728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 30 April 2017

    Harimau mati meninggalkan belang, Ahok Pergi Meninggalkan Simpang Susun Semanggi : Simbol Kecerdasan Sang Petahana

    Sekitar enam tahun saya bekerja di Jakarta dari tahun 1994 sampai tahun 2000 sebelum akhirnya bergabung dengan Non-profit organisasi Internasional yang berpusat di Genewa. Paska krisis ekonomi tahun 1999, saya menerima tawaran kerja didaerah Mangga Dua. Saya masih ingat dari rumah di Kebayoran baru ke tempat kerja di Mangga dua, sering saya lewat Jalan Gunung Sahari. Awal-awal bulan pertama, saya sering nyasar sampai ke daerah kali sunter. Bahkan lebih jauh lagi entah apa nama daerahnya. Yang pasti saya menyusuri sungai yang memiliki kondisi yang menyedihkan.

    Setelah bermukim di luar Jakarta, setiap tahun dua atau tiga kali saya landing di Bandara Soekarno Hatta dan selalu taxi yang membawa saya ke hotel yang berlokasi tidak jauh dari Semanggi. Saya melihat bagaimana si Supir taxi harus mengambil jalan memutar untuk menghindari antrian mobil yang panjang sebelum masuk Semanggi.

    Dari kurun waktu saya bermukim dan/atau tinggal tinggal di Jakarta mulai tahun 1994 sampaii tahun 2013, Saya melihat Jakarta di bawah pengelolaan Gubernur mulai dari Gubernur Soeryadi Soedirdja, lalu Sutiyoso, lalu Foke, mereka tidak mampu merubah wajah sungai di Jakarta, penggusuran masih menjadi momok utama  dan premanisme seperti ciri khas kekerasan kehidupan Ibu Kota.

    2012 Jokowi memegang tongkat estafet kepemimpinan Ibu Kota. Lambat laun Jakarta mulai ditata. Dan Jokowi sadar semua masalah Jakarta tidak bisa diselesaikan sendiri tanpa kerjasama dengan pemerintahan provinsi tetangga. 2014 Jokowi naik duduk di kursi nomor 1 di Indonesia dan Ahok melanjutkan program penataan Jakarta.

    Tidak gampang. Banyak tekanan. Banyak goncangan. Banyak tuduhan yang tidak mendasar. Tapi itu semua tidak membuat Ahok jalan di tempat.

    Selama empat tahun enam bulan kemudian, dengan keberanian dan kecintaan pada Jakarta, Ahok hanya tahu satu hal. Jakarta sebagai Ibu Kota Negara harus cantik, bersih, modern dan mampu bersaing dengan kota-kota besar di negara-negara tetangga. Satu hari Ahok bilang, “Saya ingin orang mengingat saya dari karya-karya saya. Ga pa pa saya ga jadi Gubernur lagi. Yang penting karya saya bisa dilihat, diingat, digunakan dan dikenang oleh warga Jakarta”.

    Ahok sadar penjalanan politiknya akan selalu dijegal. Mengibaratkan dirinya seperti ikan kecil dilautan yang berenang ke arah yang berlawanan dengan keyakinan bahwa semua akan menjadi kenyataan dengan bantuan dan perlindungan Tuhan, Ahok berhasil mengakselerasi pembangunan dan penataan kota Jakarta.

            Ahok, satu-satunya Gubernur yang dimiliki Jakarta yang berhasil mempersembahkan Ibu Kota hasil karya dia yang menjadi fenomena. Sungai-sungai bersih yang ditanami ikan-ikan kecil seperti di Korea, Perumahan rusunawa yang di huni oleh warga kelas bawah Jakarta, RPTRA-RPTRA yang dulunya tidak pernah ada, Smart City yang dia ciptakan yang berfungsi seperti mata dewa, pasukan-pasukan berwarna yang selalu siap membantu warga, surutnya air banjir dalam waktu yang tidak lama, dan karya dia yang paling spektakuler adalah berhasilnya menyulap Kalijodo dari daerah sarang penjahat menjadi surga tempat bermain anak-anak. Dan sebentar lagi Ahok akan mempersembahkan karya terakhir sebelum dia lengser menjadi orang nomor 1 di Jakarta adalah Simpang Susun Semanggi!

    Adalah @GunRomli, tim sukses yang getol menyuarakan Ahok-Djarot, menulis cuitan di Twitter. Bunyinya begini, “Jalan simpang susun Semanggi sudah tersambung tadi malam, kalau namanya jadi Bunderan Tjahja Purnama bagus kayaknya hahahaha”. GunRomli mengusulkan nama Simpang Susun Semanggi dengan nama Ahok karena Simpang Susun Semanggi dianggap sebagai bukti kecerdasan Ahok.

    Jauh hari sebelum GunRomli menyampaikan gagasannya, Presiden Joko Widodo memuji Ahok dan jajarannya. Pujian itu diberikan Jokowi karena Ahok dan jajarannya dinilai cerdas mencari sumber pendanaan pembangunan Simpang Susun Semanggi alias Semanggi Interchange.

    Proyek yang dikerjakan untuk mengurai kemacetan di Jembatan Semanggi – yang merupakan pertemuan banyak kendaraan – tidak dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI.

    Artinya, infrastruktur yang dibangun untuk kepentingan rakyat, sedikit pun tidak menggunakan uang rakyat. Ahok menggunakan Peraturan Gubernur DKI Jakarta, yang memberi syarat kepada sebuah perusahaan swasta untuk membiayai proyek itu sebagai kompensasi kenaikan koefisien luas bangunan (KLB) atas pembangunan konstruksi mereka di Ibu Kota.

    “Pembiayaan yang dikeluarkan untuk proyek ini sangat efisien, murah juga. Saya dengar dari Pak Gubernur DKI, nilainya Rp 360 miliar. Saya juga mengacungkan jempol pada cara-cara kerja cepat PT Wika yang menyelesaikan proyek,” ujar Jokowi.

    Saya pribadi suka dengan gagasan Mas Guntur Romli.

    Pembangunan Jembatan Semanggi diprakarsai oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961. Kenapa dinamai Jembatan Semanggi? Penamaan ini ternyata disesuaikan dengan bentuknya, yaitu mirip dengan daun Semanggi.

    Dalam satu kesempatan, Bung Karno sendiri pernah mengemukakan filosofi daun Semanggi. Filosofi yang dimaksud adalah simbol persatuan. Dalam bahasa Jawa ia menyebut “suh” atau pengikat sapu lidi. Tanpa “suh”, sebatang lidi akan mudah patah. Sebaliknya, gabungan lidi-lidi yang diikat dengan “suh” menjadi kokoh dan bermanfaat menjadi alat pembersih.

    Bung Karno sendiri, sejak perjuangan hingga menjadi pemimpin negeri, kepeduliannya sangat tinggi terhadap persatuan bangsa. Baginya, persatuan bangsa adalah sebuah harga mati.

    Begitulah Bung Karno memfilosofikan Jembatan Semanggi, yang berlatar belakan konsep perempatan tanpa traffic light. Kini, Jembatan Semanggi telah menjadi sejarah, sekaligus saksi sejarah bagi banyak peristiwa penting di negeri ini.

        Namun waktu berevolusi. Jembatan Semanggi sudah mulai over capacity. Semakin hari kemacetan semakin menjadi karena jumlah kendaraan yang semakin tinggi. Ahok tentu saja tidak bisa berdiam diri. Idenya untuk menambahkan jalan yang melingkari Jembatan Semanggi diharapakan bisa menjadi solusi. 

    Mari kita semakin mensuarakan dan mendukung pemberian Nama untuk Simpang Susun Semanggi sebagai BUNDARAN TJAHAJA PURNAMA sebagai rasa terima kasih Indoneaia pada Bapak Basuki Tjahaja Purnama.

    Nama dia terukir di hati rakyat Indonesia, tidak hanya terukir dihati wakrga Jakarta dan seribu bunga yang dipersebahakn untuk dia, sampai hari ini ternyata ada di berbagai kota di Indonesia.

    Kami selalu mendukung dan bersama Bapak.


    Penulis :  Erika Ebener  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Harimau mati meninggalkan belang, Ahok Pergi Meninggalkan Simpang Susun Semanggi : Simbol Kecerdasan Sang Petahana Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top