728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 09 April 2017

    Dukung Anies-Sandi, Kader PAN di Kabinet Akan “Ditendang” Jokowi?

    Partai Amanat Nasional (PAN) diprediksi akan kehilangan kadernya di kabinet kerja.  Menteri PAN-RB Asman Abnur yang juga kader dari PAN akan ditedang alias di reshuffle oleh Preside Jokowi. Hal itu diyakini lantaran keputusan PAN belakangan ini bersebrangan dengan partai pendukung pemerintah. Salah satunya terkait dukungan pada calon kepala daerah di DKI Jakarta.

    Pada Pilkada Jakarta putaran pertama yang lalu beberapa partai pendukung pemerintah seperti PKB, PPP Romahurmuzy dan PAN mendukung pasangan Agus-Silvi. Kritik datang dari PDIP melalui Ketua DPP  Trimedya Panjaitan beberapa waktu yang lalu karena menurutnya Pilkada Jakarta levelnya sudah setara dengan Pilpres 2014 yang lalu.

    “Jakarta ini kan simbol dan semua sudah sepakat Pilgub Jakarta ini kan pilgub rasa Pilpres, kita berharap untuk kemenangan Pak Ahok, alangkah baiknya kalau parpol pendukung Pemerintah ini solid,” ujarnya.

    “Supaya menangkannya lebih gampang, karena kita juga merasa, parpol ini akar-akarnya jelas, perolehan suara di pileg juga jelas, PAN, PKB, PPP, nah ini yang makanya kita terus upayakan ke sekjen,” imbuh Trimedya. (Sumber)

    Di putaran kedua Pilkada Jakarta, partai pendukung pemerintah yang pada putaran pertama mendukung Agus-Silvi  memutuskan untuk mendukung Ahok-Djarot, kecuali PAN yang memilih menyebrang sebagai lawan dengan mendukung Anies-Sandi.

    Komunikasi politik tingkat tinggi yang dilakukan partai pendukung pemerintah berhasil menarik PKB, PPP Romahurmuzy untuk mendukung Ahok-Djarot daripada Anies-Sandi. Yang unik tentu saja adanya dukungan dari dua PPP baik dari Kubu Djan Faridz maupun Romahurmuzy yang sebelumnya selalu berkonflik, kali ini satu suara untuk mendukung Ahok-Djarot.

    PKB dan PPP yang notabene merupakan partainya kaum Nadhliyin disinyalir mendukung Ahok-Djarot karena di kubu lawan banyak didukung kelompok Islam garis keras seperti FPI, FUI, HTI dan Wahabi.
    Nadhliyin yang cenderung toleran dan moderat tentu tidak rela jika Jakarta kelak akan dikuasai oleh kelompok Islam garis keras dan radikal karena berpotensi menyebabkan retaknya toleransi dan ke-Bhinekaan di Jakarta sebai ibukota negara.

    Ketika PKB dan PPP akhirnya memutuskan untuk mendukung Ahok-Djarot, sikap berbeda datang dari Partai Amanat Nasional (PAN). PAN  menegaskan tak akan mendukung Ahok-Djarot. Bahkan, keluar pernyataan ‘Yang penting bukan Ahok’ dari PAN.

    Bahkan Ketua DPP PAN Yandri Susanto memastikan partainya akan mendukung pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di putaran kedua Pilgub DKI Jakarta.

    “PAN ke pasangan calon nomor 3 Anies-Sandi,” kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto saat dihubungi, Kamis (16/2) lalu.

    Yandri menjelaskan alasan partainya mendukung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam putaran kedua Pilgub DKI dikarenakan dari kesepakatan awal, partainya menerapkan pandangan yang dapat dibilang ‘yang penting bukan Ahok’.

    “Sudah ada kesepakatan kita dari awal Pilkada Jakarta, PAN mencari pesaing Ahok dan PAN enggak mungkin dukung Ahok karena karakter dan etika Ahok tidak sesuai dengan PAN,” katanya. (Sumber)

    Selain karena alasan di atas, menurut saya dua hal berikut menjadi pertimbangan PAN untuk memilih Agus-Silvi adalah sebagai berikut:

    1. Faktor Amien Rais

    PAN identik dengan Amien Rais. Partai yang berdiri pada masa reformasi ini didirikan oleh Amien Rais dan beberapa tokoh nasional pada tahun 1998. Partai yang di DKI Jakarta memiliki dua kursi di DPRD ini jauh-jauh hari sebelum Pilkada Jakarta di mulai sudah mengambil ancang-ancang untuk tidak mendukung Ahok.

    Adanya konflik dan saling sindir antara Ahok dan Amien Rais disinyalir menjadi penyebab Ketua Dewan Kehormatan PAN itu menjauhi Ahok. Amien yang kala itu bertindak sebagai khotib Iedul Adha di Jakarta Utara, menyindir Ahok sebagai dajal.

    “Ahok ini songongnya menyundul langit, sombong sekali, tetapi dalam sejarah tidak ada orang sombong menang. Jadi, kita sama-sama lawan. Jangan sampai dajal itu nanti menang.” (Sumber)

    Sindiran Amien Rais ini berawal dari ucapannya ketika menganggap Ahok tidak layak jadi pemimpin karena menurutnya kerap bersikap arogan dan nyeleneh serta menganggap remeh BPK dalam kasus RS Sumber Waras.

    Menanggapi sindiran Amien kala itu Ahok menanggapi lebih nyelekit karena menggap Amien Rais sudah uzur dan mulai pikun.

    “Dia ngomong sama saya, ‘Saya titipkan perjuangan demokrasi reformasi Indonesia kepada kamu.’ Saya dikasih pin, pakai emas lagi.”

    “Kamu ingatkan saja ke dia, mungkin dia sudah tua, pikun,” ujar Ahok. (Sumber)

    Konflik pribadi Ahok dan Amien Rais jelas berpengaruh kepada PAN. Amien Rais bahkan mengeluarkan ancaman jika PAN sampai memutuskan untuk mendukung Ahok, Amien akan menggalang kongres luar biasa yang akan melengserkan Zulkifli Hasan dari kursi Ketua Umum PAN.

    “Saya sudah wanti-wanti kalau PAN sampai dukung Ahok, saya minta kongres luar biasa,” kata Amien Rais seusai shalat Idul Adha di Rumah Sakit Islam, Sukapura, Jakarta Utara, Senin (12/9/2016). (Sumber)

    2. Gagalnya Negosiasi PAN dengan Jokowi

    Pecahnya Koalisi Merah Putih yang digalang Gerindra sebagai koalisi oposisi dan pasca Zulkifli Hasan menjabat sebagai ketua umum menggantikan Hatta Rajasa membuat partai ini merapat ke pemerintah. Reshuffle jilid 2 yang dilakukan Joko Widodo terhadap pembantunya di kabinet merupakan pintu masuk PAN dalam kabinet dengan diangkatnya Asman Abrur sebagai Menpan RB menggantikan Yuddy Chrisnandi.

    Jokowi sebagai presiden memang menunjukkan kenetralannya dalam Pilkada Jakarta 2017 ini. Tidak ada intervensi hukum dari Jokowi terhadap Ahok dalam kasus dugaan penodaan agama menjadi salah satu buktinya. Tapi publik tetap menangkap indikasi bahwa Jokowi cenderung lebih mendukung Ahok daripada Anies Baswedan yang pada reshuffle jilid 2 yang lalu didepak oleh Jokowi. Jokowi pernah berpasangan dengan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur dan Jokowi akan lebih nyaman jika kursi gubernur Jakarta tetap diduduki oleh Ahok.

    Jokowi sebagai Presiden yang diusung oleh PDIP yang juga sebagai partai utama pengusung Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta 2107 menurut saya memberikan masukan kepada PDIP untuk bernegosiasi dengan PAN. Di sisi lain  satu kursi di kabinet untuk partai yang baru masuk bergabung sebagai partai pendukung pemerintah dari sebelumnya lawan di Pilpres 2014 dan oposisi di parlemen rupanya belum membuat PAN puas. PAN adalah partai oportunis, ada syarat yang diminta PAN untuk dukungannya terhadap Ahok-Djarot. Jaminan agar kadernya tidak di reshuffle mungkin jadi opsi negosiasi dari PAN yang diajukan kepada Jokowi dan PDIP, atau bahkan meminta tambahan jatah menteri lagi jika PAN pada akhirnya mendukung Ahok-Djarot.

    Kebuntuan negosiasi PAN dengan Jokowi sertai partai pendukung pemerintah lainnya serta ancaman dari Amien Rais yang akan menurunkan Zulkifli Hasan dari posisi ketua umum PAN yang menyebabkan PAN tidak mendukung Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta putaran kedua walaupun partai pendukung pemerintah lainnya PPP dan PKB telah menyatakan dukungannya.

    Jokowi beberapa kali menegaskan bahwa resuffhle adalah mutlak keputusannya dan tidak akan ada yang bisa mengintervensi. Mengingat dalam politik yang berbicara adalah kepentingan dan seberapa banyak manfaat yang bisa diperoleh dari hasil bargaining elitnya, saya pikir Jokowi akan meninjau ulang dukungan PAN terhadap pemerintah. Jokowi membutuhkan Ahok-Djarot untuk menopang kinerjanya melalui kemajuan Jakarta sebagai miniaturnya Indonesia. Sementara dari sini lain PAN sebagai pendukung Jokowi justru menempatkan satu kakinya untuk berjuang, memperkuat dan membantu Anies-Sandi yang didukung partai oposisi Jokowi yakni Gerindra dan PKS.

    Secara politik keputusan PAN adalah sah dan mereka berhak untuk mendukung siapapun calon guberbur tanpa intervensi dari pihak lain. Tapi dari segi etika dan sikap PAN yang seperti berdiri di dua kaki ini pasti akan jadi evaluasi dari partai pendukung pemerintah lainnya terutama PDIP. Jadi, untuk resuffhle kabinet jilid ketiga nanti, meskipun Jokowi menekankan kepada kinerja menterinya, untuk case PAN ini diramalkan berbeda.

    Suka atau tidak suka, PAN harus bersiap jika kadernya di kabinet Jokowi akan ditendang!



    Salam Kura-Kura




    Penulis :  Aliems Suryanto   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Dukung Anies-Sandi, Kader PAN di Kabinet Akan “Ditendang” Jokowi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top