728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 30 April 2017

    Hari Buruh (May Day), Tuntutan Buruh, Potensi Agenda Kaum Radikal? Siapa Target Berikutnya?

    Bukan rahasia lagi apabila kita melihat aksi buruh nasional yang akan diadakan besok, Senin 1 Mei 2017, diwarnai dengan aksi-aksi anarkis. Aksi bakar ban mobil, gantung boneka kayu yang dituliskan nama seseorang yang dijadikan sasaran, sudah biasa kita lihat. Baik dari aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para laskar ormas radikal, bahkan sampai ke mahasiswa dengan penggorokan leher hewan dan mencucurkan darahnya ke foto Pak Dhe Jokowi dan JK.

    Ini menjadi satu hal yang seharusnya tidak perlu terjadi di dalam penyampaian aspirasi. Serikat buruh nasional juga memang sewajarnya meminta peningkatan upah mereka setiap tahun. Sebagai orang yang menerima gaji, saya juga merasa bahwa kenaikan upah merupakan hal yang lumrah. Justru aneh jika sebuah perusahaan tidak menaikkan gaji sesuai peraturan pemerintah.

    Namun sebagai negara yang memiliki undang-undang, tentu di dalam penyampaian pendapat, ada hal-hal maupun batasan-batasan yang diatur sedemikian rupa, sehingga tetap kondusif. Kondusifitas kemungkinan sulit untuk terjaga, karena kita tahu bahwa khusus hari buruh, ada hari liburnya. Setiap tahun kita memperingati satu hari untuk aksi buruh ini.

    Peringatan kepolisian dan Pemprov DKI

    Pihak kepolisianpun memperingati kepada para pengurus serikat buruh, agar dapat menyampaikan pendapat mereka dengan tertib dan sesuai aturan. Hal ini sangat serius ditekankan oleh Kombes Argo Yuwono di dalam konpers yang diadakan. Mengapa? Karena melihat dari situasi politik yang masih hangat, meskipun sudah mulai mendingin, masih ada potensi untuk ricuh. Banyak kepentingan-kepentingan yang bisa saja disisipkan di aksi buruh tersebut.

        “Aksi jangan sampai tidak kondusif ya. Harus sesuai dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Penyampaian Pendapat di Muka Umum. Kalau merusak fasilitas umum, bisa kena pidana,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono

    Bukan hanya pihak kepolisian, pemprov DKI pun mengimbau seluruh serikat buruh yang ingin mendatangkan para aksi demonstran ini untuk tertib dan harus menjaga kondusivitas. Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sudah bertemu Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait persiapan Hari Buruh. Djarot mengimbau agar para buruh melakukan aksi dengan tertib dan menjaga lingkungan.

        “Kemarin saya udah ketemu sama Kapolri, dan para buruh itu sudah sepakat untuk melakukan dengan aksi damai, dengan baik serta menjaga fasilitas-fasilitas milik pemerintah dan masyarakat,” – Wakil Gubernur Aktif DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat di RPTRA Semper,

    Selain tuntut hak, apa yang jadi kewajiban?

    Djarot berharap agar para buruh bisa semakin bersatu dan meningkatkan produktivitas kerja. Meski menggelar aksi, diharapkan buruh tetap menunjukkan kualitas dan kemampuan kerja di tempat bekerja masing-masing agar mampu bersaing dengan tenaga kerja asing.

    Ini menjadi satu catatan penting bagi para buruh di Indonesia. Di dalam melakukan aksi mereka, mereka tentu diharapkan mengerti apa yang menjadi tujuan aksi mereka. Selain meningkatkan kualitas hidup mereka dengan penghasilan, merekapun harus menuntut diri untuk meningkatkan kualitas kerja mereka. Kita tahu bahwa di Indonesia, khususnya buruh di Indonesia cenderung meminta gaji besar, namun masih suka malas-malasan.

    Melihat lokasi-lokasi mereka yang berada di pinggiran kota Jakarta, tentu kita harus waspada juga, mengenai potensi yang akan terjadi. Para laskar bela (katanya) Islam juga datang dari lokasi yang sama, pinggiran Jakarta. Tentu kebanyakan dari buruh adalah orang-orang yang itu-itu lagi, itu-itu saja. Jadi perlu diimbau kepada mereka, jangan sampai demo buruh, berubah menjadi demo bela (katanya) Islam. Kita lihat saja besok bendera apa yang dibawa oleh mereka.

    Saya lihat sendiri bagaimana ini terjadi ketika menghadapi hari libur yang terjepit. Misalnya hari Selasa libur, tentu para buruh akan cenderung meliburkan diri mereka pada hari Senin. Ini menjadi kegagalan pemahaman orang-orang Indonesia. Maka dengan mental seperti ini, rasanya sulit bagi pemerintah maupun perusahaan untuk mempertimbangkan kenaikan upah mereka.

    Di sisi lain, ada kebahayaan yang mungkin muncul, yaitu aksi buruh yang kemungkinan akan ditunggangi oleh aksi-aksi lainnya, yang memiliki agenda mengacaukan tatanan demokrasi Indonesia. Upaya-upaya tersebut sudah kita lihat di aksi-aksi demo bela (katanya) Islam yang terjadi, bahkan dengan penangkapan puluhan terduga makar. Tentu hal ini harus diantisipasi oleh kepolisian.

    Lokasi kedatangan dan lokasi aksi demo

    Massa yang datang dari Bekasi akan melintas melalui jalan tol arah Cempaka Putih-Letjen Suprapto-Senen-Pejambon dan lokasi unjuk rasa. Sedangkan massa dari arah Tangerang/Banteng akan melintas melalui Tomang-Jl Biak-Harmoni-Juanda-Pasar Baru-Lapangan Banteng.

    Lalin akan dialihkan, pengaturan akan dimulai dari kedatangan para buruh dari kantong-kantong perusahaan besar, khususnya Bekasi, Karawang, Bogor, Sukabumi, Tangerang dan Banten. Kantong-kantong parkir juga disiapkan untuk menjadi lahan parkir bagi para buruh.

    Gaya hidup yang terlalu mewah

    Cara hidup para buruh ini rasanya tidak teratur. Mereka seperti tidak bisa mengalokasikan pendapatan mereka. Dengan gaji antara 3-4 juta, mereka memaksa diri mereka untuk membeli barang-barang mewah. HP yang digunakan minimal 2 juta, motor mereka minimal 125 CC, bahkan ada beberapa buruh yang dalam aksi demo tahun-tahun lalu, ada yang menuntut Ninja. Tentu mereka harus mendapatkan sebuah penyuluhan alokasi uang. Gaya hidup yang ingin disamakan dengan para pekerja lulusan S1, mungkin harus dikesampingkan sejenak.

    Betul kan yang saya katakan?


    Penulis :  Hysebastian    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Hari Buruh (May Day), Tuntutan Buruh, Potensi Agenda Kaum Radikal? Siapa Target Berikutnya? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top