728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Hanya Ahok Satu-Satunya Kandidat yang Bisa Menangkal Gerakan Radikal di Ibukota

    Berbagai negara islam di penjuru dunia kini mengalami tantangan berat melawan radikalisme. Musuh dalam selimut yang lebih menakutkan dibanding berhadapan dengan lawan yang berada di luar. Mulai dari Suriah yang harus menghadapi ISIS dan Al Qaedah. Kini giliran Indonesia yang harus menghadapi ormas garis keras seperti FPI, FUI, HTI dan sejenisnya.

    Para laskar jihad tersebet jelas-jelas tidak membawa nilai-nilai islam. Alih-alih menyerukan perlawanan terhadap pemerintah berdaulat yang tidak mau tunduk terhadap syariat islam versi mereka. Mereka tidak mau belajar agama secara terbuka dengan menutup dialog dengan ulama sesepuh. Mereka menyerukan jihad, jihad yang diambil dari potongan-potongan ayat tanpa mendalami makna, sebab turunnya ayat dan sebagainya. Mereka berambisi menguasai negara dengan cara yang batil.

    Adanya momen Pilkada dan sebagainya akan menjadi celah bagi mereka untuk menunjukkan taringnya. Mereka sangat percaya diri siapapun calon yang mereka dukung nantinya harus mau tunduk pada konsep pemerintahan menurut syariat yang mereka akui. Mereka memiliki tujuan besar disamping Pilkada yakni Pilpres yang dengan itu mereka dapat menguasai Indonesia seutuhnya.

    Saya melihat pergerakan mereka kian meningkat seiring tudingan penistaan agama pada salah satu kandidat non muslim di Pilkada. Momen yang mereka nantikan untuk bangkit setelah bersandiwara tertindas oleh seorang non muslim. Aneh rasanya kalau negara dengan mayoritas umat muslim dan pemerintahan pusat yang kebanyakan orang muslim merasa perlu mendengarkan seruan jihad mereka untuk umat muslim. Seakan-akan umat muslim tertindas dan ternista. Pertanyaannya umat muslim mana yang perlu dibela?

    Jangan syukur-syukur tinggal di negara mayoritas muslim lantas mengklaim semua muslim memiliki perasaan yang sama dengan kalian wahai radikal. Kalian harus menggaris bawahi umat muslim FPI atau umat muslim HTI dan sebagainya. Karena saya teramat tersinggung sebagai umat muslim biasa kalau kalian ikut-ikutkan disetiap perasaan dan pemikiran kalian.

    Dari pertarungan Pilkada Jakarta saya belajar bahwa intoleransi yang terjadi disebabkan oleh para radikal tersebut. Mereka membangga-banggakan status muslim sebagai calon pemimpin tanpa menilik lebih jauh kapasitas kepimpinan calon kandidat tersebut. Terlihat jelas kecondongan paslon 1 dan 3 terhadap mereka ini disebabkan dukungan mereka terhadap calom pemimpin muslim. Namun, para paslon tersebut tidak memikirkan secara jauh dampak dan akibat bersekutu dengan para radikal.

    Tujuan mereka ingin mendirikan khilafah islam yang mendasarkan segala suatu ketetapan berdasarkan agama (menurut mereka). Anehnya mereka tegas ke rakyat biasa dan mengistimewakan ulamanya. Saya contohkan untuk hukuman cambuk bagi pezina, mereka akan tegas melakukannya pada rakyat biasa nantinya. Tapi bagi pemimpin-pemimpin mereka yang memiliki istri atau wanita simpanan akan mereka tutupi boroknya karena takut citra buruk bagi golongan mereka jika pimpinannya juga dihukum dan dinyatakan berdosa. Saya yakin model penerapan syariat mereka hanya berlaku pada kalangan menengah ke bawah karena saya ragu kalau pimpinan golongan-golongan tersebut tak suka harta. Buktinya saat demo terlihat pemimpin mereka menunggangi mobil pajero sementara pengikutnya jalan kaki. Ada juga yang menginap di hotel dengan harga fantastis sementara pengikutnya tidur di emperan masjid. Kalau meniru syariat model Rasulullah justru beliau rela tak makan asal umatnya kenyang, sungguh berbanding terbalik dengan kepimpinan kelompok radikal.

    Dari semua kandidat di Ibukota hanya Ahok yang terang-terangan menolak mereka karena mungkin dia juga tahu model syariat islam yang mereka terapkan jauh dari nilai islam sesungguhnya. Berbeda dengan kandidat lainnya yang pada awalnya saya mengira mereka termasuk muslim moderat yang mengutamakan persatuan malah bergandeng tangan dengan kelompok radikal tersebut. Ini sebenarnya yang membuat saya sebagai umat muslim yang tidak tinggal di Ibukota merasa perlu membela Ahok. Karena dengan itu saya juga membela syariat islam yang benar di tanah air tanpa dicampuri pemahaman radikal.

    Saya merasakan Ahok benar-benar tulus melindungi umat islam di Jakarta dengan memperhatikan para marbot, pembangunan masjid dan memperindah makam mbah Priok. Suatu kerja nyata yang bahkan lupa dari perhatian gubernur-gubernur muslim sebelumnya. Dan juga Ahok tak akan berkompromi dengan kelompok radikal yang jelas-jelas meneror ketenangan warga, yang menjual agama untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

    Untuk pak Ahok, jangan menyerah dengan tuduhan penistaan agama. Karena saya yakin anda tak menodai agama kami sedikitpun. Justru anda yang membuka bobrok politikus busuk yang bergandengan tangan dengan kelompok radikal untuk menjual agama demi kepentingan mereka. Pak Ahok, yakinlah kalau hanya anda yang pantas memimpin Ibukota dan menyelamatkan semua warga dari teror kelompok radikal. Jangan biarkan muslim yang lemah imannya termakan hasutan para kelompok radikal yang hanya mementingkan ulama-ulamanya. Majulah pak Ahok, buktikan sekali lagi kalau kau panats memimpin Ibukota dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

    Salam Untuk Pak Ahok!


    Penulis :  Niha  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Hanya Ahok Satu-Satunya Kandidat yang Bisa Menangkal Gerakan Radikal di Ibukota Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top