728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Ingin NKRI Tetap Utuh, Tangkal Radikalisme dan Jangan Malu Belajar Penegakkan Hukum Dari Singapura

    Ada yang menarik dari laman Tempo.co mengenai seorang khatib Jumat di Singapura yang dikenakan denda dan akhirnya meminta maaf kepada perwakilan umat Kristen, Sikh, Taoisme, Budha, Hindu dan perwakilan Federasi Muslim India.

        Sang khatib bernama Nalla Mohamed Abdul Jameel, datang ke pengadilan dengan didampingi beberapa tokoh agama lainnya pada hari Senin, 3 April 2017 untuk membayar denda. Adapun denda yang dibayarkan Nalla sebesar 4.000 dolar Singapura atau kurang lebih setara dengan 38,1 juta Rupiah. Nalla sendiri beruntung tidak dijebloskan ke dalam penjara karena di Singapura orang yang dengan sengaja menyuarakan permusuhan agama akan dikena hukuman penjara 3 tahun. Pada akhrinya Nalla mengatakan dirinya sangat menyesal dengan perbuatannya yang menimbulkan ketidaknyamanan, ketegangan, bahkan trauma akibat isi kotbahnya.

    Nah, sepenggal cerita di atas terjadi di Singapura. Negara yang luasnya kurang lebih sama dengan kota Bandung ini tidak diragukan lagi ketegasannya dalam bidang hukum. Setidaknya jika dibandingkan dengan Indonesia, Singapura yang merupakan negara maju di kawasan Asia Tenggara unggul dalam hal ekonomi, dan industri serta penguasaan teknologi dan satu hal lain yang kerap ditemui di negara yang maju yaitu tingkat toleransi yang sangat baik antar umat beragama di negera berlambang singa tersebut.

    Berbeda dengan di Singapura, ada kesan pembiaran dari pihak kepolisian berkenaan dengan isi ceramah keagamaan di Indonesia. Pembiaran yang dilakukan karena pihak berwajib menganggap persoalan ini tidak membawa dampak yang serius. Tetapi ketika dewasa ini kasus intoleransi menguat di banyak sektor, polisi baru tersadarkan bahwa ternyata dampaknya serius. Polisi baru bertindak dan melakukan hitung-hitungan terutama jika ada dampak yang ditimbulkan bersifat politik.

    Radikalisme di Indonesia

    Sifat dan sikap mengeklusifkan diri sebagai kelompok atau aliran yang paling benar tentu akan mengancam kehidupan beragama dan berpotensi menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa. Ceramah, pidato, khutbah adalah salah satu media untuk menyampaikan propaganda radikalisme secara terbuka yang disyiarkan secara langsung dari tempat ibadah.

    Benih radikalisme  ternyata juga sudah menyusup sejak dini melalui lembaga pendidikan. Sekolah dasar sampai menengah negeri ataupun sekolah swasta yang berlabel Islam. Di sebarkan melalui ajaran langsung dari guru agama di sekolah atau melalui buku-buku pelajaran yang telah disusupkan ajaran radikalisme.

    Organisasi keagamaan NU awal tahun lalu pernah menyerukan agar pemerintah melalui Kemdikbud menarik semua buku pelajaran anak TK atau PAUD yang di dalamnya dianggap terdapat konten penyebaran paham radikalisme. Buku-buku tersebut harus segera dicabut dari peredaran karena dinilai berpotensi menjadi sarana cuci otak agar generasi bangsa mulai tertanam paham radikalisme sejak dini. GP Ansor menemukan sekurangnya lima buku yang di dalamnya mengandung hal yang dianggap mengarah pada radikalisme. Beberapa di antaranya adalah “Gegana Ada Dimana”, “Bahaya Sabotase”, “Cari Lokasi Di Kota Bekasi”, “Gelora Hati Ke Saudi”, “Bom”, “Sahid Di Medan Jihad”, hingga “Selesai Raih Bantai Kiai” (sumber).
        Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.



    Khutbah Politik Memilih Pemimpin dan Pesan Kebencian Marak Di Masjid Saat Pilkada Jakarta 2017

    ‘Panduan umat muslim dalam memilih pemimpin sesuai Al-Quran’. Kira-kira itulah tema yang paling marak dibahas dan disampaikan oleh khotib di masjid-masjid yang ada di Jakarta. Mulai hangat dibahas saat  Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di pastikan maju kembali sebagai calon gubernur petahana di Pilkada Jakarta berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat. Saking maraknya, hampir setiap Jum’at yang dibahas adalah tentang pemimpin. Khatib boleh berganti, tapi tema mencari pemimpin secara Islam sepertinya akan abadi sampai gelaran Pilkada Jakarta selesai.

    Tidak jarang khotib yang menyampaikan khutbahnya dengan menggebu-gebu, seperti orang yang sedang ngamuk dan marah-marah. Tak cukup dengan ekspresi marah-marah, di mimbar yang suci dan terhormat beliau mengeluarkan kata-kata tidak pantas, hujatan yang keterlaluan, yang sering kali memojokkan dan menyakitkan hati dan menebarkan kebencian kepada penganut agama lain. Stempel bid’ah, kafir, munafik terlalu mudah dikeluarkan oleh ulama hanya karena perbedaan pandangan dalam memilih pemimpinnya.

    Sebagian orang muslim memaknai Surat Al-Maidah 51 dan surat sejenisnya di dalam Alquran sebagai panduan untuk memilih pemimpin. Sebagian mengatakan bahwa pemimpin harus dan mutlak harus muslim sesuai kaidah dan tuntunan di Alquran versi mereka. Sebagian lagi mengatakan bahwa presiden, gubernur, bupati, walikota, dan jabatan-jabatan sejenis lainnya tidak bisa diartikan sebagai pemimpin. Mengutip pernyataan Cak Nun, gubernur sebagaimana pejabat publik lainnya ialah orang yang dibayar oleh rakyat untuk bekerja mengurus transportasi publik, kemacetan, banjir dan hal-hal semacamnya. Analoginya agar lebih mudah digambarkan bahwa gubernur itu adalah pembantu rumah tangga untuk level provinsi.

    Adanya beberapa perbedaan cara pandang dalam menentukan kriteria pemimpin hendaknya dikembalikan kepada keyakinan masing-masing. Ada yang berpegang kepada tuntunan Alquran dan hadits sesuai keyakinan mereka, harus dihormati. Demikan juga sebaliknya hargai pandangan orang lain yang memilih gubernur adalah sebagai pelayan rakyat.  Hargai orang lain yang memiliki perbedaan pendapat sebagai wujud toleransi antar umat beragama. Memusuhi dan menuduh yang beda pendapat serta memberikan stempel dan stigma negatif sebagai pembela kafir, munafik dan sebagainya dapat menyebabkan perpecahan sesama umat Islam atau bangs Indonesia pada umumnya.

    Indonesia adalah negara demokrasi dengan ideologi Pancasila yang dianutnya. Penganut agama Islam memang mayoritas di Indonesia, tapi jangan lupa bahwa Indonesia tidak menganut hukum Islam (kecuali di Aceh). Hukum di Indonesia berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945, yang di dalamnya mengakui 6 agama mayoritas. UUD 1945 mendudukkan semua warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dalam hal memilih pemimpin di Indonesia semua warga negara yang memenuhi persyaratan berhak untuk dipilih sebagai presiden, gubernur, walikota atau bupati tanpa melihat latar belakang suku, agama, ras dan antar golongan.

    Hakikat dan Makna Islam yang “Rahmatan Lil Alamin”

    Para ulama, khatib, penceramah, kiyai, ustad atau apapun julukannya sebagai pemuka agama Islam dan orang yang paham tentang agama acapkali menyampaikan pesan kebencian. Tidak hanya ditujukan ke umat agama lain, kadangkala berbeda aliran, berbeda madzhab, berbeda tata cara ibadah dijadikan dasar untuk menghakimi kelompok lain.

    Hal-hal kecil terkait tata cara ibadah kadangkala membuat orang muslim lupa hakikat dan makna Islam. Islam mengandung arti berserah diri kepada Alloh, patuh kepada Alloh, dan taat kepada Alloh. Islam juga berarti tenteram, tenang, jujur, dan damai.

    Kata Islam juga bermakna kedamaian, keselamatan, keamanan, dan penyelamatan. Dari istilah ini, siapa saja yang tidak menjaga kedamaian dan keamanan di lingkungan sekitarnya berarti bukan “Islam”, karena Islam sejatinya damai, sejahtera, dan aman. Islam juga rahmatan lil alamin karena hakikatnya membawa kemaslahatan dan rahmat bagi alam semesta.

    Bagaimana mungkin seorang ulama sebagai pembawa misi kedamaian, kesejahteraan dan keamanan terhadap diri, keluarga, lingkungan dan negaranya justru selalu menebarkan pesan kebencian? Ulama macam apa yang berteriak dengan lantang mengatakan muslim lainnya sebagai pendukung kafir dan menuduh munafik seenak jidat sendiri  hanya kerena berbeda pandangan dan pendapat tentang masalah pemilihan gubernur (misalnya)?

    Solusi Menangkal Radikalisme

    Radikalisme yang dibiarkan akan mengancam keutuhaan NKRI. Agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh bersatu padu dari Sabang sampai Marauke dari Miangas sampai dengan Pulau Rote  berikut hal-hal yang bisa di upayakan dari tingkat keluarga sampai antisipasi negara dari pengaruh buruk radikalisme
    1. Awasi Anak-anak kita dan tidak ada salahnya menanyakan apa yang telah diajarkan oleh guru-gurunya di sekolah. Periksa juga materi yang ada dalam buku pelajaran di sekolah. Label sekolah negeri, sekolah agama dari kalangan yang elit sekalipun tidak menutup kemungkinan untuk menyusupkan materi tentang radikalisme.
    2. Menjauhkan anak dan keluarga dari tontonan dan tuntunan yang mengandung unsur radikalisme. Unsur – unsur radikalisme bisa di susupkan dalam program ceramah baik langsung ataupun media televisi serta media internet. Selalu menanamkan sikap bahwa Alloh SWT telah menciptakan manusia dalam kondisi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Berbeda warna kulit, berbeda suku dan budaya, berbeda agama tetap harus dihormati karena hakikatnya manusia sudah diciptakan berbeda.
    3. Menamkan prinsip Islam moderat rahmatan lil alamin. Berbeda pendapat dan tafsir serta kiblat dalam belajar Islam adalah hal yang biasa dalam Islam dan semakin menambah khazanah Islam sebagai agama yang besar. Mengungkit perbedaan dengan mengatakan sesat, bid’ah terhadap kelompok lain yang berbeda akan semakin membuat umat Islam tercerai berai dan mudah dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.
    4. Berpegang kepada ideologi Pancasila sebagai falsafah hidup bernegara di Indonesia. Semua warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Menggalakkan kembali Pancasila secara masif di lingkungan pendidikan dan lembaga pemerintah dan memberlakukannya kembali pentaran tentang ideologi Pancasila dikalangan pengajar dan pendidik serta pegawai negeri di lingkungan pemerintahan untuk menggerus dan menangkal unsur radikalisme yang masuk.
    5. Membatasi konten-konten di media terutama internet dan dapat menyaring atau memblokir konten yang berisi tentang radikalisme dan terorisme.
    6. Sertifikasi khotib dan penceramah sehingga yang tampil di masjid atau mimbar lainnya adalah ulama yang paham ilmu agama secara menyeluruh dan penganut paham Islam moderat sehingga isi ceramah atau khutbah tidak menebarkan kebencian terhadap umat atau kelompok lain.

    Penutup

    Radikalisme umumnya terjadi karena fanatisme berlebihan terhadap agama, suku, dan ras. Merasa diri paling benar dan berusaha orang lain mengikuti apa yang dianutnya. Radikalisme sudah menyusup di tempat pendidikan, tempat kerja dan lingkungan sekitar melalui pengajar, pendidik, tokoh agama secara langsung atau melalui media buku pelajaran, televisi serta internet. Radikalisme menyebabkan perpecahan dan permusuhan yang akan mengancam keutuhan NKRI. Menangkal radikalisme dibutuhkan kerjasama dari lingkungan keluarga, rumah tinggal, sekolah, tokoh agama serta aparat yang berwenang. Negara juga wajib terlibat dengan membuat peraturan yang tegas dan tidak perlu malu untuk mencontoh negara tetangga seperti Singapura dalam penegakkan hukum yang tegas tanpa pandang bulu.



    NKRI & PANCASILA
    Sumber : http://www.deviantart.com/art/pancasila-penjaga-NKRI-477312620

    Pancasila adalah ideologi dasar yang digunakan oleh Indonesia. Pancasila yang membuat Indonesia bisa kokoh berdiri hingga saat ini. Pancasila sudah terbukti sebagai way of life bangsa Indonesia sehingga dengan keaneka ragaman, budaya, bahasa, agama dan suku bangsa, Indonesia tetap bisa bersatu sebagai sebuah bangsa. Beragam suku bangsa dan agama tidak membuat Indonesia menjadi tercerai berai tetapi tetap satu dalam ikatan “Bhinneka Tunggal Ika”.

    Salam kura-kura,


    Penulis : Aliems Suryanto   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ingin NKRI Tetap Utuh, Tangkal Radikalisme dan Jangan Malu Belajar Penegakkan Hukum Dari Singapura Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top