728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 01 April 2017

    Dualisme Logika “Cerdas” Prabowo: “Kalau Kalah Pasti Dicurangi” V.S. “Siapapun yang Menang, Tidak Apa-Apa”

    Saya, Prabowo Subianto…..

        Saya Prabowo Subianto, cita-cita saya adalah Indonesia menjadi Bangsa yang merdeka. Bangsa yang bersih, kuat, aman, dan bermartabat. Bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri, berdaulat secara ekonomi, berdaulat secara politik, berdaulat secara kebudayaan. Tidak dinjak-injak, tidak menjadi budak, tidak menjadi kacung bangsa lain. – Prabowo di Iklan Tipi-tipi

    Prabowo Subianto adalah mantan calon presiden yang dikalahkan oleh Jokowi. Latar bekalangnya yang bergelut di dunia militer, pernah menjabat sebagai Danjen Kopassus, membuat dia agaknya sulit menerima kekalahan. Karena di dalam peperangan ada semboyan “merdeka atau mati!”.

    Kekalahan yang dialami di dalam dunia militer membawa dampak besar bagi sebuah negara. Semboyan “merdeka atau mati” ini sepertinya dibawa oleh Prabowo ke dalam pertarungan politik, pemilihan presiden 2014. Tentu merupakan hal yang konyol jika benar Prabowo membawa hal yang tidak kontekstual di dalam pilpres.

    “Kalah”, Prabowo Subianto….

    Prabowo sempat tidak menerima kekalahannya, tuduhan yang diadukan oleh Prabowo Subianto pada saat tidak menerima kekalahannya adalah bahwa ada indikasi “curang”. Kecurangan dalam pemungutan suara dianggap sangat “terstruktur, sistematis, dan massif”. Hal ini dilaporkan kepada lembaga hukum negara, Mahkamah Konstitusi, yang pada saat itu dikepalai oleh Hamdan Zoelva.

    Hampir 2 bulan proses hukum berlangsung, akhirnya palu diketok, dan keputusan tetap tidak berubah, Pak Jokowi memenangkan pemilihan presiden Indonesia. Tentu merupakan hal yang sulit bagi Prabowo untuk menerima kekalahan. Orang yang masih terjebak di dalam kemegahan Orde Baru, akhirnya harus legowo dan menerima keputusan hukum Mahkamah Konstitusi.

    Pilkada Rasa Pilpres


    Berselang 3 tahun, Pilkada rasa Pilprespun terjadi di Jakarta. Generasi baru didelegasikan oleh masing-masing pendiri partai. Susilo Bambang Yudhoyono mendelegasikan tugas memimpin Jakarta kepada Agus Harimurti Yudhoyono, pemuda yang terpaksa sudah menjadi pensiunan TNI Angkatan Darat, karena dugaan diperalat oleh ayahanda tercinta untuk meneruskan rezim politik.


    Nomor urut dua, pria kelahiran Belitung Timur, pribumi asli, namun matanya sipit. Beragama Kristen, agama yang diakui di Indonesia. Pak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang awalnya maju sebagai calon gubernur independen, yang akhirnya “diangkat anak” oleh Ibu Megawati sebagai ketum PDI Perjuangan, Bapak Surya Paloh sebagai ketum Partai NasDem, untuk mengamankan posisinya sebagai gubernur petahana, bersama Pak Haji (saya ulangi, Pak Haji) Djarot Saiful Hidayat.


    Kemudian Prabowo Subianto mendelegasikan tugas memimpin Jakarta kepada Anies Rasyid Baswedan, mantan rektor Universitas Paramadina, Mantan Calon Presiden Kovensi Demokrat, Mantan Jubir Pemenangan Capres Jokowi, Mantan Menteri Pendidikan yang hanya satu tahun, dan sekarang mantan idealis yang inkonsisten. Eh buset mantannya banyak bener! Predikat mantan SBY dikalahkan oleh Anies!

    Ring Tinju Pilkada DKI

    Ketiga orang ini diadu di satu ring bernama Pilkada DKI. Awalnya pertandingan ini berlangsung secara handicap (tidak berimbang) lantaran Agus dan Anies bekerjasama untuk menghancurkan Pak Ahok. Namun warga Jakarta berkata lain, Pak Ahok berhasil memenangkan pertandingan di ronde putaran pertama Pilkada DKI, dengan posisi pertama!

    Ketakutan mulai muncul dari kubu Anies Sandi, dengan ketuanya yang pernah disakiti, Pak Prabowo, The Heartbroken Kid. Pak Prabowo mulai gelisah menghadapi ronde putaran kedua Pilkada DKI. Pak Ahok yang tetap tenang, dan seolah tidak takut apapun yang ada di hadapannya, menggetarkan nyali Prabowo. Prabowo tentu merasa tidak adil jika kekalahan kembali ditelan oleh dirinya.
    Kemungkinan antisipasi yang dilakukan oleh kubu Gerindra adalah dengan “menyatakan kemenangan mereka sebelum keputusan ditentukan”. Putaran kedua pilkada DKI belum selesai, ia sudah berkata-kata sesuatu yang sifatnya mengancam.
    “Kalau tidak ada permainan tertentu, Insya Allah Anies dan Sandi akan menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI,” ujar Prabowo
    Logika “cerdas” yang dicetuskan di dalam kalimat tendensius Prabowo saat berpidato di kantor DPP Gerindra, memberikan kesan bahwa jika Anies Sandi kalah, mereka pasti dicurangi.
    Dua kalimat inkonsisten yang dimunculkan oleh Prabowo menunjukkan bahwa sepertinya Prabowo tertular Anies dengan penyakit “inkonsisten”. Premis pertama yang diucapkan Prabowo “Jika tidak curang maka Anies Sandi menang”. Prabowo juga mengatakan premis lain “Siapapun yang menang, asal tidak curang tidak apa-apa”. Lantas kesimpulan yang diambil dari kedua kalimat tersebut bukan Ponens, Tollens, maupun Silogisme, melainkan Inkonsisten!
    “Yang kami waspadai adalah usaha-usaha yang tidak baik. Usaha-usaha curang. Siapapun yang menang, asal tidak curang tidak apa-apa,” ujar Prabowo.
    Aneh kan yang Prabowo katakan?

    Penulis : Hysebastian  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Dualisme Logika “Cerdas” Prabowo: “Kalau Kalah Pasti Dicurangi” V.S. “Siapapun yang Menang, Tidak Apa-Apa” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top