728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Galau Tiada Akhir Sandiaga Uno Berhadapan Dengan Spanduk “Jakarta Bersyariah”

    Hari-hari menjelang Pilkada DKI putaran kedua dipenuhi dengan berbagai berita yang menyedot perhatian dan komentar publik Jakarta bahkan Indonesia secara umum.  Dari sekian banyak kejadian seputar Pilkada DKI Jakarta, ada kejadian yang mengundang publik Jakarta untuk menilai siapa kandidat pemimpin Jakarta yang wajib dipilih dan yang tidak akan dipilih. Apa kejadian yang menarik tersebut? Sabar ya.  Sebelum membahasnya lebih terperinci dan mendalam tentang kejadian tersebut, penulis ingin menyegarkan kejadian atau masalah yang berkaitan erat dengan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno.  Ini soal Sandy yang lagi pusing, galau tiada akhir menjelang tanggal pemilihan.

    Penulis ingin menyoroti  calon wakil gubernur DKI Jakarta pasangan Anies Baswedan. Tentu saja Sandiaga Uno. Hari-hari berat dijalani Sandiaga Uno menjelang putaran kedua perebutan pimpinan DKI Jakarta. Kegalauan tingkat tinggi dan tak berakhir tentu saja menyelimuti hati dan pikiran Sandiaga Uno . Bagaimana tidak galau kalau akhir-akhir ini calon wakil gubernur ini dihadapkan pada banyak masalah. Belum selesai laporan mengenai masalah penipuan penjualan tanah di Tangerang, sebelumnya ada juga laporan dari teman berlarinya si perempuan cantik bernama Dini Indrawati Septini terkait pencemaran nama baik dan fitnah.  Di samping berhadapan dengan kasus-kasus hukum yang menjerat dirinya, Sandy Uno juga harus mengeluarkan banyak biaya dalam perhelatan Pilkada DKI putaran kedua  ini. Biaya yang besar sudah dikeluarkan namum hasil akhirnya belum tentu menang. Kapan balik modal? Memikirkan semuanya itu tentu membuat Sandy gelisah, gerah, uring-uringan dan berakhir galau. Pusing kepala Sandy…!!!

    Munculnya Spanduk “Jakarta Bersyariah”

    Publik Jakarta sudah pasti dibuat heboh dan geleng-geleng kepala seperti Sandy yang geleng-geleng kepala dalam debat Pilkada DKI putaran pertama.  Namun perbedaan antara geleng kepala Sandiaga Uno dengan warga Jakarta jauh sekali. Ibarat membedakan kucing liar dengan ular beludak. Spanduk “Jakarta Bersyariah” yang menghebohkan itu membuat warga Jakarta menjadi antipati terhadap pasangan Anies-Sandy ini. Publik Jakarta yang bermayoritas muslim sekalipun sudah gerah dan tidak tertarik dengan kampanye yang berbau agama seperti ini. Keyakinan penulis dibuktikan dengan munculnya spanduk yang berisi bosan dengan isu SARA. Spanduk ini menjadi bentuk perlawanan terhadap segala bentuk kampanye berbau sara yang sangat marak terjadi.  Bagaimana tidak bosan, warga Jakarta sudah muak dengan pemakaian agama sebagai senjata andalan dalam berkampanye. Kampanye tidak mensholatkan warga muslim pendukung Ahok-Djarot, kewajiban memilih pemimpin muslim, larangan memilih pemimpin kafir dan yang terakhir ada larangan untuk menguburkan umat muslim. Ini yang membuat warga Jakarta geleng-geleng kepala. Geleng-geleng kepala karena ketidakmampuan Anies-Sandy dalam meyakinkan dan mempengaruhi warga Jakarta dalam pemilihan putaran kedua nanti. Geleng-geleng kepala warga Jakarta artinya menolak mentah-mentah dan marah diangkatnya isu SARA dalam Pilkada DKI. Warga Jakarta yang cerdas dan pasti sangat waras menilai propaganda dan kampanye yang dilakukan pihak Anies-Sandy sudah tidak jamannya lagi, tidak kreatif dan menunjukkan gambaran ketidakmampuan Anies-Sandy dalam menelurkan program yang akurat, real dan mampu menyedot minat warga Jakarta.

    Sandiaga Uno perintah turunkan spanduk “Jakarta Bersyariah” :  Bukti kegalauan yang tiada akhir!!

    Masih ingat geleng-geleng kepala Sandiaga Uno pada debat putaran pertama kan? Apa artinya? Bermula dari semakin terstruktur, masif dan sistematisnya kampanye berbau SARA yang dibuat kubu Anies-Sandy bukannya meraih simpati dan dukungan tapi caci maki dan antipasti. Banyaknya warga Jakarta mengalihkan dukungan dari Anies-Sandy ke pasangan Ahok-Djarotlah yang membuat Sandiaga kembali menggeleng-geleng kepala tanda tak mengerti, kecewa dengan kerja tim dan putus asa terhadap diri sendiri. Mimpi meraih simpati dari masyarkat Jakarta yang diperoleh malah dibully tiada henti mengalir ke dalam dirinya. Siapa yang tidak geleng-geleng kepala mendapat hasil seperti ini. Biaya besar sudah dikeluarkan, harga diri dipertaruhkan, aneka masalah yang berhubungan dengan hukum melilit dirinya bikin Sandy terus gelengkan kepala. Galau, pusing, dan kecewa lagi…..!!!

    Kampanye SARA bukan jamannya lagi dan Perintah Sandiaga Uno:  Terlanjur basah dan sudah terlambat!!

    Apapun bentuk kampanye SARA yang coba digoreng pada Pilkada DKI sudah tidak layak dengan spirit kehidupan berbangsa dan bertanah air.  NKRI, Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 1945 adalah benteng yang melindungi segenap tumpah darah Indonesia tanpa kecuali. Jakarta menjadi contoh pesta demokrasi yang sehat dan jujur. Jakarta menjadi barometer sebuah penyelenggaraan pesta demokrasi. Kalau mau dipilih dan menjadi pemimpin DKI Jakarta lakukan dengan cara yang sportif, jujur dan demokratis. Harapan masyarakat Jakarta bahkan di luar Jakarta terhadap pelaksanaan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta berlangsung aman, damai dan tertib. Karena itu kesimpulan yang mau kita petik dari Pilkada DKI terutama adalah kampanye SARA dengan menjual isu agama di Jakarta sudah tidak relevan, tidak jamannya lagi ditiupkan kepada warga DKI Jakarta.

    Aksi Sandy yang memerintahkan penurunan spanduk “Jakarta Bersyariah” ini dianggap terlambat dan terlanjur basah. Sandy mungkin berpura-pura menolak kampanye bernuansa SARA namun dalam hatinya bersorak karena mendapat sambutan yang luar biasa dari penghuni bumi datar dan ormas radikal lainnya. Bagaimanpun juga isu agama yang ditiupkan selama ini berhasil menambah pemilih yang otaknya sudah disusupi paham radikalisme. Namun reaksi warga Jakarta terhadap isu agama ini sungguh di luar perkiraan. Pelan namum pasti isu agama yang digoreng-goreng ini tidak membawa keuntungan secara politis. Pada titik inilah, Sandiaga Uno kembali mengeleng-gelengkan kepalanya.

    Warga Jakarta menginginkan agar Ahok-Djarot dan Anies-Sandy menjual program yang bisa memecahkan persoalan Jakarta yang kompleks, rumit dan menahun. Jakarta membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi administrator keadilan sosial bagi warga Jakarta. Warga DKI Jakarta membutuhkan pemimpin yang bukan bermulut manis dan pandai bersandiwara dalam meraih simpati dan dukungan. Pemimpin yang terang-terangan bergabung dengan ormas garis keras yang mau menggeser Jakarta yang berlandaskan pada empat pilar kebangsaan dengan “Jakarta Bersyariah”.  Untuk warga Jakarta, terus geleng-gelengkan kepala dan menolak secara halus isu SARA yang ditiupkan.

    Salam geleng-geleng kepala!!



    Penulis : Frumensius Hemat   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Galau Tiada Akhir Sandiaga Uno Berhadapan Dengan Spanduk “Jakarta Bersyariah” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top