728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 07 April 2017

    Dukung Ahok-Djarot, PKB dan PPP Memainkan Simbol Politik Kebhinekaan

    Suhu politik menjelang Pilkada DKI Jakarta putaran kedua cenderung fluktuatif. Jika beberapa waktu lalu, suhu politik sangat panas, sampai-sampai muncul larangan menshalatkan jenazah pemilih Ahok-Djarot. Larangan yang sempat bikin geger seantero Indonesia. Hingga Menteri Agama pun ikut berkomentar.

    Setelah putaran pertama Pilkada kemarin, pasangan Agus-Sylvi harus kandas dengan perolehan suara sekitar 17%. Pasca kekalahan itu, suara Agus-Sylvi menjadi rebutan dua kandidat yang lolos. Apalagi selisih suara di antara dua kandidat tersebut sangat tipis. Dengan demikian pertarungan memperebutkan suara Agus-Sylvi dan golput menjadi rebutan sekarang.

    Jika sebelumnya arah dukungan partai pendukung Agus-Sylvi masih wait and see, kini mulai kelihatan. Hal ini juga tidak terlepas dari pertemuan Jokowi dengan SBY. Pasca pertemuan itu, SBY tidak secara eksplisit menyatakan dukungan terhadap pasangan Ahok-Djarot. Tetapi sikap yang diambil beberapa petinggi partai dalam mendeklarasikan dukungan terhadap Ahok-Djarot bisa menggambarkan sikap tersebut.

    Pun, PKB dan PPP mulai menentukan arah dukungannya terkait Pilkada DKI putaran kedua. Dukungan PKB terhadap Ahok-Djarot disampaikan oleh Hasbiyallah Ilyas, ketua DPW PKB DKI Jakarta, manakala Djarot berkampanye ke wilayah RW 08 Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

    “Harus 90 persen ini Pak Djarot di sini. Saya sudah datang ke sini berkali-kali kalau enggak 90 persen, saya yang malu,” kata Hasbiyallah. Selanjutnya Ia mengatakan, “Beliau ini tokoh kita Insya Allah saya sangat yakin dengan beliau ini asli orang NU. Sama beliau dengan kita. Dan merakyatnya juga sama”. (http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/04/13035661/ketua.dpw.pkb.dki.ajak.pendukung.agus-sylvi.beralih.ke.ahok-djarot).

    Terkait penyataan dukungan dari Hasbiyallah, yang juga ketua DPW PKB, penulis merasa sedih. Bagaimana tidak, seorang Ahmad Dhani yang begitu bersemangat ingin jadi Gubernur DKI malah tidak mendapat restu PKB. Padahal apa yang kurang dari seorang Ahmad Dhani? Coba bayangkan bagaimana perasaannya seorang Ahmad Dhani.

    Jika dukungan PKB terhadap Ahok-Djarot begitu mudahnya, tidak demikian dengan PPP. Persoalan PPP adalah dualisme kepengurusan di tubuh partai ini. Dualisme kepengurusan ini berpengaruh pada soliditas kader, baik pada tingkatan pusat, daerah, cabang, hingga akar rumput. Meski PPP kubu Djan Faridz sudah dari awal mendukung pasangan Ahok-Djarot, tetapi rasa-rasanya kurang klop kalau kubu yang lainnya berseberangan.

    Abdul Aziz, Ketua DPW PPP DKI Jakarta Kubu Muhammad Romahurmuziy, mengatakan akan mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta putaran kedua. “Ya, DPP sudah mengetahui,” kata dia lewat pesan singkat kepada Tempo. (Sumber).

    Arah dukungan PPP ini makin terang dengan permintaan Romi kepada Djarot, yang juga Ketua DPP PDIP, untuk memediasi islah antara PPP kubunya dengan PPP Djan Faridz. (https://news.detik.com/berita/d-3464917/diminta-romi-bantu-islah-ppp-djarot-merasa-terhormat). Bagi penulis,dukungan politik PPP ini menarik. Apalagi tujuan PPP tidak sekedar mendukung, tetapi juga islah. Menyatukan dualisme kepengurusan demi soliditas kader dan konsolidasi politik internal guna menyongsong pemilu 2019. Menarik dalam arti bukan juga semata-mata karena penulis termasuk salah satu pengagum Romi sebagai politisi muda berbakat. Tetapi islah juga merupakan indikasi keberhasilan Jokowi dalam konsolidasi politiknya.

    Masuknya PKB dan PPP dalam kubu Ahok-Djarot tidak hanya menguatkan kerja politik. Tetapi merupakan simbolisasi untuk mematahkan isu primordial yang menguat pada putaran pertama. Dukungan ini bisa memutus hubungan dikotomis antara partai nasionalis Vs agamais, abangan Vs santri. Dengan demikian, tensi politik primordial lebih mereda. Di sisi lain, kerja mesin politik dalam konsolidasi di tingkatan kader hingga akar rumput menjadi lebih efektif. Bergabungnya kedua partai dengan basis agama ini menjadi simbolisasi penolakan terhadap politik primordial

    Dukungan kedua partai ini menunjukkan bahwa politik itu begitu dinamis. Sepak terjang politik seorang Ahok dalam pertarungan menuju DKI 1 menjadi show case. Bagaimana awalnya Ia yang independen dan hanya didukung oleh relawan Teman Ahok, kini mendapat dukungan enam partai politik. Belum termasuk dukungan Demokrat secara tidak resmi lewat beberapa petinggi partai, termasuk ketua dewan pakar Agus-Sylvi.

    Bergabungnya PKB dan PPP ke dalam kubu Ahok-Djarot tidak hanya berdampak positif terhadap konsolidasi politik, tetapi juga secara sosiologis menurunkan sentimen primordial. Pun demikian, bergabungnya PKB dan PPP ke dalam koalisi partai pendukung Ahok-Djarot, sebaiknya tidak sebatas simbol untuk harmonisasi politik pada tingkatan elite partai, tetapi juga turut bekerja aktif dalam mengurangi sentimen SARA pada tingkat akar rumput.

    Penulis : Ray Koen    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Dukung Ahok-Djarot, PKB dan PPP Memainkan Simbol Politik Kebhinekaan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top