuat temannya di parlemen tidak memberi fee e-ktp kepada Ahok. Ini bisa menjadi pesan moral berharga buat seluruh pejabat di seantero bangsa ini yang mau membangun bangsa. Sudah ada contoh model yang membuktikan the power of integrity.


    Penulis :  Junaidi Sinaga  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Integritas Teruji di Parlemen, Anggota DPR Tak Berani Bagi Uang E-KTP Ke Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top